Archive for the ‘IPB’ Category

LAPORAN PRAKTIKUM KEGIATAN PENANAMAN PARE DI LAPANG

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman pare (Momordica charabtia) merupakan tanaman sayuran buah yang memiliki khasiat yang cukup banyak bagi kesehatan manusia. Tanaman pare dapat mengobati berbagai macam penyakit seperti demam, disentri, obat cacing, obat batuk, antimalaria, seriawan, penyembuh luka, dan penambah nafsu makan, bahkan tanaman pare juga berkhasiat untuk menurunkan gula darah.

Tanaman pare mudah dibudidayakan serta tumbuhnya tidak tergantung musim. Sehingga tanaman pare dapat ditemukan tumbuh liar di tanah terlantar, atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. ditanam di lahan pekarangan, atau tegalan, atau di sawah bekas padi sebagai penyelang pada musim kemarau. Melihat khasiat dan kegunaan yang cukup banyak dari tanaman pare serta budidayanya yang tergolong mudah maka budidaya tanaman pare perlu dilakukan. Tanaman pare sudah banyak dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Umumnya, pembudidayaan dilakukan sebagai usaha sampingan.

Tujuan

Tujuan dari kegiatan pratikum ini adalah untuk mengetahui tanaman obat pare dan mengetahui teknik budidaya tanaman obat pare yang baik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman pare (Momordica charabtia) berasal dari kawasan Asia Tropis. Pare tergolong tanaman semak semusim, yang hidupnya menjalar atau merambat, dengan sulur berbentuk spiral. Daunnya tunggal, berbulu, berbentuk lekuk tangan, dan bertangkai sepanjang 10 cm. Bunganya berwarna kuning-muda. Batangnya bermawna hijau,  massif, mempunyai rusuk lima, berbulu agak kasar ketika masih muda, namun setelah tua gundul,. Buahnya buni, bulat telur memanjang, warna hijau, kuning sampai jingga, dan rasanya pahit. Biji keras, warna cokelat kekuningan.

Jenis Pare

Pare Gajih

Pare ini paling banyak dibudidayakan dan paling disukai. Pare ini biasa disebut pare putih atau pare mentega. Bentuk buahnya panjang dengan ukuran 30-50 cm, diameter buah 3 – 7 cm, berat rata-rata antara 200-500 gram/ buah.

Pare Hijau

Pare hijau berbentuk lonjong, kecil dan berwarna hijau dengan bintil-bintil agak halus. Pare ini banyak sekali macamnya, diantaranya pare ayam, pare kodok, pare alas atau pare ginggae. Dari berbagai jenis tersebut paling banyak ditanam adalah pare ayam. Buah pare ayam mempunyai panjang 15 – 20 cm. Sedangkan pare ginggae buahnya kecil hanya sekitar 5 cm. Rasanya pahit dan daging buahnya tipis. Pare hijau ini mudah sekali pemeliharaannya, tanpa lanjaran atau para-para tanaman pare hijau ini dapat tumbuh dengan baik.

Pare Import

Jenis pare ini berasal dari Taiwan. Benih Pare ini merupakan hybrida yang final stock sehingga jika ditanam tidak dapat menghasilkan bibit baru. Jika dipaksakan juga akan menghasilkan produksi yang jelek dan menyimpang dari asalnya. Di Indonesia terdapat tiga varietas yang telah beredar yaitu Known-you green, Known-you no. 2, dan Moonshine. Perbedaan ketiga jenis pare import ini adalah mengenai permukaan kulit, kecepatan tumbuh, kekuatan penampilan, bentuk buah dan ukuran buah.

Pare Belut

Jenis Pare ini memang kurang populer. Bentuknya memanjang seperti belut panjangnya antara 30 -110 cm dan berdiameter 4-8 cm.

Kandungan

Buahnya mengandung albiminoid, karbohidrat, dan zat warna, daunnya mengandung momordisina, momordina, karantina, resin, dan minyak lemak, sementara akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat. Bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid, dan asam momordial.

Tabel 1. Kandungan gizi buah dan daun pare

zat gizi Buah Pare Daun Pare
Air 91,2    g 80,0    g
Kalori 29,0    g 44,0    g
Protein 1,1    g 5,6    g
Lemak 1,1    g 0,4    g
Karbohidrat 0,5    g 120,0    g
Kalsium 45,0 mg 264,0 mg
Zat Besi 1,4 mg 5,0    g
Fosfor 64,0 mg 666,0 mg
Vitamin A 18,0  SI 5,1 mg
Vitamin B 0,08 mg 0,05 mg
Vitamin C 52,0 mg 170,0 mg
Folasin - 88,0 mg

Manfaat

Manfaat buah pare bagi kesehatan manusia adalah :

Ö        Merangsang nafsu makan

Ö        Menyembuhkan penyakit kuning

Ö        Memperlancar pencernaan

Ö        Obat malaria

Selain buah pare, ternyata daun pare juga memiliki manfaat yang tidak kalah dengan buahnya. Manfaat tersebut antara lain:

Ö        Menyembuhkan mencret pada bayi

Ö        Membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan

Ö        Menurunkan panas

Ö        Dapat mengeluarkan cacing kremi

Ö        Menyembuhkan batuk

Syarat Tumbuh

Pare mudah tumbuh di mana saja. Pare dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 1-1.500 m dpl. Tanah yang cenderung asam justru disukainya sehingga tidak perlu dilakukan pengapuran. Pare dapat tumbuh optimal pada pH tanah 5-6. Bila derajat keasamannya dibawah 5, tanaman pare juga masih dapat tumbuh baik.

Tanaman ini tidak memerlukan banyak sinar matahari, sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindung.

Pemeliharaan

Tanaman pare yang berumur 2-3 minggu perlu diberi rambatan. Setiap tanaman diberi bambu. Keempat ujung bambu disambung dengan bambu lain. Tinggi parapara bambu ini sekitar 2 m. Tinggi dan model para-para bisa dimodifikasi sendiri untuk luasan pertanaman yang bcrbeda.

Bunga yang tumbuh terhimpit akan luput dari proses pembuahan. Pemangkasan tanaman pare dilakukan 2 kali. Pertama saat tanaman berumur 3 minggu. Cabang-cabang dipotong dan diarahkan agar tunasnya tumbuh menyebar. Cabang yang menyebar penting untuk produksi buah yang banyak dan merata di setiap percabangan.

Pangkasan berikutnya dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu. Pada saat ini cabang yang tua dan tidak tumbuh lagi dipotong. Selain itu, daun yang tua dibuang, begitu juga cabang yang rusak, patah, atau terkena serangan penyakit. Pembungkusan pare muda dilakukan untuk menjaga kualitas buah, terutama sebagai upaya melindungi buah pare dari serangan lalat buah atau serangga lainnya. Bila terlambat dilakukan, dapat mengurangi kualitas buah yang dihasilkan. Sebagai pembungkus pare, dapat digunakan dedaunan, kertas koran, plastik tipis, ataupun bahan pembungkus lain.

Penutup buah dibiarkan hingga tiba masa panen. Pemupukan Tanaman pare perlu dipupuk agar mampu berproduksi dengan baik. Jenis pupuk yang diperlukan tak hanya pupuk organik, melainkan juga anorganik. Pupuk kandang sebagai pupuk organik diberikan saat pengolahan tanah sebanyak 10-15 ton/ha. Selain itu tambahkan pupuk NPK sebanyak 20 g/lubang tanam atau sekitar 170-200 kg/ha.

Penyiangan gulma dilakukan dengan mencabut atau mengored rumput-rumput liar yang tumbuh di areal penanaman. Karena jarak tanam yang digunakan tergolong lebar, maka gulma akan lebih banyak tumbuh. Itulah sebabnya penyiangan harus rutin, paling tidak seminggu sekali. Sambil melakukan pencabutan rumput lakukan pula pendangiran. Tanah di sekitar pertanaman dibalik dan dikored agar gembur.

Hama dan Penyakit

Hama oteng-oteng atau lembing (Epilachna sparsa) sering menghabiskan daun pare. Hama tersebut dapat daun menghabiskan daun hingga yang tersisa tulang daun beserta jalur-jalur kecil mesofilnya sehingga daun menjadi kering kecokelatan. Bila ini dibiarkan, produksi buah bisa berkurang.

Siput juga dapat menyerang tanaman pare. Tanaman terkoyak-koyak dan rusak. Bila tanaman masih kecil, serangan siput bisa mematikan.

Penyakit yang biasanya menyerang tanaman pare adalah penyakit embun bulu. Daun yang terserang menunjukkan gejala bercak-bercak kuning di bagian atas daun, bagian bawahnya terdapat bulu-bulu berwarna ungu. Penyebabnya adalah jamur Pseudoperonospora cubensis. Serangan hebat dapat menurunkan produksi bahkan mematikan tanaman.

Panen dan Pasca Panen

Pare yang sudah siap untuk dikonsumsi dapat langsung dipanen. Biasanya panen pertama dilakukan 2 bulan setelah tanam. Ciri-ciri pare yang tepat untuk dikonsumsi ialah belum tua benar, bintil-bintil dan keriputnya masih agak rapat, dan alumya belum melebar. Ukuran panjang pare gajih yang layak dikonsumsi sekitar 25-30 cm dan pare hijau 15-20 cm.

Pemetikan pare sebaiknya tidak dengan tangan. Pohon sering ikut tertarik bila dilakukan dengan cara demikian. Sebaiknya pemetikan buah dilakukan dengan pisau atau alat potong lainnya yang tajam. Buah pare gampang lecet sehingga dapat mempengaruhi kualitasnya. Untuk itu, pare disusun tanpa terlalu banyak tumpukan. Hindari pemuatan dalam wadah yang memungkinkan banyak terjadi gesekan. Usahakan selama dalam pengangkutan buah pare tidak terguncang-guncang.

BAB III

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan pratikum ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Babakan University Farm Institut Pertanian Bogor pada  September – Desember 2008.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah 2 varietas benih pare dan pupuk kandang sapi, sedangkan alat-alat yang digunakan adalah alat-alat pertanian pada umumnya.

Metode Pelaksanaan

Setiap kelompok mahasiswa diminta menanam satu komoditi tanaman obat yang kemudian akan diadakan pengamatan setiap minggunya untuk dijadikan data yang akan digunakan untuk pembuatan laporan akhir.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkecambahan

Pada pratikum penanaman tanaman pare dilakukan pengamatan terhadap daya berkecambah benih. Daya kecambah benih yang diperoleh pada pratikum ini adalah 65%. Daya kecambah ini sangat rendah karena pada umumnya daya kecambah tanaman pare tidak kurang dari 90%. Hal ini diduga disebabkan oleh beberapa hal, pertama adalah benih yang digunakan. Benih yang digunakan sebaiknya adalah benih yang bersertifikat karena sudah terjamin kualitasnya. Benih yang kadaluarsa sebaiknya tidak digunakan dalam kegiatan budidaya, karena akan menyebabkan kegagalan dalam budidaya yang dilaksanakan. Namun, dalam penanaman tanaman pare pada pratikum ini diketahui benih yang digunakan sudah kadaluarsa, sehingga menyebabkan banyak benih yang tidak berkecambah dan pada akhirnya menyebabkan daya berkecambah benih semakin kecil.

Kedua adalah kondisi lingkungan saat penanaman benih. Benih akan tumbuh optimum apabila kondisi lingkungannya mendukung. Ketersediaan air saat perkecambahan benih adalah faktor yang sangat menentukan keberhasilan perkecambahan benih. Kondisi air yang cukup akan membuat perkecambahan benih optimal dan juga sebaliknya kondisi air yang kurang akan menyebabkan banyak benih yang gagal berkecambah. Pada saat penanaman benih tanaman pare kondisi lingkungan kering karena sudah beberapa hari tidak hujan, ditambah parah lagi penanaman dilakukan saat hari mulai siang hanya mengandalkan air hujan untu perkecambahannya. Hal ini diduga menyebabkan banyak benih yang gagal berkecambah.

Pertumbuhan Tanaman

Selama pertumbuhan tanaman pare, dilakukan pengamatan terhadap jumlah daun, jumlah cabang, jumlah bunga, dan jumlah buah pare yang dihasilkan. Pertumbuhan daun tanaman pare sangat cepat, hal ini karena memang dikarenakan sifat tanamannya yang merambat. Jumlah daun tanaman pare pada minggu kedua hanya berkisar 1-3 daun, namun pada minggu keenam jumlah daun tanaman pare sudah berkembang sangat banyak menjadi rata-rata 43 daun pertanaman dan terus bertambah banyak lagi pada minggu berikutnya sehingga tidak dilakukan pengamatan daun akibat terlalu banyaknya daun tang tumbuh. Namun sangat disayangkan tidak didapatkan data pertumbuhan jumlah daun pare pada minggu ke 3, 4, dan 5. Sehingga tidak dapat diperoleh waktu optimum pertumbuhan daun tanaman pare. Tanaman pare memiliki cabang primer dan cabang sekunder. Cabang primer tanaman pare pada umumnya berkisar dari 2 – 4 cabang primer. Namun, tanaman ini mempunyai sangat banyak cabang sekunder.

Salah satu indikator keberhasilan dalam budidaya tanaman adalah besarnya produk yang dihasilkan. Pembuahan sangat ditentukan oleh pembungaan tanaman. Pembungaan tanaman pare sudah mulai terlihat semenjak minggu ke enam. Pada minggu ke enam rata-rata jumlah bunga adalah 1 – 2 bunga pertanaman. Pada minggu ke sembilan jumlah bunga yang dihasilkan hanya berkisar 2-3 pertanaman.  Hasil yang rendah ini diduga diakibatkan karena bunga tanaman ini yang mudah jatuh apalagi dengan kondisi cuaca yang berangin dan sering hujan sehingga bunga menjadi lebih mudah rontok. Rendahnya jumlah bunga yang muncul pada akhirnya menyebabkan rendahnya buah pare yang dihasilkan pada minggu ke sembilan jumlah buah yang muncul hanya berkisar 1 – 2 buah pertanaman. Data lengkap pengamatan pare dapat dilihat dari tabel dua.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Pare per 10 tanaman
Objek Pengamatan Minggu
3 6 9
Jumlah Daun 25 433
Jumlah Cabang 14 24 31
Jumlah Bunga 0 14 22
Jumlah Buah 0 4 15

Hasil Panen

Kegiatan panen tanaman pare dilakukan saat tanaman berumur empat bulan. Hasil yang diperoleh pada pratikum ini tidak sampai 1 kg atau tepatnya 2 kuintal per Ha. Hasil ini sangat rendah dibandingkan hasil panen pare pada umumnya yang dapat mencapai 7 kuintal per Ha. Hasil panen tanaman pare dapat dilihat dalam tabel 3. Rendahnya hasil yang diperoleh diduga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu pertama benih yang digunakan dalam penanaman pare sudah kadaluarsa sehingga menyebabkan rendahnya daya kecambah benih dan kualitas pertumbuhan tanaman pare yang ditanam.

Tabel 3. Hasil Panen Tanaman Pare
Tanaman Jumlah Buah Berat Buah Berat Brangkasan
(gram) (gram)
1 3 8 100
2 0 0 52
3 3 0.1 95
4 0 0 0
5 6 20 158
6 4 15 222
7 2 0.05 72
8 1 0.05 129
9 6 26 277
10 1 0.2 123
Total 26,0 69,0 1228,0
Rata-rata 2,6 6,9 122,8
Hasil 1 lahan 30m² 208,0 552,0 9824,0
Hasil 1 Ha 69333,3 184000,0 3274666,7

Faktor kedua adalah teknik budidaya yang digunakan saat penanaman. Pada penanaman pare diperlukan pembuatan ajir dan para-para. Ajir berfungsi sebagai tempat bersendernya tanaman, sedangkan para-para berfungfi sebagai temat bergantungnya buah pare agar tidak menyentuh tanah. Dikarenakan minimnya pengalaman pratikan, hanya dilakukan penyiapan ajir, dan tidak dibuat para-para. Hal ini menyebabkan buah tidak terbentuk optimal yang pada akhirnya menyebabkan rendahnya produksi yang dihasilkan. Selain itu, tidak dilakukannya pemupukkan anorganik pada penanaman tanaman pare menyebabkan rendahnya kualitas dan kuantitas pare yang diperoleh. Pada pratikum ini hanya dilakukan pemupukan pada saat awal penanaman yaitu dengan pupuk kandang sapi. Pada umumnya tanaman pare akan tumbuh baik jika diberikan pupuk urea 30 gram/Ha, TSP 60 gram/Ha, dan KCl 60 gram/Ha.

Selain karena faktor teknik budidaya tidak tepat, kondisi iklim yang tidak mendukung juga menjadi penyebab rendahnya produksi pare yang dihasilkan. Kondisi kering saat penanaman menyebabkan rendahnya benih yang dapat berkecambah. Kondisi iklim yang sering hujan saat tanaman mulai berbunga sampai berbuah menyebabkan banyak bunga yang rontok sehingga gagal berbunga. Kondisi basah dan lembab pun menyebabkan beberapa tanaman terserang penyakit yang menyebabkan tanaman mati.

Faktor terakhir adalah serangan hama dan penyakit pada tanaman. Hama yang menyerang tanaman pare yang ditanam antara lain adalah kumbang aulacophora silimis, kepik leptoglossus ausralis, dan lalat buah. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah penyakit embun tepung. Penanganan terhadapa serangan hama dan penyakit hanya dilakukan secara manual bukan dengan biologi atau kimia sehingga serangan menjadi lebih sulit dikendalikan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Keberhasilan budidaya tanaman pare sangat ditentukan dari penggunaan teknik budidaya yang dipakai, kecermatan dalam melakukan pemeliharaan dan pengendalian, dan sangajuga sangat dipengaruhi oleh benih yang berkualitas.

Perencanaan yang baik, sepertik teknik yang akan digunakan varietas yang akan dipakai, dan waktu penanaman pare akan sangat membantu untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanakan budidaya tanaman pare.

BAB VI

Daftar Pustaka

Dilla. 2008. Khasiat dalam pahit pare. http://sehat.suaramerdeka.com. [11 Desember 2008]

Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. 1996. Usaha tani tanaman pare.

Ipteknet. 2005. Tanaman Obat Indonesia. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=92 [11 Desember 2008]

Ipteknet. 2005. Pare. http://www.iptek.net.id. [11 Desember 2008]

Sianturi. G. 2002. Melawan Wabah diabetes dunia dengan buah pare. http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1025597117,76900, [11 Desember 2008]

LAPORAN PRATIKUM PEMANGKASAN KAKAO

Download pdf Laporan Pratikum Pemangkasan Kakao klik disini…!!!

BAB 1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kehidupan manusia modern saat ini tidak terlepas dari berbagai jenis makanan yang salah satunya adalah cokelat yang berasal dari buah kakao.Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.

Perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an dan pada tahun 2002, areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha dimana sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar swasta. Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik.

Untuk meminimalkan kerugian yang dapat menurunkan produktifitas tanaman kakao dapat dilakukan dengan pemeliharaan tanaman secara intensif yang meliputi pemangkasan, penyiangan, pemupukan, pengairan, dan pemberantasan hama dan penyakit. Pemangkasan pada tanaman kakao merupakan usaha meningkatkan produksi dan mempertahankan umur ekonomis tanaman. Dengan melakukan pemangkasan, akan mencegah serangan hama dan penyakit, membentuk tajuk pohon, memelihara tanaman, dan memacu produksi.

Tujuan

Adapun tujuan dari pemangkasan tanaman kakao adalah membentuk dan mempertahankan habitus pohon yang baik sehingga percabangan tanaman seimbang, dan distribusi daun merata. Selain itu pemangkasan ini bertujuan untuk membuang cabang-cabang yang tidak produktif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kakao (Theobroma cacao L.)

Ordo                : Malvales

Famili              : Sterculiaceae

Genus              : Theobroma

Spesies            : Theobroma cacao L.

Botani

Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10m. Meskipun demikian, dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif.

Bunga kakao, sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya, tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). Bunga sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3cm), tunggal, namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas.

Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama lalat kecil (midge) Forcipomyia, semut bersayap, afid, dan beberapa lebah Trigona) yang biasanya terjadi pada malam hari1. Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari.

Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan). Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki. Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya, dan berbentuk bulat hingga memanjang. Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji. Warna buah berubah-ubah. Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu. Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning.

Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam. Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian disebut pulp. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi. Dalam pengolahan pascapanen, pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari.

Pemangkasan

Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik. Pemangkasan pada tanaman kakao ada beberapa macam yaitu :

a) Pangkas Bentuk, dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris.

b) Pangkas Pemeliharaan, bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya.

c) Pangkas Produksi, bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau.

d) Pangkas Restorasi, memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau dapat dilakukan dengan side budding.

BAB III BAHAN DAN METODE

Bahan

-          Tanaman Kakao Menghasilkan di Kebun Percobaan Cikabayan

Alat

-          Gunting Pangkas 2 buah

-          Gergaji pangkas 2 buah

Metode Pelaksanan

1. Setiap kelompok mendapatkan bagian 10 tanaman kakao

2. Memotong sebagian tajuk yang rimbun di tajuk tanaman dengan memotong ranting-ranting yang terlindung dan yang menaungi.

3. Memotong cabang-cabang yang sakit

4. Memotong cabang-cabang kering

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Waktu yang dibutuhkan : 2 jam

Jumlah Praktikan : 7 orang

Jumlah tanaman yang dipangkas : 10 tanaman

HOK = 2/7 x 1 = 0.28

Pembahasan

Tanaman kakao yang digunakan pada praktikum kali ini adalah  tanaman yang telah berbuah atau biasa disebut tanaman menghasilkan Pemangkasan tanaman kakao dilakukan terhadap cabang sakit, cabang kering, dan cabang terlindung. Jenis pangkasan yang dilakukan adalah pangkas pemeliharaan yang bertujuan untuk mempertahankan bentuk kerangka yang baik dan untuk sanitasi tanaman.

Pemangkasan kakao merupakan salah satu upaya agar laju fotosintesis berlangsung optimal, hasil bersih fotosintesis maksimal dan distribusinya ke organ-organ yang membutuhkan berlangsung lancar. Besarnya intensitas sinar matahari yang diterima daun merupakan salah satu faktor yang menentukan kegiatan fotosintesis, disamping beberapa faktor lainnya seperti penyediaan dan tingkat difusi CO2, status air, dan nutrisis di dalam daun, kandungan klorofil dan sebagai. Fotosintesis tanaman kakao berlangsung optimal pada penyinaran matahari 60% – 80% penyinaran.

Parameter yang erat kaitannya dengan fotosintesis ini adalah Indeks Luas Daun (ILD). Pemangkasan cabang tidak produktif dapat mengatur ILD kakao selalu mendekati titik optimal. Besranya ILD optimal tergantung pada kultivar dan intensitas penyinaran matahari. Nilai optimum pada kakao dan pada tanaman lainnya umumnya berkisar antara 4 – 6. Dengan dilakukan kegiatan pemangkasan ini diharapkan tanaman kakao yang terdapat di Kebun Percobaan Cikabayan akan memiliki pertumbuhan yang lebih baik.

Pada praktikum kali ini terdapat beberapa kendala dalam melakukan pemangkasan. Kendala tersebut antara lain berasal dari  tanaman kakao dan alat yang digunakan, Tanaman kakao yang digunakan adalah tanaman yang kurang terawat sehingga banyak cabang-cabang tumbuh tidak teratur dan saling bersilangan antara cabang tanaman satu dengan cabang tanaman yang lain. Hal tersebut membuat pemangkasan agak sulit dilakukan karena harus memilih cabang mana yang harus dipangkas. Selain itu, letak cabang target yang tinggi dan sulit dijangkau menghambat kegiatan pemangkasan.

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini ada beberapa yang rusak sehingga agak menghambat pelaksanaan kegiatan. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan pun menjadi agak lama.

BAB V DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kakao

http://www.benss.co.cc/budidaya-tanaman/53-kakao.html?start=3

Laporan Kunjungan “MANAJEMEN PRODUKSI DAN PENYIARAN RADIO MEGASWARA 100.8 FM BOGOR”

download pdf Laporan Kunjungan ke Megaswara 100 klik disini..!!!

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Radio merupakan salah satu media yang efektif begi masyarakat karena jangkauannya yang luas dan dapat menembus berbagai lapisan masyarakat. Radio sering ditempatkan sebagai ”sahabat” yang dapat menemani kegiatan sehari-hari para pendengarnya. Selain itu, radio pun dapat berfungsi sebagai alat penghibur, penyampai informasi, dan melaksanakan fungsi pendidikan bagi masyarakat.

Radio Megaswara 100.8 FM merupakan salah satu stasiun radio swasta yang telah lama berdiri di kota Bogor. Radio Megaswara 100.8 FM merupakan salah satu stasiun radio swasta yang sukses. Jangkauan stasiun radio ini meliputi daerah se-JABODETABEK bahkan sampai wilayah Cianjur, Sukabumi, dan Kuningan. Megaswara 100.8 FM terus berkembang dengan pesat sebagai media elektronik (radio). Megaswara 100.8 FM berhasil menduduki posisi jawara di kota Bogor dan meraih peringkat ketiga se-JABODETABEK (survey AC Nielsen 2008).

Keberhasilan suatu stasiun radio, sangat ditentukan oleh manajemen yang dilakukan di stasiun radio tersebut. Manajemen tim kerja, produksi siaran, serta pengaturan keuangan yang baik akan mempu mendukung terbentuknya suatu stasiun radio yang kuat dan besar. Megaswara 100.8 FM merupakan salah satu stasiun radio terbesar pada saat ini, sehingga sangat menarik tentunya mengamati dan mengetahui sistem manajemen yang dilaksanakan di Megaswara 100.8 FM.

2. Tujuan

Pembuatan laporan ini memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, adapaun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan laporan ini adalah:

1.      Mengetahui sistem manajerial di Megaswara 100.8 FM

2.      Mengetahi teknik penyiaran di Megaswara 100.8 FM, dan

3.      Mengetahui sistem keuangan dan pendanaan Megaswara 100.8 FM

TINJAUAN PUSTAKA

1. Radio dan Perkembangannya

Radio merupakan salah satu bentuk media massa yang banyak digunakan masyarakat untuk mengakses informasi. Radio pertama kali ditemukan oleh Marconi pada tahun 1896. pada awalnya radio berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan informasi dan berita ataupun untuk kepentingan kenegaraan secara umum. Radio ublik atau komersil baru muncul pada tahun 1920-an. Sejak itu perkembangannya  berkembang pesat. Radio merupakan sumber informasi yang komleks mulai dari fungsi tradisional, radio sebagai penyampai berita dan informasi, perkembangan ekonomi, pendongkrak popularitas dan kasir, hingga propaganda politik dan ideologi.

Di Indonesia, radio sebagai media yang terkait dengan medium kebutuhan local. Media komunikasi massa yang hanya memiliki skala lokalitas suatu daerah tertentu berbeda dengan televisi dan film yang skalanya nasional.

Perkembangan radio di Indonesia dimulai dari zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, dan zaman orde baru. Radio siaran disebut sebagai “The Fifth Estate” atau memilki lima kekuatan yaitu, fungsi kontrol sosial, memberikan informasi, menghibur, mendidik serta melakukan kegiatan persuasif.

Radio siaran memilki gaya penyiaran sendiri atau yang disebut radio siaran style, yaitu :

  • Imajinatif, pesan yang disampaikan kepada khalayak hanya mengandalkan pendengaran, sehingga menimbulkan imajinasi khalayak, selain itu karena pesan yang disampaikan bersifat selintas maka dapat membangkitkan imajinasi.
  • Audiotori, karena sifat pesan yang ahanya mengandalkan pendengaran, maka harus dikemas sejelas dan semenarik mungkin.
  • Sifat radio yang akrab dan intim karma umumnya radio didengarkan saat kita sedang mengerjakan sesuatu
  • Materi  siaran

Tahun 1960, merupakan era reformasi politik yang muncul suatu peraturan baru  bagi keberadaan  stasiun radio di indonesia yang membatasi dan mengikat radio berbasis kamus dan radio mahasiswa lain.

Pada tahun 1970 radio swasta disahkann oleh pemerintah. Pada tahun 1990 jumlah stasiun radio yang ada di indonesia meningkat, karena perusahaan atau orang konglomerasi banyak yang mendirikan stasiun radio menyiarkan kepentingan mereka.

Radio komunitas mulai berkembang pada tahun 2000. alasan pendirian radio komunitas ialah hanya membutuhkan tekhnologi sederhana, biaya yang murah serta siarannya dapat diajngkau secara gratis.

Radio mudah beradaptasi dan sering dengan kehebatanya menyajikan bentuk siaran “live” (secara langsung), tidak memerlukan pemrosesan film, tidak perlu menunggu proses pencetakan. Bahkan pada saat ini radio digunakan sebagai media pendidikan yang menggunakan konsep dan juga fakta.

2. Siaran Radio

Siaran radio merupakan kombinasi yang menggunakan simbol audio (suara) yang disiarkan dari stasiun pemancar radio dan diterima khalayak melalui pesawat penerima.  Dalam mempersiapkan acara siaran radio harus harus memperhatikan beberapa faktor yang menentukan efektifitasan siaran tersebut, yaitu :

  1. Faktor situasional atau lingkungan
  2. cara atau metode penyampaian
  3. materi siaran itu sendiri

Penyiar radio merupakan seseorang yang bertugas membawakan suatu acara, karenanya seorang penyiar dituntut memiliki keahlian yaitu komunikatif, interaktif, serta kreatif dalam membawakan acara agar acara yang dibawakannya dapat menarik perhatian pendengar. Sikap penyiar yang baik yaitu:

  1. sopan di udara sesuai dengan kebutuhan pendengar
  2. mampu menghargai waktu
  3. tanggung jawab dan rendah hati
  4. tidak menggurui.

Dari segi bahasa dan penuturan seorang penyiar harus memilki vokal yang jelas, pandai memih kata yang relevan dan aktual dengan acar, pandai berimprovisasi, menyesuaikan gaya penyaiaran dengan acara yang dbawakan serta inovatif. Selain itu penyiar juga harus memilki wawasan, yaitu :

  1. memiliki latar belakang sosial pendidikan memadai
  2. bersifat terbuka
  3. menerima kritik
  4. wawasan yang ditampilkan relevan dengan acara yang dibawakan, aktual, serta menyuguhkan informasi segar ke pendengar.

3. Produksi Siaran

Produk siaran merupakan ketrampilam memadukan wawasan kreatif dan kemampuan mengoperasikan peralatan produksi. Produk siaran merupakan hasil produk dari suatu stasiun radio yang merupakan hasil kerja tim sehingga perlu dukungan dan kekompakan.

Program siaran  banyak serta beragam kemasan yaitu :

  1. Berita informasi, dapat berupa siaran langsung dan tunda
  2. Iklan, harus dapat mengandung unsur yang menarik pendengar, berisi informasi, berisi informasi, dorongan untuk berubah, harapan dan
  3. Jinggel ,merupakan gabungan musik dan kata yang mengidentifikasikan kebutuhan stasiun radio
  4. Talk show, merupakan seni berbicara dan wawncara
  5. Infotainment

Keunggulan program siaran radio yaitu:

  1. Materi sesuai pendengar aktual
  2. Kemasan acara interaktif memikat
  3. Penempatan waktu siaran pada jam siar utama
  4. Pembawaan yang kreatif
  5. interaksi/partisipasi pendengar

Program acara yang dibuat harus dikemas semenarik mungkin agar dapat meningkatkan minat khalayak untuk mendengarkannya, syarat program acara yang baik, yaitu:

  1. Sesuai sasaran
  2. Harus utuh
  3. Kemasan bervariasi
  4. Orisini;
  5. Kualitas baik
  6. Bahasa sederhana

Selain memiliki beragam manfaat, radio juga memiliki beberapa kelemahan antara lain :

  1. mudah terganggu oleh cuaca
  2. komunikasinya hanya berlangsung searah
  3. terlalu cepat
  4. kurang autentik
  5. memiliki khalayak yang beragam
  6. tidak mendetail karena komunikasinya hanya disampaikan secara lisan

4. Manajemen Radio

Manajemen adalah rangkaian dari beberapa kegiatan yang dilaksanakan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan / mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain. Pelaku kegiatan manajemen dikenal dengan istilah manajer. Tujuan kegiatan manajemen adalah untuk mengetahui apakah pembangunan dan implementasi kegiatan penyiaran radio dapat direncanaakn, dilaksanankan, dan dikendalikan, sehingga rencana bisnis penyiaran radio dapat dunyatakan layak atau sebaliknya. Fungsi fundamental proses manajemen penyiaran radio adalah perencanaan kegiatan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian penyiaran yang dilaksanakan. Aspek utama dalam kegiatan manajemen penyiaran radio adalah teknik penyiaran radio yang dilaksanakan, pemasaran, keuangan, organisasi, dan lingkungan.

Stasiun radio yang baik pada umumnya memiliki minimal terdapat 3 divisi utama dalam struktur organisasinya, yaitu divisi program, divisiteknis, dan divisi pemasaran. Divisi program bertanggunggung jawab dalam perancangan isi dan produksi siaran. Divisi teknis bertanggung jawab untuk mempersiapkan berbagai saran dan prasarana penunjang untuk kelancaran program siaran. Divisi pemasaran bertanggung jawab terhadapa kelancaran pelaksanaan operasional.

BAHAN DAN METODE

1. Waktu dan Tempat

Kegiatan kunjungan wawancara dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2009 bertempat di kantor Megaswara 100.8 FM di Jalan Surya Kencana, Bogor.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan laporan ini berasal dari kunjungan lapang dan hasil wawancara dengan Manajer HRD Megaswara 100.8 FM, selain itu juga digunakan berbagai studi literatur.

3. Metode Pelaksanaan

1.      Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok

2.      Setiap kelompok melakukan kunjungan lapang ke Megaswara 100.8 FM

3.      Setiap kelompok melakukan wawancara dengan salah satu staf Megaswara 100.8 FM FM.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. ASPEK KHALAYAK

Salah satu indikator keberhasilan stasiun radio adalah banyaknya jumlah masyarakat yang mendengarkan radio tersebut. Oleh karena itu, penentuan segmentasi khalayak akan sangat penting perannya agar stasiuu radio terkait dapat menampilkan atau menyiarkan program-program yang diminati dan diinginkan oleh pendengar.

Secara umum Megaswara 100.8 FM 100,8 FM melakukan segementasi berdasarkan usia. Segmentasi tersebut adalah program untuk remaja (15-19 tahun), dewasa (20-39 tahun), dan orang tua (40 tahun ke atas). Penentuan segmentasi yang seperti ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu pertama: kemudahan dalam pembuatan program. Kedua, cakupannya khalaynya tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas. Tiga, kemudahan dalam mendapatkan umpan balik.    Namun, selain segmentasi yang berdasarkan usia juga dilakukan segmentasi berdasarkan hal-hal lainnya, diantaranya adalah jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan status sosial.

Umpan balik dari pendengar akan sangat membantu stasiun radio dalam membuat program-program yang menarik dimasa yang akan datang. Oleh karena itulah Megaswara 100.8 FM berusaha sebaik mungkin untuk memperoleh informasi mengenai umpan balik dari para pendengar. Berikut adalah beberapa hasil umpan balik dari para pendengar Megaswara 100.8 FM:

  • Berdasarkan usia, Megaswara 100.8 FM didominasi oleh oleh pendengar dari kalangan usia dewasa (20-39 tahun) yaitu sekitar 65% pendengar.
  • Berdasarkan pendidikan, tidak terdapat dominasi untuk pendengar Megaswara 100.8 FM. Namun dapat dikatakan bahwa para pendengar Megaswara 100.8 FM sebagian besar adalah kalangan berpendidikan yaitu >50% adalah SMU dan Akademi
  • Berdasarkan jenis kelamin, pendengar Megaswara 100.8 FM hampir seimbang antara pendengar pria dan wanita
  • Berdasarkan pekerjaan, pendengar Megaswara 100.8 FM didominasi oleh para pelajar dan mahasiswa.
  • Berdasarkan status sosial ekonomi, pendengar Megaswara 100.8 FM adalah masyarakat ekonomi menegah ke bawah.

Hasil yang lebih lengkap dapat dilihat pada halaman data pendengar pada bagian lampiran laporan. Hasil  umpan balik seperti inilah yang dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan-pembuatan program-program siara Megaswara 100.8 FM sehingga mampu menjadi stasiun radio terfavotit peringkat 2 se-JABODETABEK.

2. ASPEK TEKNIK PENYIARAN

Pembahasan mengenai produksi siara di Megaswara 100.8 FM tidak dilakukan pada teknis siaran yang akan dilangsungkan, akan tetapi akan dibahas lebih kepada program-program yang disiarkan oleh Megaswara 100.8 FM.

Megaswara 100.8 FM memiliki berbagai program siaran yang menarik. Program-program tersebut dibuat dan terus diperbaiki berdasarkan umpan balik yang didapat dari para pendengar dan prakiraan pendengar dimasa yang akan datang. Salah satu contoh yang dianggap paling berhasil adalah berubahnya format lagu-lagu yang disiarkan oleh Megaswara 100.8 FM. Sebelum tahun 2004 hampir sebagian besar lagu-lagu yang diputar di Megaswara 100.8 FM adalah lagu dangdut, namun dirasakan karena adanya perkembangan zaman yang juga mempengaruhi perkembangan selera konsumen. Maka Megaswara 100.8 FM mengubah komposisi lagu-lagu yang diputarkan. Dangdut Music, yang pada awalnya sangat mendominasi, sampai saat terakhir data pendengar dikeluarkan berubah hanya menjadi 15 %. Perubahan ini dinilai sangat berhasil karena yang pada awalnya Megaswara 100.8 FM yang hanya merupakan radio lokal dapat berkembang menjadi stasiun radio yang besar, bahkan telah mampu mengembangkan sayapnya keberbagai daerah seperti JABODETABEK, Cianjur, Sukabumi, dan Kuningan.

Program-program Megaswara 100.8 FM bersifat Community-Centered Programming”, yaitu program-program yang dibuat berpusat pada masyarakat. Megaswara 100.8 FM memiliki berbagai program yang menarik, yaitu Bogor Hot Channel, Lipstik, Rest Area, Coffee Break, Indo Fresh Music, dan lain-lain.  Program-program teresebut memiliki ciri khasnya masing-masing sehingga menjadi menarik dan saling melengkapi. (Data program Megaswara 100.8 FM dapat dilihat pada halaman jadwal acara radio pada bagian lampiran).

Selain program-program yang menarik, penempatan waktu program pun sangat menentukan program tersebut. Megaswara 100.8 FM dinilai telah mampu menempatkan program-programnya dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa siarannya, yaitu Bogor Hot Channel yang menyajikan informasi dan layanan masyarakat dilaksanakan pada pukul 06.00-09.00, program Lipstik yang menyajikan segala informasi mengenai wanita disiarkan pada saat Ibu-Ibu rumah tangga sedang santai yaitu pkl 09.00-12.00, Rest Area program yang disiarkan pada saat istirahat siang, dan program-program lainnya.

3. ASPEK ORGANISASI

Struktur organisasi atau tim kerja yang baik akan mampu meningkatkan hasil dan kinerja suatu instansi. Tim kerja Megaswara 100.8 FM dinilai sudah cukup baik karena telah terdapat 3 divisi yang merupakan jumlah minimal divi yang baik. Divisi – divisi tersebut adalah divisi teknis yang mengurusi persiapan teknis siaran, kemudian divisi program dan marketing yang mengurusi bidang program dan iklan , dan divisi keuangan dan SDM yang mengurusi keluar masuknya keuangan di Megaswara 100.8 FM serta mengurusi jumlah, klsifikasi, dan penambahan jumalah tenaga kerja. Adapun struktur organisasi yang terdapat di Megaswara 100.8 FM adalah sebagai berikut

Struktur Organisasi Megaswara 100.8 FM

Disamping struktur diatas juga terdapat  Divisi program seperti penyiar, reporter serta security termasuk karyawan non regular ( tidak bersifat tetap) atau honorer.

Secara umum manejer memiliki peranan yang cukup besar dalam menentukan keberhasilan stasiun radio Megaswara 100.8 FM ini. Seorang menejer memiliki tugas dalam menetapkan sasaran hasil dan rencana, mengorganisasikan agar terjadi keteraturan, memotivasi agar pegawai maksimal dalam melakukan pekerjaan, mengukur dan mengendalikan kinerja agar pencapaian organisasi, kelompok, dan individu terukur (tercipta pengendalian diri), dan mengembangkan kemampuan pegawai melalui pelatihan-pelatihan agar prestasi kerja dapat tercapai dengan baik. Evaluasi mengenai tim kerja dilakukan sebulan sekali. Megaswara 100.8 FM menggunakan pendekatan kekeluargaan dalam mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalamnya. Prestasi kerja secara umum dilihat dari keberhasilan satu acara yang telah dibuat.

4. ASPEK KEUANGAN DAN KERJASAMA

Segala aktivitas Megaswara 100.8 FM sangat terkait dengan adanya pembiayaan aktivitas tersebut. Megaswara 100.8 FM atau yang badan hukumnya adalah PT. Radio Citra Megaswara 100.8 FM memiliki badan hukum perseroan terbatas. Oleh karena itu, sumber biaya investasi berdirinya Megaswara 100.8 FM berasal dari orang-orang yang duduk sebagai dewan komisaris perusahaan. Sedangkan Biaya operasional Megaswara 100.8 FM, semuanya berasal dari iklan dan sponsor.

Iklan-iklan yang menjadi sumber pemasukan Megaswara 100.8 FM sebagian besar adalah produk-produk yang biasa dikonsumsi oleh khalayak ekonomi menengah kebawah seperti bodrek, makanan, minuman, dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan radio-radio besar lainnya seperti Mustang dan Prambors yang sumber pendanaannya berasal dari produk-produk untuk kalangan menengah ke atas. Namun, hal inilah yang menjadi keuntungan tersendiri untuk Megaswara 100.8 FM. Karena walaupun nominal yang diperoleh tidak terlalu besar, namun memiliki tingkat kintinuitas yang tinggi.

Besarnya nilai yang harus diberikan untuk iklan sebagian besar dibagi menjadi 2 kategori, yaitu iklan pada saat promi time dan iklan pada jam-jam biasa. Untuk lebih detail mengenai tarif pemasangan iklan di Megaswara 100.8 FM, dapat dilihat pada Rate Card pada lampiran.

Megaswara 100.8 FM banyak melakukan kerja sama untuk terus berkembang. Kerja sama yang sering dilakukan antara lain adalah kerja sama dengan pemerintah terutama mengenai perizinan, pelegalan, dan informasi dari pemerintah untuk masyarakat. Selain itu ada juga kerja sama dengan masyarakat yang umumnya  terkait dalam program layanan masyarakat, dan yang tidak kalah pentingnya adalah kerja sama dengan perusahaan swasta yaitu terkait promosi, tempat penyiaran, dan lain-lain. Kerjasama yang baik ini sangat membantu Megaswara 100.8 FM untuk terus berkembang untuk mewujudkan cita-citanya guna menjadi stasiun radio no 1 di Indonesia.

KESIMPULAN DAN SARAN

Stasiun Megaswara merupakan salah salah satu stasiun radio besar di JABODETABEK dan sekitarnya. Manajemen yang baik menjadi faktor kunci utama dalam keberhasilan Megaswara 100.8 FM menjadi stasiun terfavorit no 2 se-JABODETABEK. Perbaikan terus-menerus dalam pelaksanaan manajemen menjadi faktor kunci dalam pelaksanaan manajemen penyiaran radio. Terdapat 4 aspek minimal dalam manajemen stasiun radio yang harus diperhatikan, yaitu aspek khalayak, aspek penyiaran, aspek organisasi atau tim kerja, dan aspek keuangan dan kerja sama.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim], 2008. Sejarah Perkembangan Radio. http://lilikzone.co.cc/?p=6.  [26 Januari 2008]

Hapsari, D. R. 2007. Peranan radio siaran dalam pengembangan masyarakat. Skripsi.. Institut Pertanian Bogor.

Handoko, T. H. 2000.  Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi.  Edisi I. BPFE. Yogyakarta. 463 hal

Jubido, B. K. U. 2007. Persepsi mahasiswa terhadap mutu siaran radio agri fm di Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Nasoetion, A. H. 2007.  Pengantar Ilmu-ilmu Pertanian.  PT Pustaka Litera AntarNusa.  Bogor. 178 hal.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit.  1994.  Pengantar Manajemen Perkebunan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit.  Medan. 142 hal.

Rimadias, S. 2005. pola mendengarkan siaran radio kissi 93,4 fm dan pegaruhnya terhadap perilaku remaja. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Riyanto, S, Richard W.E.L, dan Hadiyanto. 1991. Penyisipan penyiaran informasi pertanian dalam acara hiburan siaran radio di DAS Citanduy, Jawa Barat.

Umar H. 2003.  Studi Kelayakan Bisnis.  Edisi 2.  PT Gramedia Pustaka Utama.  Jakarta. 462 ha

Analisis Meiosis pada Tanaman Lili

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Stadium haploid dari siklus seksual dihasilkan dari proses pembelahan inti yang disebut meiosis.  Meiosis berlangsung pada sel-sel yang terdapat di dalam jaringan reproduksi pada suatu organisme.  Seperti halnya dengan mitosis, meiosis berlangsung setelah fase G1, S dan G2 dari interfase dan menentukan distribusi kromosom yang tepat ke dalam sel-sel anak.  Pembelahan meiosis  akan menghasilkan 4 sel anak yang memiliki jumlah kromosom hanya setengah dari kromosom tetuanya. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar jumlah kromosom individu tetap dari generasi ke generasi (Sastrosumarjo, 2006).

Pembelahan meiosis lebih kompleks dibandingkan pembelahan mitosis, karena terjadi dua kali siklus pembelahan. Pada meiosis terjadi perpasangan kromosom homolog dan segregasi kromosom secara bebas. Pembelahan pertama dari meiosis disebut pembelahan reduksi.  Meiosis pertama mengubah inti dari suatu meiosit yang mengandung kromosom diploid menjadi inti haploid yang mengandung kromosom n.  Jumlah kromosom direduksi saat pasangan kromosom homolog terpisah.  Pembelahan kedua disebut equation devision atau meiosis kedua.  Miosis kedua mengubah dua hasil dari pembelahan meiosis pertama menjadi 4 inti haploid.

Lili merupakan salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan. Tanaman lili biasa digunakan sebagai tanaman hias, baik sebagai tanaman lanskap ataupun bunga potong. Tanaman lili memiliki ukuran kromosom yang cukup besar, sehingga cukup mudah untuk diamati.

Tujuan

Tujuan dari dilaksakannya pratikum ini adalah untuk mempelajari tahapan – tahapan meiosis tanaman lily di bawah mikroskop.

TINJAUAN PUSTAKA

Pembelahan meiosis terdiri dari tahap, yaitu meiosis I dan meiosis II. Meiosis I dapat dibedakan lagi menjadi interfase I, profase I, metafase I, anafase I, dan telofase I. Meiosis II juga dibedakan atas interfase II, profase II, metafase II, anafase II, dan telofase II. Pembelahan meiosis ini merupakan proses yang dinamis, tidak terputus – putus, dan tidak terdapat batas yang kelas antar setiap fasenya.

Meiosis I

Sebelum memasuki meiosis I, terlebih dahulu terjadi interfase. Interfase I pada meiosis I sama dengan interfase pada mitosis, yaitu terjadi sintesis dan replikasi DNA serta terjadi pembentukkan protein – protein yang bermanfaat untuk tahap – tahap setelahnya. Tahap – tahap pada meiosis I adalah:

Profase I

Sebagian besar perbedaan antara mitosis dan meiosis terdapat pada fase ini. Profase I pada meiosis menghabiskan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan profase pada mitosis. Profase I ini dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan. Profase I terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

a. Leptoten

Pada tahap ini, kromosom terlihat seperti benang – benang halus yang panjang, sehingga masing – masing kromosom belum dapat dikenali secara jelas. Benang – benang kromosom yang halus tersebut disebut kromonema. Pada fase ini, struktur kromosom yang dapat terlihat lebih jelas adalah kromomer. Kromomer adalah penebalan yang terjadi pada beberapa bagian kromososm yang tampak seperti manik – manik. Pada fase ini pasangan – pasangan kromatid belum dapat dibedakan.

b. Zigoten

Pada fase ini, mulai terjadi perpasangan antara kromosom yang homolog, sehingga alel – alel akan berhadapan letaknya dan tidak berjauhan seperti pada leptoten. Proses saling berpasangan antara kromosom homolog disebut sinapsis. Namun, sinapsis ini akan lebih jelas terlihat pada fase selanjutnya (pakiten).

c. Pakiten

Fase ini merupakan fase yang paling lama pada profase I ini. Benang – benang kromosom tampak semakin jelas dan perpasangan serta sinapsis antara kromosom homolog semakin dekat dan sempurna. Benang – benang kromosm terlihat double. Hal ini karena setiap pasang kromosom yang homolog terdiri dari dua buah kromatid. Sehingga pada fase ini, terlihat sejumlah perpasangan bivalen yang jumlahnya sama dengan jumlah kromosom haploid dari individu tersebut. Jumlah kromatid pada fase meiosis ini sama banyaknya dengan jumlah kromatid pada profase mitosis. Yang membedakan adalah distribusi kromosom – kromosomnya. Pada profase mitosis, kromosom – kromosom saling terpisah dan tidak berhubungan, sedangkan pada profase I meiosis kromosom – kromosomnys saling berpasangan secara bivalen  Adanya sinapsis yang sempurna pada fse ini memungkinkan terjadinya pertukaran genetik antar kromosom homolog atau antar kromosom yang bukan homolognya (pindah silang / crossing over).

d. Diploten

Fase ini ditandai dengan mulai memisahnya kromatid – kromatid yang tadinya berpasangan secara bivalen. Pemisahan yang paling kuat, terjadi pada bagian sentromer. Akan tetapi, pada bagian – bagian tertentu dari kromosom homolog masih tetap saling berdekatan. Bagian – bagian yang saling berdekatan dan tampak bersilang ini disebut kiasma (banyak : kiasmata) (gambar 4). Pada kiasma tersebut, kromatid – kromatid yang tidak homolog (“nonsister chromatid”) akan putus. Kemudian, ujung – ujung dari kromatid yang putus tadi akan bersambungan secara resiprok (berbalasan). Hal ini menyebabkan gen – gen yang terangkai pada segmen kromatid tersebut akan bertukar secara resiprok juga. Proses tertukarnya segmen – segmen nonsister kromatid dari pasangan kromosom homolognya yang disertai tertukarnya gen – gen yang terangkai pada segmen – segmen tersebut secara resiprok dinamakan pindah silang (crossing over).

Proses pindah silang ini sangat penting karena akan menghasilkan kombinasi – kombinasi yang baru (tipe rekombinasi) yang bermanfaat bagi pemuliaan tanaman. Kromatid – kromatid yang tidak mengalami pindah silang masih memiliki gen – gen yang berasal dari tetuanya. Gamet – gamet yang menerima kromatid yang tidak mengalami pindah silang tersebut disebut gamet tipe parental.

Gambar 8. Kiasma pada Diploten

e. Diakinesis

Fase ini merupakan fase terakhir pada profase I meiosis. Kromosom – kromosom mengalami kondensasi maksimum dan kiasma semakin jelas terlihat. Pada fase ini, nukleolus dan membran nukleus menghilang, dan benang – benang gelendong mulai terbentuk.

Metafase I

Pada fase ini, hampir sama dengan metafase mitosis. Kromosom – kromosom menempatkan dirinya di tengah – tengah sel, yaitu di bidang equator dari sel. Namun, terdapat perbedaan antar metafase I meiosis dengan metafase mitosis. Pada metafase mitosis, yang terdapat pada bidang equator adalah kromosom – kromosom tunggal. Sedangkan pada metafase I meiosis, yang terdapat pada bidang equator adalah pasangan – pasangan kromosom homolog sehingga pada metafase I meiosis tidak terjadi pembelahan sentromer.

Anafase I

Sama halnya dengan yang terjadi pada anafase mitosis, anafase I meiosis dimulai ketika kromosom bergerak ke kutub yang berlawanan. Tiap kromosom dari pasangan kromosom homolog bergerak ke arah kutub yang berlawanan. Masing – masing kutub menerima setengah jumlah kromosom yang ada, sehingga pada fase inilah dimulai terjadinya reduksi kromosom.

Cara pergerakkan kromosom homolog ke arah kutub yang berlawanan oleh benang gelendong terjadi secara bebas dan kebetulan, tidak ada yang memerintahkan untuk suatu kromosom bergerak ke atas atau ke bawah. Hal ini sesuai dengan hukum mendel yang terkenal, yaitu “The law of segregation of allelic genes” dan “The law of independent assortment of genes”. Sebagai contoh, jika terdapat alel dominan (A) dan alel resesif (a). Maka, mereka akan memisah secara bebas ke kutub yang berlawanan menjadi (A) atau (a). Hal yang sama juga terjadi pada alel dominan (B) dan alel resesif (b) yang akan memisah secara bebas menjadi (B) atau (b). Maka, kombinasi antar keduanya akan terbentuk AB, Ab, aB, atau ab.

Telofase I

Pada fase ini, dinding nukleus dan nukleolus terbentuk kembali seperti pada telofase mitosis. Akan tetapi, pada telofase meiosis, jumlah kromosom haploid lah yang terdapat pada nukleus yang baru ini. Pada masing – masing  nukleus yang baru ini terdapat dua kromosom yang haploid yang terdiri dari empat kromatid. Sehingga menandakan bahwa reduksi jumlah kromosom masih belum berlangsung sempurna. Agar dapat tercapai reduksi yang sempurna, maka diperlukanlah pembelahan meiosis II.

Meiosis II

Apabila dilihat dengan mengguinakan mikroskop cahaya, maka terdapat dugaan bahwa berbagai fase yang berlangsung pada meiosis II ini sama dengan berbagai fase yang terjadi selama mitosis. Bahkan ada orang yang memiliki anggapan bahwa meiosis II adalah pembelahan mitosis. Anggapan yang demikian tidak benar sama sekali dikarenakan beberapa alasan, yaitu:

a.       Kromosom yang double pada profase mitosis merupakan hasil duplikasi dari bahan genetik selama interfase. Sedangkan kromosom yang terlihat dauble pada profase II meiosis bukan merupakan hasil duplikasi bahan genetik.

b.      Kromosom – kromosom yang menyusun kromosom mitosis adalah sister chromatic, sehingga merupakan kromatid yang identik. Sedangkan kromosom yang menytusun kromosom profase II meiosis bukan merupakan sister chromatic sempurna oleh karena adanya crossing over yang terjadi pada meiosis I.

c.       Meiosis II bertujuan untuk memisahkan kromatid – kromatid yang berbeda dari tiap kromosomnya

d.      Meiosis II menghasilkan reduksi yang sempurna

e.       Meiosis II menghasilkan kombinasi yang baru yang dari gen – gen yang berasal tetua jantan dan betina pada generasi sebelumnya

f.       Meiosis II sangat penting untuk proses seksual

Profase II

Fase ini dapat dimulai setelah selesainya interfase I yang berlangsung sangat pendek. Pada beberapa organisme bahkan tidak mengalami interfase, sehingga dari telofase I langsung dilanjutkan ke profase II, dan kadang – kadang juga terjadi dari telofase I langsung ke metafase II.

Metafase II

Pada fase ini, kromosom yang terdiri dari dua kromatid berada di bidang equator.  Benang – benang gelendong yang berasal dari masing – masing kutub mengikat sentromer masing – masing kromatid. Keadaan kromosom pada metafase II meiosis hampir mirip pada keadaan kromosom pada metafase mitosis, akan tetapi dengan jumlah kromosom yang hanya setengahnya saja.

Anafase II

Pada fase ini, sentromer terbelah menjadi dua. Masing – masing kromatid tertarik oleh benang – benang gelendong ke kutub yang berlawanan. Pada saat inilah terjadi reduksi kromosom yang sebenarnya, sehingga reduksi kromosom saat ini sudah sempurna. Bergeraknya kromatid ke arah kutub yang berlawanan ini seperti yang terjadi pada anafase mitosis, namun dengan jumlah kromosom yang hanya setengahnya saja.

Telofase II

Pada fase ini terjadi pembelahan sel, sehingga dihasilkan empat sel anak yang haploid (n), yang disebut juga tetrad. Setiap inti dari sel – sel tersebut memiliki hanya setengahnya saja dari jumlah kromosom tetuanya. Pada fase ini pula, terbentuk kembali nukleolus dan membran nukleus. Membran nukleus mengelilingi ke empat inti hasil pembelahan. Kromosom pun mulai mengendur kembali. Setelah itu, terjadi modifikasi lebih lanjut untuk menghasilkan sel gamet. Proses pembelahan meiosis secara lengkap dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 9. Pembelahan Meiosis

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pratikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 9 November 2010 di Lab Microtechnique Departemen AGH, FAPERTA, IPB.

Bahan dan Alat

Bahan – bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • HCl 1 N
  • Aceto orcein 2%
  • Calon polen tanaman lili

Alat – alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • Mikroskop
  • Silet
  • Cawan petri
  • Pinset
  • Gelas objek
  • Gelas penutup
  • Bunsen
  • Pensil dengan ujung berpenghapus
  • Tisu

Metode Pelaksanaan

  • Keluarkan sel induk megaspora dari bunga lili
  • Letakan bagian tersebut di atas gelas objek
  • Teteskan dengan aceto orcein 2%, dan diamkan selama 10-15 menit
  • Lewatkan preparat di atas api bunsen 2 – 3 kali
  • Squash dengan pensil berkaret, kemudian tekan dengan ibu jari
  • Amati dibawah mikroskop
  • Lakukan pemotretan jika didapat penyebaran yang baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Metode yang digunakan dalam pengamatan meiosis pada bunga lili adalah metode tanpa larutan former atau larutan fiksatif, karena bunga lili yang digunakan masih segar, baru dipetik. Penggunaan bunga lili karena mempunyai ukuran kromosom yang besar, sehingga akan mempermudah dalam pengamatannya.

Pemilihan umur mikrospora yang tepat sangat penting, karena akan berpengaruh terhadap fase-fase yang dapat diamati pada meiosis. Jika terlalu tua, maka proses meiosis sudah terlewat sehingga tidak dapat diamati secara detail. Apabila terlalu muda, maka proses meiosis belum terjadi (gambar 11).

Gambar 10. Mikrospora Lili yang Digunakan untuk Pengamatan Meiosis

Meiosis I, disebut juga pembelahan reduksi, karena mengubah inti dari suatu meiosit yang mengandung kromosom diploid (2n) menjadi inti haploid yang mengandung kromosom n.

Profase I, kromosom homolog saling berpasangan atau synapsis. Terbentuk kiasma, dan terjadi pindah silang.

Gambar 11. Profase I

Metafase I, pada fase ini apparatus spindel terbentuk seperti pada mitosis, dan tetrad berkumpul pada bidang ekuatorial atau bidang pembelahan atau lempeng metafase.  Kromosom masih dalam pasangan homolognya. Mikrotubula kinetokor dari masing-masing kutub sel melekat pada satu kromosom, sementara itu mikrotubula dari kutub berlawanan menempel pada homolognya pada daerah sentromer.

Gambar 12. Metafase I

Anafase I, seperti pada mitosis, alat gelendong menggerakkan kromosom ke arah kutub sel, akan tetapi kromatid saudara tetap terikat pada sentromernya dan bergerak sebagai satu unit tunggal ke arah kutub yang sama.  Kromosom homolog bergerak ke arah kutub yang berlawanan.  Berbeda dengan mitosis, kromosom muncul sendiri-sendiri pada lempeng metafase dan bukan dalam pasangan, dan gelendong memisahkan kromatid saudara dari masing-masing kromosom. Dengan kata lain pada meiosis anafase I, kromosom homolog (bukan kromatid saudara) dari setiap tetrad terpisah satu dengan yang lain, dan bergerak ke kutub gelendong (spindle) yang berlawanan.

Telofase I menghasilkan pembelahan miosis I.  Kumpulan kromosom homolog pada akhirnya dipisahkan menuju  kutubnya masing-masing dan terbentuk dua daerah inti yang dapat dibedakan secara jelas.

b

a

Gambar 13. a. Anafase I    b. Telofase I

Interkinesis adalah periode di antara akhir telofase I dan awal profase II.  Periode ini biasanya sangat singkat.  DNA yang dihasilkan dari dua inti pada pembelahan meiosis pertama tidak mengalami replikasi selama fase interkinesis. Selanjutnya meiosis II mengalami siklus yang sama pada proses pembelahan sel mitosis.

Pengamatan terhadap pembelahan meiosis I diperlukan ketelitian, karena kromosom yang diamati dalam keadaan berpasangan secara homolog, tidak seperti pembelahan mitosis yang perilaku kromosomnya lebih mudah diamati karena tanpa perpasangan kromosom homolog.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan terhadap pembelahan meiosis pada bunga Lilium sp, meiosis I dapat diamati fase-fasenya secara lengkap yaitu profase I, metafase I, anafase I dan telofase I. Tetapi meiosis II yang secara teori mirip dengan mitosis tidak dapat diamati fase-fasenya secara lengkap.

Saran

Pada praktikum selanjutnya, mungkin akan lebih baik, apabila juga disediakan preparat meiosis I dan meiosis II awetan yang fase-fasenya lengkap. Sehingga, apabila saat praktikum tidak diperoleh preparat segar yang lengkap fase-fasenya, maka dapat mengamati pada preparat awetan.

DAFTAR PUSTAKA

Sastrosumarjo, S., Yudiwanti, S. I. Aisyah, S. Sujiprihati, M. Syukur, R. Yunianti. 2006. Panduan laboratorium, hal. 261. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.) Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor

Sastrosumarjo, S. 2006. Panduan laboratorium, hal. 38 – 63. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.) Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor.

Suryo, H. 2007. Sitogenetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 446 hal.

Analisis Kariotipe Kromosom Ujung Akar Tanaman Bawang Merah dan Tembakau

download pdf lengkap analisis kariotipe klik disini…!!!

ANALISIS KARIOTIPE UJUNG AKAR BAWANG MERAH DAN TEMBAKAU

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Analisis kariotipe merupakan gambaran suatu individu atau grup individu yang berkerabat yang ditunjukan oleh bentuk morfologi dan jumlah kromosom Sastrosumarjo (2006). Okumus dan Hassan (2005) menjelaskan bahwa analisis kariotipe sangat penting dalam identifikasi dan desain kromosom hewan dan tumbuhan.

Pengaturan ukuran set pada fotograf dari pita-pita kromosom dapat digunakan untuk melihat penyusunan kromosom. Analisis secara fisik dapat juga dilihat gambaran mikroskopis kromosom kelamin dan kromosom tubuh pada metafase dari proses mitosis (Supriharti 2007). Analisis citra kromosom juga dapat digunakan dalam analisis kariotipe (Sarosa, 2008). Supriharti (2007) menjelaskan bahwa ada dua gambaran kromosom set dari suatu spesies yaitu: (a) Karyogram, merupakan fotomikrograf kromosom dari gambaran tunggal sel somatis metafase yang dipotong dan disusun pada bagian homolog berdasarkan ukurannya. (b) Idiogram, merupakan grafik gambaran dari karyotipe. Secara umum, idiogram merupakan sediaan yang memperlihatkan komplemen kromosom haploid dari suatu spesies, yang mana idiogram ini merupakan ukuran dari kromosom somatis metafase.

Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi (deptan, 2005). Bawang merah pun sangat menolong dalam mempelajari analisis mitosis karena memiliki kromosom yang besar, jumlah kromosom yang tidak terlalu banyak, mudah didapatkan, dan mudah dilakukan (Stack, 1979)

Tembakau merupakan salah satu komoditi pertanian yang cukup pening di Indonesia (Abdulah, 2010). Hal ini dikarenakan, tanaman ini merupakan bahan baku utama dalam pembuatan rokok, sehingga banyak petani yang membudidayakan tanaman ini (Prabowo, 2007). Tanaman ini mempunyai jenis yang beragam (Maulidiana, 2008), sehingga penting untuk mengidentifikasi tanaman ini agar tidak terjadi kesalahan saat produksi untuk industri rokok. Analisis kariotipe, merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan dalam identifikasi tersebut.

Tujuan

Tujuan dari dilakukannya pratikum ini adalah:

1.      Mengetahui ukuran kromosom tanaman bawang merah dan tembakau

2.      Membuat kariotipe tanaman bawang merah dan tembakau

3.      Membuat idiogram tanaman bawang dan tembakau

TINJAUAN PUSTAKA

Kromosom Tanaman

Kromosom adalah suatu struktur makromolekul yang berisi DNA di mana informasi genetik dalam sel disimpan. Kata kromosom berasal dari kata khroma yang berarti warna dan soma yang berarti badan Kromosom terdiri atas dua bagian, yaitu sentromer / kinekthor yang merupakan pusat kromosom berbentuk bulat dan lengan kromosom yang mengandung kromonema & gen berjumlah dua buah (sepasang). Sastrosumarjo (2006) menjelaskan bahwa kromosom merupakan alat transportasi materi genetik (gen atau DNA) yang sebagian besar bersegregasi menurut hukum Mendel, sedangkan Masitah (2008) menjelaskan bahwa kromosom adalah susunan beraturan yang mengandung DNA yang berbentuk seperti rantai panjang.

Setiap kromosom dalam genom biasanya dapat dibedakan satu dengan yang lainnya oleh beberapa kriteria, termasuk panjang relatif kromosom, posisi suatu struktur yang disebut sentromer yang memberi kromosom dalam dua tangan yang panjangnya berbeda-beda, kehadiran dan posisi bidang (area) yang membesar yang disebut knot (tombol) atau kromomer. Selain itu, adanya perpanjangan arus pada terminal dan material kromatin yang disebut satelit, dan sebagainya (Suprihati, et al, 2007).

Analisis Kariotipe

Analisis kariotipe merupakan pengaturan secara standar berdasarkan jumlah, panjang, serta bentuk kromosom dari sel somatik dan sel kelamin (Supriharti, 2007). Kariotipe merupakan penciri spesies. Sastrosumarjo (2006) menjelaskan bahwa secara umum kariotipe dapat digunakan untuk: 1) Alasan taksonomi yang berhubungan dengan klasifikasi, 2) Analisis galur substitusi dari monosomik atau polisomik, dan 3) Studi reorganisasi kromosomal.

Pengaturan ukuran set pada fotograf dari pita-pita kromosom dapat digunakan untuk melihat penyusunan kromosom. Analisis secara fisik dapat juga dilihat gambaran mikroskopis kromosom kelamin dan kromosom tubuh pada metafase dari proses mitosis (Supriharti 2007). Analisis citra kromosom juga dapat digunakan dalam analisis kariotipe (Sarosa, 2008). Supriharti (2007) menjelaskan bahwa ada dua gambaran kromosom set dari suatu spesies yaitu: (a) Karyogram, merupakan fotomikrograf kromosom dari gambaran tunggal sel somatis metafase yang dipotong dan disusun pada bagian homolog berdasarkan ukurannya. (b) Idiogram, merupakan grafik gambaran dari karyotipe. Secara umum, idiogram merupakan sediaan yang memperlihatkan komplemen kromosom haploid dari suatu spesies, yang mana idiogram ini merupakan ukuran dari kromosom somatis metafase.  Sastrosumarjo (2006) menjelaskan  bahwa idiogram disusun, pertama – tama dimulai dari kromosom SAT yang kemudian disusun berdasarkan panjang satelit. Setelah itu, dilanjutkan dengan menyusun berdasarkan panjang lengan pendeknya.

Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum L) dan Tembakau

Bawang merah (Allium ascalonicum L) merupakan salah satu anggota dari familia Liliaceae. Tanaman ini merupakan tanaman semusim dan memiliki umbi yang berlapis. Tanaman mempunyai akar serabut, dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis. Umbi bawang merah terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Umbi bawang merah bukan merupakan umbi sejati seperti kentang atau talas. Klasifikasi bawang merah secara jelas, dapat dilihat di bawah ini:

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas: Liliidae

Ordo: Liliales

Famili: Liliaceae (suku bawang-bawangan)

Genus: Allium

Spesies: Allium cepa var. aggregatum L.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif . Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Deptan, 2005). Anwar dan Iriani, menambahkan bahwa bawang merah juga merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan di Jawa Tengah yang mempunyai prospek cukup baik dalam pengembangan agibisnis. Hal ini dapat dilihat pada status usahataninya, oleh petani khususnya di daerah sentra produksi seperti di Kabupaten Brebes bawang merah telah lama diusahakan sebagai usahatani yang bersifat komersial.

Tembakau merupakan tanaman yang termasuk dalam family Solanaceae. Tanaman ini dapat tumbuh sampai dengan 3 m. Daun tanaman tembakau berbentuk bulat lonjong (oval) atau bulat, tergantung pada varietasnya. Daun yang berbentuk bulat lonjong ujungnya  meruncing, sedangkan yang berbentuk bulat, ujungnya tumpul. Daun memiliki tulang-tulang menyirip, bagian tepi daun agak bergelombang dan licin. Lapisan atas daun terdiri atas lapisan palisade parenchyma dan spongy parenchyma pada bagian bawah. Jumlah daun dalam satu tanaman sekitar 28- 32 helai. Berikut adalah klasifikasi tanaman tembakau:

Klass               : Dicotyledonaea
Ordo                : Personatae
Famili               : Solanaceae
Sub Famili        : Nicotianae
Genus               : Nicotianae
Spesies            :Nicotiana tabacum L.

Tanaman tembakau merupakan tanaman berakar tunggang yang tumbuh tegak ke pusat bumi. Akar tunggangnya dapat menembus tanah kedalaman 50- 75 cm, sedangkan akar serabutnya menyebar ke samping. Selain itu, tanaman tembakau juga memiliki bulubulu akar. perakaran akan berkembang baik jika tanahnya gembur, mudah menyerap air,dan subur.

Tanaman Tembakau memiliki bentuk batang agak bulat, agak lunak tetapi kuat, makin ke ujung, makin kecil. Ruas-ruas batang mengalami penebalan yang ditumbuhi daun, batang tanaman bercabang atau sedikit bercabang. Pada setiap ruas batang selain ditumbuhi daun, juga ditumbuhi tunas ketiak daun, diameter batang sekitar 5 cm.

Tembakau merupakan salah satu komoditi pertanian yang cukup pening di Indonesia (Abdulah, 2010). Hal ini dikarenakan, tanaman ini merupakan bahan baku utama dalam pembuatan rokok, sehingga banyak petani yang membudidayakan tanaman ini (Prabowo, 2007). Tanaman ini mempunyai jenis yang beragam (Maulidiana, 2008), sehingga penting untuk mengidentifikasi tanaman ini agar tidak terjadi kesalahan saat produksi untuk industri rokok. Analisis kariotipe, merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan dalam identifikasi tersebut.

Kromosom Bawang dan Kromosom Tembakau

Kromosom antar tanaman berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Baik dari bentuk, jumlah, dan panjangnya. Allium cepa memiliki jumlah kromosom 2n = 16 (Sastrosumarjo, 2006). Hal ini sangat membantu dalam  mempelajari analisis mitosis pada tanaman, karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak. Selain itu, kromosom allium cepa sering digunakan untuk mempelajari analisis mitosis juga karena ia memiliki ukuran kromosom yang besar dan cukup mudah untuk dibuat preparatnya (Stack, 1979).

Tanaman tembakau memiliki kromosom yang lebih kecil dan lebih banyak dibandingkan dengan kromosom bawang merah. Niizeki (1975) menjelaskan bahwa Nicotiana tabacum memiliki jumlah kromosom 2n = 4x = 48, sedangkan N. sylvestris dan N. glutinosa memiliki jumlah kromosom 2n = 2x 24. Wang and Chen (1988) menambahkan bahwa Nicotiana otophora yang merupakan spesies liar tanaman tembakau namun dekat dengan N. tabacum memiliki jumlah kromosom 2n = 2x = 24.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pratikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 23 November 2010 di Lab Microtechnique, Departemen AGH, FAPERTA, IPB

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • Foto kromosom bawang merah dan tembakau yang sudah diperbesar

Alat – alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • Alat ukur (mistar) dan Benang

Metode Pelaksanaan

  • Perbesar foto preparat kromosom dengan menggunakan mesin fotokopi kemudian diperbanyak beberapa kali
  • Tandai setiap kromosom dengan nomor yang berbeda Gunting tiap kromosom berdasarkan nomor yang telah diberikan
  • Ukurlah lengan panjang dan lengan pendek kromosom. kemudian, hitung panjang total kromosom dan rasio antara lengan panjang dan pendek.
  • Tempatkan data tentang panjang total dan rasio panjang lengan dari setiap kromosom pada diagram pencar (scatter plot), dengan sumbu X = rasio lengan panjang dan lengan pendek; sumbu Y = panjang total kromosom
  • Pasangkanlah kromosom yang terletak berdekatan pada diagram pencar tersebut
  • Urutkan pasangan kromosom berdasarkan panjang total kromosom dari yang terbesar sampai yang terkecil dan rasio panjang lengan dari yang terkecil sampai yang terbesar. Panjang total dan rasio panjang lengan dari sepasang kromosom merupakan nilai rata – rata dari kedua kromosom.
  • Tentukan tipe kromosom dengan rasio panjang lengan (C):

1.      1,0 ≤ C < 1,7 = kromosom metasentrik

2.      1,7 ≤ C < 3,6 = Kromosom submetasentrik

3.      3,0 ≤ C < 7,0 = Kromosom subtelosentrik

4.      ≥ 7,0              = Kromosom telosentrik

  • Membuat idiogramnya

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah Kromosom Bawang Merah dan Tembakau

Hasil pengamatan mikroskopis pada kromosom bawang merah dan tembakau yang sudah diperbesar beberapa kali memperlihatkan bahwa jumlah kromosom bawang merah adalah 16 kromosom. Karena bawang merah diketahui diploid maka jumlah kromosom bawang merah dapat ditulis 2n 2x = 16. Hasil ini juga didukung oleh Okumus and Hassan (2000) dan Sastrsumarjo (2006) yang menjelaskan bahwa jumlah kromosom bawang merah adalah 2n = 2x = 16.  Gambar tersebut juga memperlihatkan bahwa jumlah kromosom tembakau adalah 48 kromosom. Karena n = 12, maka jumlah kromosom tembakau dapat ditulis 2n = 4x = 48. Berdasarkan hal tersebut diduga bahwa tembakau yang digunakan merupakan Nicotiana tabacum. Niizeki (1975) dan Wang and Chen (1988) menjelaskan bahwa Nicotiana tabacum memiliki jumlah kromosom 2n = 4x = 48.

Panjang dan Bentuk Kromosom Bawang Merah dan Tembakau

Hasil pengukuran panjang kromosom bawang merah dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 memperlihatkan bahwa kisaran panjang total kromosom bawang merah adalah 3.5 – 6.3 cm. Kisaran panjang lengan panjang kromosom bawang merah berkisar 2.3 – 3.9 cm, sedangkan kisaran panjang lengan pendek kromosom bawang merah adalah 0.1 – 3 cm. Tabel 1 juga memperlihatkan bahwa tiga tipe kromosom pada bawang merah yaitu metasentrik 11 kromosom, submetasentrik 3 kromosom, dan telosentrik 2 kromosom.

Tabel 1. Panjang Lengan Panjang, Lengan Pendek, Rasio Lengan Panjang dan Pendek Serta Panjang Total Kromosom Bawang Merah

Nomor kromosom p q P total C Tipe kromosom berdasar rasio panjang lengan panjang dan pendek
1 2,1 3,9 6 1,86 submetasentrik
1 2,2 3,8 6 1,73 submetasentrik
2 2,9 3,3 6,2 1,14 metasentrik
2 2,4 2,8 5,2 1,17 metasentrik
3 3 3,2 6,2 1,07 metasentrik
3 3 3,3 6,3 1,10 metasentrik
4 2,7 3 5,7 1,11 metasentrik
4 2,1 2,9 5 1,38 metasentrik
5 1,3 3,5 4,8 2,69 submetasentrik
5 2,8 3,4 6,2 1,21 metasentrik
6 2,3 2,9 5,2 1,26 metasentrik
6 2 2,4 4,4 1,20 metasentrik
7 1,6 2,3 3,9 1,44 metasentrik
7 1,8 2,3 4,1 1,28 metasentrik
8 0,1 3,4 3,5 >7 telosentrik
8 0,1 3,4 3,5 >7 telosentrik

P : Panjang lengan pendek (cm), q : Panjang lengan panjang (cm) P total : panjang total kromosom, C : Rasio panjang lengan panjang dan lengan pendek,

Hasil pengukuran panjang kromosom tembakau dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2 memperlihatkan bahwa kisaran panjang total kromosom tembakau adalah 1 – 2 cm. Sementara itu, kisaran panjang lengan panjang kromosom tembakau adalah 0.5 – 1.3 cm, sedangkan kisaran panjang lengan pendeknya adalah 0.2 – 0.9 cm. Tabel 2. juga memperlihatkan bahwa tembakau memiliki tiga tipe kromosom, yaitu 26 kromosom metasentrik, 11 kromosom submetasentrik dan 11 kromosom subtelosentrik.

Tabel 2. Panjang lengan panjang, lengan pendek, rasio lengan panjang dan pendek serta panjang total kromosom tembakau

Nomor kromosom p q P total C Tipe kromosom berdasar rasio panjang lengan panjang dan pendek
2 0,2 1,3 1,5 6,50 subtelosentrik
1 0,2 0,8 1 4,00 Subtelosentrik
8 0,3 1,1 1,4 3,67 subtelosentrik
9 0,3 1,1 1,4 3,67 subtelosentrik
4 0,3 1 1,3 3,33 subtelosentrik
5 0,3 1 1,3 3,33 subtelosentrik
6 0,3 1 1,3 3,33 subtelosentrik
7 0,3 1 1,3 3,33 subtelosentrik
3 0,3 0,9 1,2 3,00 subtelosentrik
10 0,4 0,6 1 1,50 metasentrik
11 0,4 0,6 1 1,50 metasentrik
12 0,4 0,7 1,1 1,75 submetasentrik
13 0,4 0,8 1,2 2,00 submetasentrik
14 0,4 1 1,4 2,50 submetasentrik
15 0,4 1 1,4 2,50 submetasentrik
16 0,4 1,1 1,5 2,75 submetasentrik
17 0,4 1,12 1,52 2,80 submetasentrik
18 0,4 1,2 1,6 3,00 subtelosentrik
19 0,4 1,4 1,8 3,50 subtelosentrik
20 0,45 1,1 1,55 2,44 submetasentrik
21 0,5 0,5 1 1,00 metasentrik
22 0,5 0,5 1 1,00 metasentrik
23 0,5 0,5 1 1,00 metasentrik
24 0,5 0,6 1,1 1,20 metasentrik
25 0,5 0,6 1,1 1,20 metasentrik
26 0,5 0,6 1,1 1,20 metasentrik
27 0,5 0,6 1,1 1,20 metasentrik
Nomor kromosom p q P total C Tipe kromosom berdasar rasio panjang lengan panjang dan pendek
28 0,5 0,7 1,2 1,40 metasentrik
29 0,5 0,7 1,2 1,40 metasentrik
30 0,5 0,7 1,2 1,40 metasentrik
31 0,5 1 1,5 2,00 submetasentrik
32 0,5 1 1,5 2,00 submetasentrik
33 0,6 0,7 1,3 1,17 metasentrik
34 0,6 0,7 1,3 1,17 metasentrik
35 0,6 0,9 1,5 1,50 metasentrik
36 0,6 1 1,6 1,67 metasentrik
37 0,6 1,1 1,7 1,83 submetasentrik
38 0,7 0,9 1,6 1,29 metasentrik
39 0,7 1 1,7 1,43 metasentrik
40 0,7 1,3 2 1,86 submetasentrik
44 0,8 1,2 2 1,50 metasentrik
43 0,8 1,1 1,9 1,38 metasentrik
41 0,8 1 1,8 1,25 metasentrik
42 0,8 1 1,8 1,25 metasentrik
48 0,9 1,1 2 1,22 metasentrik
47 0,9 1 1,9 1,11 metasentrik
45 0,9 0,9 1,8 1,00 metasentrik
46 0,9 0,9 1,8 1,00 metasentrik

P : Panjang lengan pendek (cm), q : Panjang lengan panjang (cm) P total : panjang total kromosom, C : Rasio panjang lengan panjang dan lengan pendek

Kariotipe Bawang Merah dan Tembakau

Menurut  Swanson  (1957)  kariotipe  adalah  set  kromosom  dasar  suatu  spesies  dan berfungsi  sebagai    karakterasi  yang  lebih  lanjut    terhadap  bentuk,  ukuran  maupun  jumlah kromosom. Kariotipe bawang merah dan tembakau dapat dilihat pada gambar 14 dan 15

Gambar 14. Kariotipe Tanaman Bawang Merah


Gambar 15. Kariotipe Tanaman Tembakau

Idiogram Bawang Merah dan Tembakau

Sastrosumarjo (2006) menjelaskan bahwa idiogram merupakan gambaran diagramatik dari sel kromosom gametik (n) dari suatu spesies dan digunakan untuk membandingkan kariotipe dari suatu spesies dengan spesies lainnya. Beliau juga menjelaskan bahwa idiogram pertama – tama disusun dari kromosom satelit / SAT (sine acido thymonucleinico) dan dideretkan berdasarkan panjang satelit tersebut. Kemudian kromosom – kromosom lainnya disusun berdasarkan panjang lengan pendeknya.

(a)                                                                    (b)

Gambar 18 (a) Idiogram Tanaman Bawang Merah dan (b) Idiogram Tanaman tembakau

Gambar 18 memperlihatkan bahwa tanaman bawang merah memiliki kromosom SAT pada kromosomnya, sedangkan tembakau tidak memilki kromosom SAT. Berdasarkan letak sentromer dan letak SAT maka rumus kariotipe bawang merah dapat ditulis dengan 2n = 10 m + 1 m (SAT) + 3 sm + 2 t, sedangkan rumus kariotipe tembakau dapat ditulis dengan 2n = 26 m + 11 sm + 11 st.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Bawang merah memiliki jumlah kromosom sebanyak 2n = 2x = 16, sedangkan tembakau memiliki jumlah kromosom sebanyak 2n = 4x = 48.

Kisaran panjang total kromosom bawang merah adalah 3.5 – 6.3 cm, sedangkan kisaran kromosom tembakau adalah 1 – 2 cm.

Bawang merah memiliki rumus kariotipe 2n = 10 m + 1 m (SAT) + 3 sm + 2 t, sedangkan tembakau memiliki rumus kariotipe 2n = 26 m + 11 sm + 11 st.

Saran

Perlu dilakukan analisis kariotipe terhadapa kromosom bawang merah yang telah di iradiasi, sehingga kita dapat melihat perbedaan berbagai bentuk, ukuran, dan jumlah kromosom pada tanaman bawang merah.

PENGARUH KOLKISIN TERHADAP KROMOSOM UJUNG AKAR BAWANG MERAH

Download lengkap pdf Pengaruh kolkisin klik disini

PENGARUH KOLKISIN TERHADAP KROMOSOM UJUNG AKAR BAWANG MERAH


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bawang merah (Allium ascalonicum  L.) merupakan sayuran umbi yang multiguna, dapat digunakan sebagai bumbu masakan, sayuran, penyedap masakan, di samping sebagai obat tradisional karena efek antiseptik senyawa anilin dan alisin yang dikandungnya (Rukmana, 1994). Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Deptan, 2005). Bahan aktif minyak atsiri bawang merah terdiri dari sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin (Muhlizah dan Hening-S, 2000).

Rata-rata produksi bawang merah nasional saat ini masih rendah. Rendahnya daya produksi bawang merah antara lain disebabkan karena sedikitnya kultivar-kultivar unggul dan proses pengolahan pertanian yang kurang baik (Rukmana, 1994; Wibowo, 1991). Kultivar-kultivar unggul dapat diperoleh melalui pemuliaan tanaman, diantaranya dengan pemuliaan konvensional, induksi mutasi dan prosedur transgenik. Pemuliaan dengan mutasi dapat dilakukan dengan menggunakan kolkisin pada jaringan meristem (Suryo, 1995). Penggunaan kolkisin dengan konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan jumlah kromosom, sehingga tanaman bersifat poliploid. Tanaman yang bersifat poliploid umumnya memiliki ukuran morfologi lebih besar dibandingkan tanaman diploid (Suminah, et al, 2002). Dengan demikian kualitas tanaman yang diberi perlakuan diharapkan lebih baik dibandingkan tanaman diploid.

Setiap jenis tanaman memiliki respon yang berbeda-beda terhadap pemberian kolkisin (Suryo, 1995). Umumnya kolkisin akan bekerja efektif pada konsentrasi 0,01-1% untuk jangka waktu 6-72 jam (Suminah, et al., 2005). Oleh karena itu, penting rasanya untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi kolkisin terhadap tanaman, khususnya bawang merah dan bawang bombay.

Tujuan

Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah:

1.      Mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi kolkisisn terhadap jumlah kromosom tanaman bawang merah

2.      Mengetahui pengaruh pemberian berbagai konsentrasi kolkisisn terhadap ukuran sel and inti sel tanaman bawang merah

TINJAUAN PUSTAKA

Bawang Merah (Allium ascalonicum L)

Bawang merah (Allium ascalonicum L) merupakan salah satu anggota dari familia Liliaceae. Tanaman ini merupakan tanaman semusim dan memiliki umbi yang berlapis. Tanaman mempunyai akar serabut, dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis. Umbi bawang merah terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Umbi bawang merah bukan merupakan umbi sejati seperti kentang atau talas.

Bawang merah (Allium ascalonicum  L.) merupakan sayuran umbi yang multiguna, dapat digunakan sebagai bumbu masakan, sayuran, penyedap masakan, di samping sebagai obat tradisional karena efek antiseptik senyawa anilin dan alisin yang dikandungnya (Rukmana, 1994). Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Deptan, 2005). Bahan aktif minyak atsiri bawang merah terdiri dari sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin (Muhlizah dan Hening-S, 2000).

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas: Liliidae

Ordo: Liliales

Famili: Liliaceae (suku bawang-bawangan)

Genus: Allium

Spesies: Allium cepa var. aggregatum L.

Kromosom Bawang Merah

Kromosom antar tanaman berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Baik dari bentuk, jumlah, dan panjangnya. Allium cepa memiliki jumlah kromosom 2n = 16 (Sastrosumarjo, 2006). Hal ini sangat membantu dalam  mempelajari analisis mitosis pada tanaman, karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak. Selain itu, kromosom allium cepa sering digunakan untuk mempelajari analisis mitosis juga karena ia memiliki ukuran kromosom yang besar dan cukup mudah untuk dibuat preparatnya (Stack, 1979).

Kolkisin Menginduksi Poliploidi

Kolkisin (C22H25O6N) merupakan suatu alkaloid berwarna putih yang diperoleh dari umbi tanaman  Colchichum autumnale  L. (Familia Liliaceae) (Suminah, et al., 2002), sedangkan menurut Haryanti, et al. (2009) Kolkisin (C22H25O6N) merupakan alkaloid yang mempengaruhi penyusunan mikrotubula, sehingga salah satu efeknya adalah menyebabkan penggandaan jumlah kromosom tanaman (terbentuk tanaman poliploid).

Kolkisin sering digunakan untuk menginduksi tanaman poliploidi. Menurut Suryo (1995), larutan kolkisin pada konsentrasi kritis tertentu akan menghalangi penyusunan mikrotubula dari benang-benang spindle yang mengakibatkan ketidakteraturan pada mitosis. Suminah (2005) juga menjelaskan bahwa kolkisin ini dapat menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada pembelahan sel sehingga menyebabkan terbentuknya individu poliploidi. Mansyurdin, et al. (2002) memaparkan bahwa semakin tingi konsentrasi kolkisin makin tinggi persentase sel yang tetraploid, tetapi persentase kematian kecambah makin tinggi pula.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pratikum ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap 1 : pemberian kolkisin pada tanaman, dan tahap 2: pengamatan kromosom ujung akar tanaman. Pemberian kolkisin pada tanaman dilaksanakan tiga hari sebelum pengamatan kromosom. pengamatan kromosom ujung akar tanaman bawang merah dilaksanakan pada hari Selasa, 7 Desember 2010 di Lab Microtechnique Departemen AGH, FAPERTA, IPB.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • Akar bawang merah
  • Akar bawang bombay
  • Kolkisin

Alat – alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah:

  • Mikroskop
  • Silet
  • Cawan petri
  • Pinset
  • Gelas objek
  • Gelas penutup
  • Bunsen
  • Pensil dengan ujung berpenghapus
  • Tisu

Metode Pelaksanaan

  • Mengecambahkan bawang merah pada kapas basah
  • Meneteskan larutan kolkisin 0,0%; 0,01%; 0,1%; dan 0,5% selama tiga hari
  • Mengamati jumlah kromosom sesuai dengan prosedur analisis mitosis
  • Bandingkan jumlah kromosom setiap perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Kolkisin terhadap Jumlah Kromosom Tanaman Bawang Merah

Hasil pengamatan mikroskopis terhadap jumlah kromosom sel – sel ujung akar bawang merah dengan berbagai dosis kolkisin dapat dilihat pada gambar 19 dan 20.

Hasil pengamatan pada gambar 19 dan 20 menunjukkan bahwa penggunaan kolkisin konsentrasi 0.05%, 0.1%, dan 0.2% dapat meningkatkan jumlah kromosom dan menghasilkan berbagai tingkat ploidi pada kromosom ujung akar bawang merah. Hal yang sama telah dilaporkan oleh Suminah, et al. (2002) yang melaporkan bahwa pemberian kolkisin 1% menyebabkan variasi bentuk, ukuran, dan jumlah pada kromosom ujung akar bawang merah.

Perubahan jumlah kromosom ini disebabkan oleh pemberian kolkisin dengan konsentrasi kritis. Pemberian kolkisin pada konsentrasi kritis tersebut dapat mencegah terbentuknya benang – benang mikrotubuli dari gelendong inti (benang – benang spindel) sehingga perpindahan tahap metafase ke anafase tidak berlangsung dan menyebabkan penggandaan kromosom tanpa terjadi penggandaan dinding sel. Jika konsentrasi tersebut terus dipertahankan, makan penggandaan tersebut dapat terus terjadi. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan jumlah kromosom dalam inti menjadi lebih banyak dibandingkan sebelumnya dan menghasil variasi tingkat ploidi pada kromosom ujung akar bawang merah. Suryo (2005) menjelaskan bahwa apabila konsentrasi kritis kolkisin terus dibiarkan maka akan terus terjadi pertambahan genom yang penambahannya mengikuti deret ukur.

(a)                                           (b)                                             (c)

Gambar 19. Hasil Pengamatan Mikroskopis Tanpa Pra Perlakuan Sederhana terhadap Kromosom Ujung Akar Bawang Merah pada Dosis (a) 0.05%, (b) 0.1%, dan (c) 0.2%

(a)                                           (b)                                             (c)

Gambar 20. Hasil Pengamatan Mikroskopis dengan Pra Perlakuan Sederhana terhadap Kromosom Ujung Akar Bawang Merah pada Dosis (a) 0.05%, (b) 0.1%, dan (c) 0.2%

Gambar 19 dan 20 juga memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah kromosom tidak terjadi pada semua sel ujung akar bawang merah, khususnya pada dosis 0.05%. Daryono (1998) menjelaskan bahwa pemberian kolisin pada konsentrasi 0.01% dengan lama 3, 6, dan 12 jam belum dapat menginduksi pembentukan sel – sel tetraploid pada tanaman melon. Hal ini dapat terjadi pemberian kolkisin pada konsentrasi yang rendah belum dapat menghambat pembentukkan beang – benang gelendong , sehingga proses pemisahan kromosom pada stadium anafase tetap berlangsung dan pada akhirnya, sel tersebut akan tetap diploid. Pemberian kolkisin dengan konsentrasi yang tepat akan dapat mencegaah terpbentuknya benang – benang gelendong yang mengakibatkan perambahan jumlah kromosom (Suryo, 2005).

Pengaruh Kolkisin terhadap Ukuran Sel Tanaman Bawang Merah

Selain mengamati jumlah kromosom ujung akar bawang merah, pada pratikum ini juga dilakukan pengamatan terhadap ukuran sel ujung akar bawang merah. Pengamatannya sendiri hanya membandingkan antar gambar sel ujung akar bawang merah, tanpa dilakukan pengukuran terhadap sel tersebut.

Gambar 21 Kromosom Ujung Akar Bawang Merah dengan Kolkisin 0.1%

Gambar 21 memperlihatkan bahwa sel yang sudah mengalami penggandaan kromosom memilki ukuran sel yang lebih besar dibandingkan sel yang belum mengalami penggandaan kromosom. Daryono (1998) menjelaskan bahwa pemberian kolkisin dapat meningkatkan luas permukaan sel melon 1.7 – 3.4 kali sel semula. Pemberian kolkisin dapat meningkatkan jumlah kromosom pada sel. Peningkatan jumlah kromosom ini dapat menekan dinding sel ke arah luar sehingga semakin lama akan membuat sel semakin besar.

Gambar 22 Kromosom Ujung Akar Bawang Merah yang Pecah

Apabila peningkatan jumlah kromosom terus terjadi, maka dapat menyebabkan dinding sel pecah karena tidak mampu menampung jumlah kromosom yang terlalu banyak. Pecahnya dinding sel akibat peningkatan jumlah kromosom dapat dilihat pada gambar 23.

Gambar 23 Pembesaran pada Akar Bawang Merah akibat Pemberian Kolkisin

Peningkatan ukuran sel akibat pemberian kolkisin juga dapat dilihat dari terjadi pembesaran pada ukuran akar tanaman bawang. Pembesaran pada akar bawang merah akibat pemberian kolkisin dapat dilihat pada gambar ….. Haryanti (2009) menjelaskan bahwa pemberian kolkisin menyebabkan ukuran sel tanaman kacang hijau lebih besar namun menjadi lebih pendek.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian kolkisin pada ujung akar bawang merah dapat mempengaruhi jumlah kromosom ujung akar bawang merah. Pemberian kolkisin tersebut meningkatkan jumlah dan menyebabkan variasi ploidi kromosom ujung akar bawang merah

Pemberian kolkisin mempengaruhi ukuran sel ujung akar tanaman bawang merah. Pemberian kolkisin tersebut meningkatkan ukuran sel ujung akar bawang merah dan membuat akar bawang merah lebih besar namun lebih pendek.

Saran

Perlu dilakukan penanaman bawang merah yang sudah diberi perlakuan kolkisin di lapang, agar dapat melihat pengaruh pemberian kolkisin tersebut terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah.

Perlu dilakukan percobaan mengenai teknik pemberian kolkisin dan lama waktu pemberiannya terhadap bawang merah, sehingga didapatkan hasil yang optimal dalam penggunaan kolkisin pada tanaman bawang merah.

DAFTAR PUSTAKA

BPPP Deptan. 2005. Prospek dan rah Pengembangan Agrobisnis Bawamg Merah. Jakarta. 25 hal.

Daryono B. S. 1998. Pengaruh kolkisin terhadap pembentukan sel – sel melon tetraploid. Buletin Agro Industri. (5) : 2 – 11.

Mansyurdin, Hamru, dan D. Murni. 2002. Induksi tetraploid pada tanaman cabai merah keriting dan cabai rawit dengan kolkisin. Stigma. 12 (3) : 297 – 300Sastrosumarjo, S., Yudiwanti, S. I. Aisyah, S. Sujiprihati, M. Syukur, R. Yunianti. 2006. Panduan laboratorium, hal. 261. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.) Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor

Sri, H., R. B. Hastuti, N. Setiari, dan A. Banowo. 2009. Pengaruh kolkisin terhadap pertumbuhan, ukuran sel metafase dan kandungan protein biji tanaman kacang hijau (Vigna radiata (L) Wilczek). Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. 10 (2) : 112 – 120.

Sastrosumarjo, S. 2006. Panduan laboratorium, hal. 38 – 63. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.) Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor.

Stack S. M., and D. E. Comings. 1979. The cromosomes and DNA of Allium cepa. CHROMOSOMA. 70:161 – 181

Suminah, Sutarno, A. D. Setyawan. 2002. Induksi poliploidi bawang merah (Allium ascalonicum L.) dengan pemberian kolkisin. BIODIVERSITAS. 3 (1) : 174 – 180.

Suprihati, D., Elimasni, E. Sabri. 2007. Identifikasi karyotipe terung belanda (Solanum betaceum Cav.) kultivar Brastagi Sumatera Utara. Jurnal Biologi Sumatera Utara. 2(1): 7 – 11.

Suryo, H. 2007. Sitogenetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 446 hal.

MAPKs Tanaman : Transduksi Informasi Rangsangan Cekaman

Oleh: G. A. Wattimena, AGH-IPB

1. Interaksi Genom dan Lingkungan

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah hasil interaksi antara genom (genotip) dengan lingkungannya yang dikenal dengan istilah fenotip. Rangsangan lingkungan berada di luar sel tanaman, sedangkan genom berada di dalam sitoplasma sel. Terdapat pemisah antara rangsangan lingkungan dan genom, yaitu berupa dinding sel, membran sel, sitoplasma, dan membran genom (nukleus/mitokondria/kloroplas)

Informasi lingkungan, baik berupa pendorong atau cekaman harus dapat sampai di genom target baru akan muncul respon. MAPKs adalah sederetan senyawa – senyawa pengantar yang mengantar informasi lingkungan dari penerima (reseptor) ke gen target.

2. Pengantar Informasi Rangsangan Lingkungan pada Manusia dan Tanaman

Manusia dapat bergerak dan mempunyai panca indera, otak, dan sumsum tulang belakang. Rangsangan lingkungan diterima oleh panca indera yang kemudian diteruskan ke otak atau sumsum tulang belakang dan akhirnya terjadilah respon. Rangsangan – panca indera – saraf – respon. Jika salah satu indera tidak berfungsi maka manusia itu cacat. Cacat pada indera pendengaran maka manusia itu masih dapat membedakan goyang inul dan goyang jupe akan tetapi manusia itu tidak dapat mendengarkan musiknya.

Tanaman tetap ditempat dan tidak memiliki panca indera akan tetapi tanaman memiliki sensor dan molekul perantara yang mampu menghantarkan rangsangan dari sensor dan reseptor melalui molekul senyawa pengantar ke objek target.

3. MAPKs dan Fungsi

MAPKs merupakan singkatan dari Mitogen Activated Protein Kinase yang berfungsi sebagai pengantar informasi (rangsangan) dari reseptor ke genom target yang juga biasa dikenal dengan sebutan “Signal Transduksi”. Signal transduksi merupakan deretan senyawa – senyawa pengantar yang berfungsi secara intraseluler dari reseptor ke genom target. MAPKs berfungsi dalan transduksi cekaman biotik dan abiotik dari reseptor ke genom target. Cekaman biotik dan abiotik itu berupa : infeksi patogen, pelukaan, suhu, kekeringan, iradiasi, polusi, dll. Rangsangan – resptor – MAPKs – faktor transkipsi (aktivasi gen) – respon fenotip. Fungsi dari MAPks juga dapat dilacak melalui namanya:

Mitogen adalah senyawa – senyawa yang berfungsi dalam pengaturan siklus sel, mitosis, dan ekspresi gen. Protein kinase adalah enzim yang mentransfer gugus fosfor dari ATP ke substrat pada asam amino khusus (thi, tyr, ser, gly) yang dikenal dengan nama “dual fosforilisasi”. Fosforilisasi pada asam amino tyr dan thi dalam susunan tripeptida tyr – x – thi (x = glu, gly, pro, atau asp). Aktivasi protein kinase tersebut terjadi secara berurutan (estafet) dari MAPKs (MAPKKK – MAPKK – MAPK) sampai aktivasi dari gen. berikut contoh serangan bakteri / fungi pada Arabidopsis thaliana

Pathogen (PAMP) – Reseptor (FLS2 / BAK1) – MAPKKK (MEKK 1) – MAPKK (MKK 1) – MAPK (MPK4) – Faktor Transkipsi (WRKY 53) _ Ekspresi gen (PR – Protein, )

Keterangan (  ) = reseptor, MAPK, faktor transkipsi, dan ekspresi gen dari Arabidopsis thaliana.

4. Pohon Filogenik MAPKs pada Tanaman

Pada tanaman Arabidopsis thaliana telah ditemukan 110 gen yang mengkode gen – gen pada jalur MAPKs, yaitu: 80 gen MAPKKK, 10 gen MAPKKs, dan 20 gen MAPKs. Gen – gen MAPKs ini selain pada tanaman Arabidopsis juga terdapat pada tanaman lain, diantaranya tembakau dan gandum. Berdasarkan sekuens asam amino maka (wrzaczek an Hiat, 2001):

  • MAPkkk dibagi atas 3 kelompok, yaitu: PMERK (21 anggota), PRAF (13 anggota) dan P2IK (11 anggota)
  • MAPKK terdiri atas 4 kelompok, yaitu PMKK1, PMKK2, dan PMKK4 yang masing – masing terdiri dari 3 anggota, sedangkan PMKK3 terdiri dari 1 anggota
  • MAPK terdiri atas 4 kelompok, yaitu PERK 21-4 (9 anggota), PERK 25 (4 anggota), PERK B (10 anggota), dan AtMPK 24 (1 anggota)

5. Proses Transduksi Informasi Cekaman

Pertahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik mulai dari penerima informasi rangsangan cekaman sampai pada respons ketahanan adalah suatu proses bertingkat yang menyangkut deretan fosforilisasi senyawa – senyawa perantara pengantar informasi (transduksi) dan senyawa – senyawa aktivator dan regulasi ekspresi gen ketahanan.

Pustaka

Zhang S.Klessing D. F. 2001. MAPK cascades in plant defense signaling. Trends Plan Sci 6(11):520-527

Wrzaczek H, Hrit H. 2001. Plant MAP kinase pathways how many and what for? Biol. Cell. 93 : 81 – 87.

Nakagami H, Pitzschke A, Hrit H., 2005. Emerging MAP kinase pathways in plant…. Signaling. Trends Plan Sci. 10 (7) : 339 – 346.

Pitzschke, A., Schikora, A., Hrit, H. 2009. MAPK cascade signaling network inplant defense. Current Opinion Plant Biol. 12 ; 1 – 6.

PENGARUH IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP KERAGAAN PLANLET TANAMAN GLOXINIA

DOWNLOAD LENGKAP Laporan pratikum IRADIASI GLOXINIA klik disini..!!

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gloxinia (Sinningia speciosa) umunya digunakan sebagai tanaman hias pot oleh para pecinta tanaman hias (Sheehan and Tjia, 1976). Dalam perbanyakannya, sulit mendapatkan keturunan yang sehat jika dikembangbiakkan dengan vegetatif. Perbanyakan generatif sulit dilakukan pada tanaman ini karena adanya self-sterility (Xu, et al., 2009). Hal ini membuat perbanyakan secara in vitro lebih efektif (Xu, et al., 2009).

Peningkatan keragaman gloxinia sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai ekonomi dan keberlanjutan bisnis tanaman hias ini. Hal tersebut dapat diperoleh melalui teknik pemuliaan konvensional dengan hibridisasi ataupun dengan induksi mutasi. Hibridisasi pada tanaman gloxinia mengalami kendala karena self sterility. Induksi mutasi merupakan salah satu alternatif untuk mendapatkan varian baru tanaman gloxinia dalam waktu yang relatif lebih cepat. Mutasi dapat meyebabkan terjadinya perubahan warna, guratan, dan bentuk daun tanaman Aglaonema (Purwanto, 2006). Induksi mutasi radiasi dapat mempengaruhi warna pada bunga mawar (Soedjono, 2003).

Mutasi  itu  sendiri  sebenarnya  dapat  terjadi  secara alamiah  di  alam,  namun  peluang  kejadiannya  sangat kecil,  yaitu  sekitar  10-6 (Duncan  et al.,  1995). Aisyah, et al., 2009). Induksi mutasi dapat dilakukan secara fisik maupun kimiawi. Iradiasi dapat menyebabkan terjadinya mutasi (Poespodarsono, 1988). Iradiasi sinar gamma adalah salah satu contoh induksi mutasi fisik yang sering dilakukan, namun keragaman gloxinia yang diperoleh melalui induksi mutasi fisik masih jarang diperoleh. Diperlukan berbagai penelitian agar dapat diperoleh tanaman gloxinia dengan varian yang  beragam. Varian gloxinia yang beragam dapat menjadikan tanaman gloxinia terlihat semakin menarik, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi tanaman ini.

Dosis iradiasi yang digunakan untuk menginduksi keragaman sangat menentukan keberhasilan terbentuknya tanaman mutan. Dosis iradiasi yang dipakai untuk mendapatkan tanaman mutan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis tanaman yang digunakan, fase tumbuh tanaman saat iradiasi, ukuran bahan tanaman,  dan tingkat ketebalan bahan yang akan diiradiasi. Dosis iradiasi yang efektif  untuk menginduksi keragaman tanaman gloxinia belum diketahui. Soedjono (2002) menjelaskan bahwa dosis iradiasi sinar gamma 20 – 30 Gy menghasilkan warna bunga yang beragam pada tanamn Saintpaulia sp.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk :

1).   Mengamati keragaan Gloxinia hasil iradiasi sinar gamma.

2).   Mengetahui tingkat radiosensitivitas tanaman gloxinia.

3).   Memperoleh kandidat tanaman mutan positif yang potensial untuk dikembangkan

4).   Mengetahui LD50 tanaman gloxinia.

Hipotesis

1).  Terdapat keragaan gloxinia yang berbeda setelah iradiasi sinar gamma.

2).  Terdapat kandidat tanaman mutan positif yang potensial untuk dikembangkan.

4).  Terdapat dosis LD50 pada dosis iradiasi yang digunakan.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Gloxinia

Gloxinia merupakan tanaman herba berbatang pendek, namun adakadang  yang mencapai tinggi 1 kaki. Tanaman ini mempunyai tuber dengan akar muncul disekelilingnya. Bunganya bentuk lonceng dengan mahkota tunggal atau ganda  yang diameternya dapat mencapai 8 cm. Pada umumnya, bunga gloxinia berwarna biru, namu ada juga yang berwarna merah dan ungu. Daunnya berbentuk oval, lembut dan dan berwarna hijau tua. Morfologi tanaman gloxinia dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Tanaman Gloxinia

Gloxinia (Sinningia speciosa) umunya digunakan sebagai tanaman hias pot oleh para pecinta tanaman hias (Sheehan and Tjia, 1976). Perbanyakan tanaman ini biasanya secara vegetatif. Perbanyakan secara generatif sulit dilakukan pada tanaman gloxinia terjadi self sterility. Perbanyakan generatif sulit dilakukan pada tanaman ini karena adanya self-sterility (Xu, et al., 2009). Hal ini membuat perbanyakan secara in vitro lebih efektif (Xu, et al., 2009).

Mutasi dalam Pemuliaan Tanaman

Pemuliaan tanaman merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk memperbaiki sifat tanaman, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pemuliaan tanaman bertujuan untuk menghasilkan varietas tanaman dengan sifat-sifat (morfologi, fisiologi, biokimia, dan agronomi) yang sesuai dengan sistem budidaya yang ada dan tujuan ekonomi yang diinginkan. Pemuliaan tanaman akan berhasil jika di dalam populasi tersebut terdapat banyak variasi genetik. Variasi genetik dapat diperoleh dengan beberapa cara, yaitu koleksi, introduksi, hibridisasi, dan induksi mutasi (Crowder, 1986). Pemuliaan tanaman secara konvensional dilakukan dengan hibridisasi, sedangkan pemuliaan secara mutasi dapat diinduksi dengan iradiasi atau mutagen kimia.

Mutasi adalah suatu proses dimana suatu gen mengalami perubahan struktur (Crowder, 1986), sedangkan menurut Poehlman and Sleper (1995) mutasi adalah suatu proses perubahan yang mendadak pada materi genetik dari suatu sel, yang mencakup perubahan pada tingkat gen, molekuler, atau kromosom. Induksi mutasi merupakan salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan keragaman tanaman (Wulan, 2007). Mutasi gen terjadi sebagai akibat perubahan dalam gen dan timbul secara spontan. Gen yang berubah karena mutasi disebut mutan.

Mutasi dapat terjadi pada setiap tahap perkembangan dari suatu organisme, dalam sel-sel dari setiap jaringan baik somatik maupun germinal. Mutasi dalam sel tunggal sering terlihat pada sel epidermis dari mahkota bunga dan daun (Crowder, 1986).

Mutasi  memiliki arti penting bagi pemuliaan tanaman, yaitu (1) Iradiasi memungkinkan untuk meningkatkan hanya satu karakter yang diinginkan saja, tanpa mengubah karakter yang lainnya. (2) Tanaman yang secara umum diperbanyak  secara vegetatif pada umumnya bersifat heterozigot yang dapat menimbulkan keragaman yang tinggi setelah dilakukannya iradiasi. (3) Iradiasi merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keragaman pada tanaman yang steril dan apomiksis (Melina, 2008). Mutasi juga dapat menghasilkan karagaman yang lebih cepat dibandingkan pemuliaan secara konvensional. Selain itu, mutasi juga dapat menghasilkan keragaman yang tidak dapat diprediksi dan diduga. Hal ini sangat baik dalam perkembangan tanaman hias. Pemuliaan dengan mutasi, selain mempunyai beberapa keunggulan juga memiliki beberapa kelemahan, dimana sifat yang diperoleh tidak dapat diprediksi dan ketidakstabilan sifat-sifat genetik yang muncul pada generasi berikutnya (Syukur, 2000).

Aplikasi induksi mutasi dengan mutagen fisik dapat dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu (a) iradiasi tunggal (acute iradiation), (b) chronic irradiation, (c) iradiasi terbagi (frationated irradiation), dan (d) iradiasi berulang (Misniar, 2008). Iradiasi tunggal adalah iradiasi yang dilakukan hanya dengan satu kali penembakan sekaligus. Chronic irradiation adalah iradiasi dengan penembakan dosis rendah, namun dilakukan secara terus-menerus selama beberapa bulan. Iradiasi terbagi adalah radiasi dengan penembakan yang seharusnya dilakukan hanya satu kali, namun dilakukan dua kali penembakan dengan dosis setengahnya sedangkan radiasi berulang adalah radiasi dengan memberikan penembakan secara berulang dalam jarak dan waktu yang tidak terlalu lama.

Perkembangan Induksi Mutasi Radiasi pada Tanaman Hias

Induksi mutasi telah dilakukan pada tanaman hias sejak tahun 1930 (Karniasan, 2005) sedangkan mutasi induksi di Indonesia baru diperkenalkan sejak berdirinya Instalasi Sinar Co60 di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Pasar Jumat tahun 1967 dan program penelitian dengan induksi mutasi secara intensif baru dimulai pada tahun 1972 (Soedjono, 2003). Kultivar hasil iradiasi yang pertama kali dihasilkan adalah kultivar Faraday pada tahun 1936, pada kultivar tersebut terlihat adanya perubahan warna pada tanaman yang dinduksi mutasi. Beberapa abad kemudian induksi mutasi telah dikembangkan pada berbagai tanaman seperti dendranthema, dianthus, dan euphorbia. Pada tahun 1937-1976 telah dihasilkan 5.819 varietas mawar yang 865 diantaranya adalah hasil dari induksi mutasi. Pada tanaman azalea dan krisan, sekitar 50% varietas yang ada adalah hasil induksi mutasi.

Handayani et al. (2001) menjelaskan bahwa induksi mutasi dengan iradiasi sinar gamma pada tanaman mawar mini dapat menimbulkan keragaman genetik yang terekspresikan pada warna dan jumlah kelopak bunga. Misniar (2008) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa iradiasi tunggal pada dosis  10 Gy – 50 Gy memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman Aglaonema costatum dan Aglaonema “Dona Carmen”.

Induksi mutasi fisik dengan iradiasi sinar gamma memberikan pengaruh yang berbeda antar tanaman hias. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh tingkat radiosensitivitas masing-masing tanaman. Semakin tinggi tingkat radiosensitivitas tanaman, semakin mudah tanaman tersebut mengalami mutasi. Radiosensitivitas A. Costatum dan A. Dona Carmen tergolong tinggi, sehingga tidak terdapat LD50 pada dosis penembakan 10 Gy – 50 Gy (Misniar, 2008).

Iradiasi Sinar gamma

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel, atau gelombang elektromagnetik (foton) dari suatu sumber energi (BATAN, 2008). Radiasi energi tinggi adalah bentuk-bentuk energi yang melepaskan tenaga dalam jumlah yang besar dan kadang-kadang disebut juga radiasi ionisasi (BATAN, 2008) karena ion-ion dihasilkan dalam bahan yang dapat ditembus oleh energi tersebut (Crowder, 1986). Radiasi dapat menginduksi terjadinya mutasi karena sel yang teradiasi akan dibebani oleh tenaga kinetik yang tinggi, sehingga dapat mempengaruhi atau mengubah reaksi kimia sel tanaman yang  pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan susunan kromosom tanaman (Poespodarsono, 1988).

Radiasi memiliki beberapa tipe, yaitu radiasi sinar X, radiasi sinar gamma, dan radiasi sinar ultra violet (Crowder, 1986). Radiasi sinar gamma dipancarkan dari isotop radio aktif, panjang gelombangnya lebih pendek dari sinar X, dan daya tembusnya adalah yang paling kuat. Hidayat, (2004) mengatakan bahwa sinar gamma merupakan bentuk sinar yang paling kuat dari bentuk radiasi yang diketahui, kekuatannya hampir 1 miliar kali lebih berenergi dibandingkan radiasi sinar X.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Iradiasi sinar gamma dilaksanakan pada hari Selasa, 16 November 2010 di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Pasar Jumat, Jakarta. Pengamatan dan pemeliharaan tanaman pada kedua percobaan dilaksanakan selama empat minggu di Laboratorium Kultur Jaringan Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah planlet gloxinia yang berasal dari Lab. Kultur Jaringan, Departemen AGH, FAPERTA, IPB.. Media yang digunakan selama percobaan adalah media MS0. Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah alat ukur, alat tulis, pinset, gunting, botol, dan alat – alat lab lainnya.

Rancangan Percobaan

Percobaan ini terdiri hanya dari satu faktor, yaitu dosis iradiasi sinar gamma. Dosis iradiasi yang digunakan dalam percobaan ini terdiri dari lima taraf, yaitu: 0 Gy, 10 Gy, 20 Gy, 30 Gy, dan 40 Gy sehinggal jumlah total perlakuan yang digunakan pada percobaan ini adalah 5 perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali dengan masing – masing perlakuan dalam tiap ulangan terdiri dari 4 tanaman, sehingga terdapat 100 satuan pengamatan. Rancangan lingkungan yang digunakan dalam percobaan ini adalah rancangan acak lingkungan (RAL). Model linier untuk rancangan ini adalah:

Yij       = π + αi +  €ij

i           = 0 Gy, 10 Gy, 20 Gy, 30 Gy, dan 40 Gy (taraf dosis iradiasi)

j           = 1; 2; 3; 4; dan 5(ulangan)

π          = Nilai tengah umum

αi         = Pengaruh faktor dosis iradiasi taraf ke-i

€ij    = Galat acak pada faktor dosis penyinaran taraf ke-i, dan ulangan ke-j

Data hasil pengamatan diolah dengan menggunakan program SAS dan diuji lanjut dengan menggunakan uji perbandingan ganda Duncan (DMRT) apabila menghasilkan analisis ragam yang berbeda nyata pada taraf 5 %.

Metode Pelaksanaan

1. Persiapan Planlet Gloxinia

Planlet gloxinia yang digunakan pada percobaan ini sudah tersedia di Lab. Kultur Jaringan, Departemen AGH, FAPERTA, IPB

2. Penembakan dengan Sinar Gamma

Bahan tanaman yang sudah siap, dibawa ke Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk diiradiasi. Iradiasi dilakukan dengan menggunakan Gamma Chamber 4000 A (Lampiran 1). Iradiasi yang digunakan adalah iradiasi tunggal dengan dosis 0 Gy, 10 Gy, 20 Gy, 30 Gy dan 40 Gy.

3. Pemeliharaan

Bahan tanam yang telah diiradiasi segera dipindahkan ke dalam media MS0. Apabilat terdapat tanaman yang kontam, akan segera dipindahkan. Berikut adalah bagan alur pelaksanaannya:

Gambar 2. Bagan Alur Percobaan

4. Pengamatan

Pengamatan dilakukan terhadap peubah kuantitatif dan peubah kualitatif.

Peubah Kuantitatif

1. Presentase Tanaman Hidup

Pengamatan presentase tanaman yang mati dilakukan sampai dengan 4 MSI. Perhitungannya dilakukan dengan membagi jumlah seluruh tanaman yang masih hidup setelah iradiasi dengan jumlah seluruh tanaman yang diiradiasi dengan sinar gamma yang kemudian dikalikan dengan 100%.

2. LD50 Planlet Gloxinia

Analisis LD50 dilakukan dengan memasukan data jumlah persentase tanaman hidup dan dosis iradiasi ke dalam Curve Fit Analyze untuk kemudian diolah. Data persentase tanaman hidup adalah data pada 4 MSI.

3. Jumlah Daun per Tanaman

Pengamatan dilakukan dengan menghitung seluruh jumlah daun gloxinia. Pengamatan jumlah daun per tanaman dilakukan pada awal dan akhir penelitian.

4. Pengamatan Jumlah Kandidat Tanaman Mutan Positif

Pengamatan terhadap jumlah kandidat tanaman mutan positif yang muncul dilakukan pada minggu ke 4. Indikator yang digunakan dalam penentuan kandidat tanaman mutan positif adalah warna daun, bentuk tajuk, dan bentuk daun yang dihasilkan. Daun baru yang memiliki warna, bentuk tajuk, dan bentuk daun yang berbeda dengan kontrol dihitung sebagai kandidat tanaman mutan positif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

LD50 pada Planlet Gloxinia

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat radiosensitivitas suatu tanaman terhadap iradiasi sinar gamma adalah dengan mengetahui Lethal Dosis (LD50) dari tanaman tersebut (Herison, et al., 2008). Semakin rendah LD50 suatu tanaman, maka semakin tinggi tingkat radiosensitivitasnya.

Gambar 3 memperlihatkan bahwa semakin tinggi dosis iradiasi sinar gamma yang digunakan, cenderung menurunkan persentase tanaman hidup  pada tanaman gloxinia. Persentase tanaman hidup. Persentase tanaman gloxinia hidup terkecil dihasilkan oleh dosis iradiasi 30 dan 40 Gy. Kematian tanaman setelah iradiasi dapat terjadi karena adanya efek deterministik akibat iradiasi sinar gamma. Efek deterministik adalah efek yang disebabkan karena kematian sel akibat paparan radiasi (PPIN BATAN, 2008). Efek deterministik timbul bila dosis yang diterima tanaman di atas dosis ambang (threshold dose) dan umumnya timbul beberapa saat setelah iradiasi. Tingkat keparahan efek deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar dari dosis ambang.

Gambar 3. Grafik Persentase Tanaman Gloxinia Hidup pada 4 MSI

Nilai LD50 dapat diperoleh dengan mengetahui pola respon kematian tanaman terhadap dosis iradiasi. Gambar 4 memperlihatkan bahwa pola respon persentase tanaman hidup yang dihasilkan oleh planlet tanaman gloxinia berupa respon Linier :  y = a + bx dengan a = 60,306 dan b = -2406. Nilai LD50 planlet gloxinia dapat diperoleh dengan memasukkan nilai y = 0.5 x % tanaman hidup kontrol pada persamaan, sehingga didapatkan nilai x = LD50 sebesar 127.85 Gy.

Gambar 4. Pola Respon Persentase Tanaman Hidup terhadap Beberapa

Dosis Iradiasi Sinar Gamma.

Pola respon hasil iradiasi pada umumnya berbeda antar jenis tanaman, bahkan antar varietas tanaman. Varietas gandum yang berbeda memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap iradiasi sinar gamma (Abdel-Hady dan Ali, 2006). Tanaman yang memiliki kandungan air yang tinggi, biasanya memiliki tingkat radiosensitivitas yang tinggi. Semakin banyak kadar oksigen dan molekul air (H2O) dalam materi yang diiradiasi, maka akan semakin banyak pula radikal bebas yang terbentuk sehingga tanaman menjadi lebih sensitif (Herison, et al., 2008).

Jumlah Daun

Hasil sidik ragam tersebut menunjukkan bahwa dosis iradiasi berpengaruh sangat nyata menurunkan rata-rata jumlah daun planlet gloxinia pada 3 MSI. Gambar 5 memperlihatkan bahwa dosis iradiasi 30, 60, dan 90 Gy menghasilkan rata-rata jumlah daun yang terendah. Hal ini dikarenakan tidak tunas baru pada dosis 30, 60, dan 90 Gy tidak ada yang dapat tumbuh sampai terbentuk daun sempurna, bahkan banyak diantaranya yang mati.

Gambar 5. Grafik Jumlah Daun Tanaman Gloxinia pada Berbagai Dosis Iradiasi

Hasil sidik ragam (Lampiran 2) menunjukkan bahwa faktor tunggal dosis iradiasi berpengaruh sangat nyata menurunkan rata-rata jumlah daun Aglaonema “Butterfly”. Gambar 6 memperlihatkan bahwa dosis iradiasi 30 dan 40 Gy menghasilkan rata-rata jumlah daun yang terendah. Hal ini dikarenakan beberapa daun pada dosis iradiasi tersebut mengalami kematian, baik akibat langsung iradiasi atau akibat tidak langsung iradiasi.

a                                                            b

Gambar 6. a. Daun Gloxinia yang Mati Akibat Pengaruh Langsung Iradiasi, b. Daun Gloxinia yang Mati Akibat Pengaruh Tidak Langsung Iradiasi

Daun yang mati karena efek langsung iradiasi dicirikan dengan daun yang berwarna cokelat dan kering, sedangkan daun yang mati karena efek tidak langsung terjadi karena iradiasi dapat mendegradasi klorofil pada daun, sehingga dapat mengganggu proses fotosintesi dan pada akhirnya akan mengalami kematian. Soedjono (2003) juga menjelaskan bahwa perlakuan dosis tinggi iradiasi akan mematikan bahan yang dimutasi  atau mengakibatkan sterilitas, sedangkan pada dosis iradiasi yang rendah pada umumnya dapat mempertahankan daya hidup atau tunas tanaman. Agustrial, (2008) menjelaskan bahwa mutasi pada gen kloroplas dapat menyebabkan kerusakan gen mutan (defective mutant genes) yang kemudian dapat mengganggu proses fotosintesis pada daun

Kandidat Tanaman Mutan Positif

Kandidat tanaman mutan positif pada percobaan ini dibedakan menjadi 3, yaitu: 1)  Mutan variegata, 2) Mutan Berbatang merah, dan 3) Mutan daun kecil rimbun. Terdapat total 15 kandidat mutan variegata, 5 kandidat berbatang merah, dan 5 kandidat mutan daun kecil rimbun. Pola penyebaran berbagai kandidat mutan pada dosis iradiasi dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Penyebaran Kandidat Mutan Tanaman Gloxini pada Berbagai Dosis Iradiasi.

Dosis Iradiasi Jumlah Kandidat Mutan
Variegata Batang Merah Daun Kecil Rimbun
0 Gy 0 0 0
10 Gy 1 1 1
20 Gy 8 2 2
30 Gy 5 2 0
40 Gy 1 0 2

Terbentuknya tanaman kandidat mutan berdaun variegata (Gambar 7) diduga dikarenakan energi radiasi sinar gamma dapat menyebabkan kerusakan atau mutasi gen pada kloroplas. Gen pada kloroplas yang rusak atau termutasi tersebut akan terus bertambah dan terbawa saat pembelahan sel, sehingga akhirnya menimbulkan warna hijau daun menjadi tidak tampak atau efek variegata. Mutasi gen pada kloroplas dapat mengganggu proses fotosintesis, sehingga terbentuk warna belang pada daun tanaman (Agustrial, 2008).

Gambar 7.  Efek Daun Variegata akibat Iradiasi Sinar Gamma pada Planlet Gloxinia

Kandidat mutan gloxinia berbatang merah (Gambar 8) diduga terjadi karena iradiasi dinar gamma merusak gen – gen konstitutif yang mengendalikan warna merah tersebut, sehingga warna merah pada batang dapat terekspresi. Syukur (2000) menjelaskan bahwa peningkatan rata-rata tinggi tanaman bisa saja terjadi karena pemberian radiasi dapat menimbulkan mutasi pada beberapa basa-basa DNA yang mungkin mengenai gen-gen fungsional atau struktural tertentu yang ekspresinya dapat mempengaruhi fenotip mutan.

Gamba 8 Gloxinia Berbatang Merah akibat Iradiasi Sinar Gamma

Kandidat tanaman mutan gloxinia berdaun kecil rimbun (Gambar 9) dapat terjadi diduga karena terganggunya kerja enzim yang mengatur pertunasan. Gangguan yang  terjadi pada umumnya adalah pengtidakaktifan enzim tersebut, sehingga menyebabkan pertumbuhan yang terhambat atau mati.

Gambar 9 Kandidat Mutan Gloxinia Berdaun Kecil Rimbun akibat Iradiasi Sinar

Gamma.

Perlakuan iradiasi dapat menyebabkan enzim yang merangsang pertunasan menjadi tidak aktif, sehingga berhubungan dengan pertumbuhan tanaman (Hartati, 2000). Namun, hasil yang peroleh pada percobaan ini adalah berupa pertumbuhan daun yang sangat banyak dengan ukuran daun yang kecil. Hal ini diduga karena gangguan yang dialami enzim yang merangsang pertunasan menjadi sangat aktif. Hal ini dapat saja terjadi karena pada dasarnya efek dari iradiasi sinar gama adalah trial and error.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pola respon persentase tanaman hidup akibat iradiasi sinar gamma berupa respon linier Linier :  y = a + bx dengan a = 60,306 dan b = -2406. Nilai LD50 planlet gloxinia dapat diperoleh dengan memasukkan nilai y = 0.5 x % tanaman hidup kontrol pada persamaan, sehingga didapatkan nilai x = LD50 sebesar 127.85 Gy. Beradasarkan nilai tersebut diduga planlet gloxinia memiliki tingkat radiosensitivitas yang cukup tinggi.

Iradiasi sinar gamma berpengaruh sangat nyata menghambat pertumbuhan jumlah daun planlet gloxinia. Iradiasi sinar gamma pada planlet gloxinia menghasilkan 3 tipe kandidat mutan yang positif untuk dikembangkan, yang terdiri dari 15 kandidat mutan gloxinia berdaun variegata, 5 kandidat mutan gloxinia berbatang merah, dan 5 kandidat mutan gloxinia berdaun kecil rimbun.

Saran

Perlu dilakukan penanaman di lapang agar terlihat pengaruh iradiasi yang sebelumnya baru terlihat dalam planlet, sehingga nantinya dapat diperbanyak secara vegetatif.

Perlu diuji kembali erhadap LD50 yang dihasilkan pada percobaan ini, sehingga akan lebih yakin lagi terhadap dosis tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, S. I. 2006. Induksi Mutagen Fisik pada Anyelir (Dianthus caryopphyllus Linn.) dan Pengujian Stabilitas Mutannya yang Diperbanyak secara Vegetatif. Disertasi. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 195 hal.

BATAN. 2008. Radiasi. http://www.batan.go.id/organisasi/kerjasama.php. 19 Desember 2008.

Cooke, A. R. 1955. The effect of continuous gamma irradiation on the growth hormone content of green plants. Academy Of Science. 47-48.

Crowde, L. V. 1986. Mutagenesis. Hal 322 – 356. Dalam Soetarso (Ed). Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Faradilla, F. M. 2008. Mutasi Induksi Melalui Sinar Gamma Pada Dua Kultivar Anthurium andreanum (A. Andreanum “Mini” dan A. Andreanum “Holland”). Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 49 hal.

Fauza, H., M. H. Karmana, Neni R., dan Ika M. 2005. Pertumbuhan dan variabilitas fenotipik manggis hasil iradiasi sinar gamma. Zuriat. 16(2):133-145.

Handayati, W. 2006. Keragaman genetik mawar mini dengan iradiasi sinar gamma. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 28(4):17-18.

Herison, C., Rustikawati, Sujono H. S., Syarifah I. A. 2008. Induksi mutasi melalui sinar gamma terhadap benih untuk meningkatkan keragaman populasi dasar jagung (Zea mays L.). Akta Agrosia 11(1):57-62.

Hidayat, D. 2004. Terungkapnya Asal-Usul Sinar Kosmis. Tempo. 5 November 2004.

Karniasan, N. 2005. Mutasi Induksi Melalui Radiasi Sinar Gamma pada Planlet Mawar (Rosa hybrida L.). Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.37 hal.

Kusumo, D., P. D. Tjondronegoro, I. Mariska, dan Hendratno. 1989. Pengaruh Iradiasi Gamma pada Kultur In Vitro Krisan (Chrysanthemum moryfolium RAM.). Risalah Simposium Aplikasi Isotop dan Radiasi. Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Jakarta. 793-800.

Mariska, I., Hobir, Endang G., dan Deliah S. 1996. Peningkatan Keragaman Genetik Tanaman Nilam Melalui Kultur Kalus dan Iradiasi. Risalah Pertemuan Ilmiah Aplikasi Isotop dan Iradiasi. Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Jakarta. Buku II:65-72.

Mattjik, A.A. dan M, Sumertajaya. 2002. Perancangan Percobaan. Jilid satu, edisi kedua. IPB Press. Bogor. 287 hal.

Melina, R. 2008. Pengaruh Mutasi Induksi dengan Iradiasi Sinar Gamma terhadap Keragaan Dua Spesies Philodendron (Philodendron bipinnatifidum cv. Crocodile teeth dan P. Xanadu). Skripsi. Program Studi Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 41 hal.

Misniar, R. P. 2008. Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma Terhadap Keragaman Aglaonema Sp. Skripsi. Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 42 hal.

Nur, M., Nintya S., M. Azam., dan Ika I. S. 2007. Kajian fisis radiasi plasma terhadap organ daun pada pertumbuhan awal tanaman anggrek Phalaepnosis amabilis. Berkala Fisika. 10(1):53-59.

Poehlman, J. M., and D. A. Sleper. 1995. Breeding Field Crops. Iowa State University Press. Ames. 432 p.

Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU IPB dan LSI-IPB. Bogor. 168 hal.

PPIN BATAN. 2008. Radiasi. http://www.batan.go.id/FAQ/faq_radiasi.php. [31 Oktober 2009]

Qodriyah L. Dan A. Sutisna. 2007. Teknik perbanyakan vegetatif beberapa aksesi Aglaonema menggunakan setek mata tunas tunggal dengan batang terbelah. Buletin Teknik Pertanian. 12(2):74-77.

Qosim, W. A., R. Purwanto, G. A. Watimena, dan Wijaksono. 2007. Perubahan anatomi daun pada regeneran manggis akibat iradiasi sinar gamma in vitro. Zuriat. 18(1):20-30.

Salisbury, F. B. and C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. D. R. Lukman dan Sumaryono (Penerjemah). ITB. Bandung. 343 hal. Terjemahan dari: Plant physiology.

Soedjono, S. 2003. Aplikasi mutasi induksi dan variasi somaklonal dalam pemuliaan tanaman. Jurnal Litbang Pertanian. 22(2) : 70-78.

Syukur, S. 2000. Efek Iradiasi Gamma pada Pembentukan Variasi Klon dari Catharantus roseus [L.] Don. Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi. Biochemistry Biotechnology Lab. Andalas University Padang. Padang. 33-37.

Wulan, M. T. 2007. Peningkatan Keragaman Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis Linn.) Melalui Induksi Iradiasi Sinar Gamma. Skripsi. Departemen Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB.Bogor.

Wuryan. 2009. Pengaruh iradiasi sinar gamma terhadap penampilan dan viabilitas planlet lima genotipe krisan potong. http://wuryan.wordpress.com/[10 April 2009]

LAPORAN PRAKTEK USAHA PERTANIAN PRODUKSI BENIH KACANG TANAH VARIETAS GAJAH

Download pdf lengkap Laporan Produksi Benih Kacang Tanah klik disini..!!

Latar Belakang

Industri benih berbeda dengan industri lain pada umumnya karena yang dikelola dalam industri benih adalah suatu kehidupan dengan kepekaan yang tinggi terhadap faktor lingkungan baik pada saat diproduksi maupun pada saat penanganan pasca panen sampai dengan rantai pemasarannya. Industri benih sangat terikat waktu. Produksinya tidak dapat dipercepat untuk memenuhi kebutuhan pasar, dan produksinya pun harus dapat mempertahankan sifat genetis dan fisiknya agar benih yang dihasilkan dapat memenuhi kriteria benih yang berkualitas.

Industri benih di Indonesia mempunyai prospek yang baik. Kemampuan produksi benih masih jauh di bawah permintaan kebutuhan benih untuk usaha tani di Indonesia. Kemampuan produksi benih hortikultura masih di bawah 10% dari kebutuhan benih nasional. Indonesia yang merupakan Negara tropis memiliki kondisi lingkungan, sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang sangat potensial untuk menopang perkembangan industri benih nasional. Selain itu, dalam GBHN 1988, pemerintah memberikan peluang yang cukup besar bagi tumbuh dan kembangnya industri benih di Indonesia.

Kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan salah satu tanaman pangan utama selain beras. Di bidang industri, kacang tanah digunakan sebagai bahan untuk membuat keju, mentega, sabun dan minyak goreng. Hasil sampingan dari minyak dapat dibuat bungkil (ampas kacang yang sudah dipipit/diambil minyaknya) dan dibuat oncom melalui fermentasi jamur. Manfaat daun kacang tanah, selain dibuat sayuran mentah ataupun direbus juga digunakan sebagai bahan pakan ternak serta pupuk hijau. Sebagai bahan pangan dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kacang tanah mengandung lemak (40,50%), protein (27%), karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), juga mengandung mineral antara lain Calcium, Chlorida, Ferro, Magnesium, Phospor, Kalium dan Sulphur.

Produksi kacang tanah per hektar masih belum dapat optimal. Melihat pentingnya komoditi tersebut, maka perlu diupayakan optimalisasi produksi kacang tanah. Upaya optimalisasi produksi kacang tanah dipengaruhi ketersediaan benih bermutu. Permintaan benih kacang tanah  yang tinggi, tidak dapat diimbangi dengan kemampuan dalam memproduksi benih kacang tanah, sehingga pengembangan usaha produksi benih kacang tanah masih cukup potensial untuk dikembangkan. Harga benih kacang tanah yang relatif stabil merupakan salah satu keunggulan dalam usaha produksi benih kacang tanah.

Tujuan

Kegiatan praktik usaha pertanian ini mempunyai tujuan agar:

1.      Mahasiswa mengetahui aspek-aspek dalam kegiatan produksi benih, terutama benih kacang tanah.

2.      Mahasiswa mampu secara teoritis maupun praktis melaksanakan kegiatan produksi benih kacang tanah beserta pemasarannya.

3.      Mahasiswa mampu menganalisa berbagai kendala dalam kegiatan produksi kacang tanah dan mampu memberikan rekomendasi solusi untuk perbaikan ke depannya.


TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah Singkat

Kacang tanah merupakan tanaman pangan. Kacang tanah masuk ke Indonesia diperkirakan dibawa oleh para pedagang Spanyol sewaktu melakukan pelayaran dari Meksiko menuju Maluku setelah tahun 1597. Pada tahun 1863, Holle memasukan kacang tanah dari Inggris dan pada tahun 1864 Scheffer memasukan pula kacang tanah dari Mesir (Purwono dan Purnamawati, 2007).

Botani dan Klasifikasi

Tanaman kacang tanah memiliki perakaran yang banyak, dalam, dan berbintil. Panjang akarnya dapat mencapai 2 m. Daun kacang tanah merupakan daun majemuk dengan empat helai daun. Setelah penyerbukan, ginofor akan tumbuh dari dasar bunga hingga 15 cm. Ginofor ini akan terus tumbuh secara geotropisme. Setelah menembus tanah dan mencapai kedalaman 2 – 7 cm, ginofor akan tumbuh mendatar, membengkak, dan membentuk polong (Purwono dan Purnamawati, 2007).

Tanaman kacang tanah termasuk kedalam tanaman legu-leguman, berikut adalah taksonomi tanaman kacang tanah:

Kingdom          : Plantae atau tumbuh-tumbuhan

Divisi               : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji

Sub Divisi        : Angiospermae atau berbiji tertutup

Klas                 : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua

Ordo                 : Leguminales

Famili              : Papilionaceae

Genus               : Arachis

Perbanyakan tanaman kacang tanah dilakukan secara generative dengan menggunakan biji. Benih kacang tanah disimpang dalam bentuk polong kering agar tidak mudah rusak. Benih kacang tanah tidak memiliki masa dormansi sehingga mudah tumbuh jika terlambat dipanen. (Purwono dan Purnamawati, 2007).

Morfologi

Bagian-bagian tanaman kacang tanah dapat dideskripsikan sebagai berikut.

1.      Daun

Daun pertama yang tumbuh adalah kotiledon. Daun pertama tersebut terangkat ke atas permukaaan tanah selagi biji kacang berkecambah. Daun berikutnya berupa daun tunggal dan berbentuk bundar. Pada pertumbuhan selanjutnya tanaman kacang tanah membentuk daun majemuk bersirip genap, terdiri atas empat anak daun dengan tangkai daun agak panjang. Helaian anak daun ini beragam: ada yang berbentuk bulat, elips dan agak lancip, tergantung varietasnya. Permukaan daun ada yang tidak berbulu dan ada yang berbulu. Bulu daun ada yang hanya sedikit dan pendek, sedikit dan panjang, banyak dan pendek, ataupun banyak dan panjang.

2.      Batang

Batang tanaman kacang tanah tidak berkayu dan berbulu halus, ada yang tumbuh menjalar dan ada yang tegak. Tinggi batang rata-rata sekitar 50 cm, namun ada yang mencapai 80 cm. tanaman yang bertipe menjalar tumbuh ke segala arah dan dapat mencapai garis tengah 150 cm. bagian bawah batang merupakan tempat menempelnya perakaran tanaman. batang di atas permukaan tanah berfungsi sebagai tempat pijakan cabang primer, yang masing-masing dapat membentuk cabang sekunder. Tanaman tipe tegak membentuk percabangan antara 3-6, sedangkan tipe menjalar dapat membentuk 10 cabang primer. Pada cabang primer terbentuk cabang sekunder dan kemudian tumbuh cabang tersier. Batang dan cabang kacang tanah berbentuk bulat, bagian atas batang ada yang berbentuk agak persegi, sedikit berbulu dan berwarna hijau.

3.      Akar

Kacang tanah berakar tunggang yang tumbuh lurus ke dalam tanah hingga kedalaman 40 cm. pada akar tunggang tersebut tumbuh akar cabang dan diikuti oleh akar serabut. Akar kacang berfungsi sebagai penopang berdirinya tanaman serta alat penyerap air dan zat-zat hara serta mineral dari dalam tanah. Cabang dan akar rambut berperanuntuk memperluas permukaan akar guna meningkatkan daya serap akar tanaman tersebut. Pada pangkal dan cabang akar tunggang kacang tanah biasanya terdapat bintil-bintil bakteri Rhizobium yang berperan dalam penyerapan nitrogen dari udara bebas.

Pada varietas bertipe menjalar, terdapat perakaran tanaman yang muncul dari buku-buku cabang dab menjalar menyentuh tanah. Dengan adanya akar ini, daerah penyerapan unsure hara akan lebih luas karena akar adventif ini juga berfungsi sebagai alat pengisap atau penyerap air dan hara dari dalam tanah.

4.      Bunga

Bunga kacang tanah mulai muncul dari ketiak daun pada bagian bawah tanaman yang berumur antara 4-5 minggu dan berlangsung hingga umur sekitar 80 hari setelah tanam. Bunga berbentuk kupu-kupu (papilionaceus), berukuran kecil, dan terdiri atas lima daun tajuk. Dua diantara daun tajuk tersebut bersatu seperti perahu. Di sebelah atas terdapat sehelai daun tajuk yang paling lebar yang dinamakan bendera (vexillum), sementara di kanan dan kiri terdapat dua tajuk daun yang disebut sayap (ala). Setiap bunga bertangkai berwarna putih. Tangkai bunga sebenarnya adalah tabung kelopak. Mahkota bunga (corolla) berwarna kuning atau kuning kemerah-merahan. Bendera dari makhota bunga bergaris-garis merah pada pangkalnya.

Bunga kacang tanah pada umumnya melakukan penyerbukan sendiri. Penyerbukan terjadi menjelang pagi, sewaktu bunga masih kuncup (kleistogami) (Sumarno, 1986). Penyerbukan silang dapat terjadi, namun persentasenya sangat kecil, sekitar 0, 5 %.

Umur bunga tidak lama: setelah terjadi penyerbukan, daun mahkota mekar penuh, dan pada hari berikutnya akan layu dan gugur. Bunga yang berhasil menjadi polong biasanya hanya bunga yang terbentuk pada sepuluh hari pertama. Bunga yang muncul selanjutnya sebagian besar akan gugur sebelum menjadi ginofora (bakal buah).

5.      Buah

Buah kacang tanah berada di dalam tanah. Setelah terjadi pembuahan, bakal buah tumbuh memanjang dan nantinya akan menjadi tangkai polong. Mula-mula, ujung ginofora yang runcing mengarah ke atas, kemudian tumbuh mengarah ke bawah dan selanjutnya masuk ke dalam tanah sedalam 1-5 cm. pada waktu menembus tanah, pertumbuhan memanjang ginofora akan terhenti. Panjang ginofora ada yang mencapai 18 cm. tempat berhentinya ginofora masuk ke dalam tanah tersebut menajdi tempat buah kacang tanah. Ginofora yang terbentuk di cabang bagian atas dan tidak masuk ke dalam tanah akan gagal membentuk polong.

Setiap polong kacang tanah berisi 1-4 biji, namun kebanyakan 2-3 biji. Setiap pohon memiliki jumlah dan isi polong beragam, tergantung pada varietas dan tanaman yang dibudidayakan. Polong kacang tanah dapat dibedakan berdasarkan beberapa hal, yaitu:

a.       Berdasarkan ukuran panjangnya, polong kacang tanah dapat dibedakan menjadi lima: sangat kecil (<1,5 cm); kecil (<2 cm); sedang (<2,5 cm); besar (<3 cm); dan sangat besar (>3 cm).

b.      Berdasarkan beratnya, polong kacang tanah dapat dibedakan menjadi lima: sangat kecil (<50 g); kecil (<65 g); sedang (<105 g); besar (<155 g); dan sangat besar (>155 g).

c.       Berdasarkan bentuk paruhnya, polong kacang tanah dapat dibedakan menjadi lima tipe: tidak berparuh, sedikit berparuh, agak berparuh, berparuh, dan sangat berparuh.

d.      Berdasarkan bentuk pinggangnya, polong kacang tanah dapat dibedakan menjadi enam tipe: tidak berpinggang, sedikit berpinggang, agak berpinggang, berpinggang, berpinggang dalam, dan berpinggang sangat dalam.

e.       Berdasarkan lukisan jarring pada kulitnya, polong kacang tanah dapat dibedakan menjadi empat tipe: halus, agak halus, sedang dan kasar.

6.      Biji

Biji kacang tanah terdapat di dalan polong. Kulit luar (testa) bertekstur keras, berfungsi untuk melindungi biji yang berada di dalamnya. Biji terdiri atas lembaga dan keeping biji, diliputi oleh kulit ari tipis(tegmen). Biji berbentuk bulat agak lonjong atau bulat dengan ujung agak datar karena berhimpitan dengan butir biji yang lain selagi di dalam polong. Warna kulit biji bervariasi: merah jambu, merah, cokelat, merah tua, dan ungu. Biji kecil berukuran sekitar 20 g/100 biji, biji sedang sekitar 50 g/100 biji, dan biji besar lebih dari 50 g/100 iji. Varietas local pada umumnya memiliki biji kecil yaitu 30-40 g/100 biji. Rendemen biji dari polong berkisar antara 50 %-70 %.

Benih kacang tanah

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman, batasan tentang benih tanaman (selanjutnya disebut benih) adalah tanaman atas bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman. benih varietas unggul yang telah dilepas oleh pemerintah sebagai benih bina, apabila akan diperbanyak dan diedarkan harus melalui proses sertifikasi serta harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Benih kacang tanah pada hakikatnya adalah biji botanis. Di Indonesia, benih kacang tanah dibedakan berdasarkan mutu genetiknya menjadi empat kelas, yaitu benih penjenis (BS), benih dasar (BD), benih pokok (BP), dan benih sebar (BR).

a.       Benih penjenis adalah benih yang diproduksi dan diawasi serta dievaluasi oleh pemulia tanaman kacang tanag, ditandai dengan label putih.

b.      Benih dasar adalah benih keturunan pertama dari benih penjenis. Benih tersebut diproduksi oleh lembaga atau penangkar, di bawah bimbingan serta pengawasan ketat dari pemulia tanaman kacang tanah. Benih dasar ditandai dengan label putih.

c.       Benih pokok adalah keturunan pertama dari benih dasar atau keturunan kedua dari benih penjenis. Benih tersebut diproduksi oleh lembaga atau penangkar benih di bawah pengawasan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Benih tersebut ditandai dengan label ungu.

d.      Benih sebar adalah benih keturunan pertama dari benih pokok. Benih sebar diproduksi oleh penangkar di bawah pengawasan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, ditandai dengan label biru.

Benih kacang tanah secara fisik dipersyaratkan sebagai berikut: memiliki embrio, keeping biji atau kotiledon, dan kulit ari; murni, tidak tercampur benih varietas yang lain, seragam, bernas, tidak keriput, dan kulit ari tidak rusak; embrio dan kotiledon tidak rusak; kadar air kurang dari 10 %; dan daya tumbuh benih lebih dari 80 %. Adapun sifat benih kacang tanah pada umumnya, yaitu sebagai berikut.

a.       Sangat higroskopis Karena mengisap air dari lingkungan sekelilingnya sehingga kadar air biji akan cepat naik mengikuti pola kelembaban udara/tanah di tempat benih tersebut diletakkan.

b.      Proses metabolisme dan respirasi dalam benih sangat tinggi sehingga pada kondisi penyimpanan yang bersuhu tinggi, daya tumbuhnya akan cepat menurun.

c.       Kulit ari biji umumnya tipis sehingga mudah terinfeksi oleh cendawan, bakteri maupun virus.

Deskripsi kacang tanah varietas Gajah

Asal                             : Persilangan antara no. 21 dan no. 111

Batang                         : Berdiri tegak, berwarna hijau muda berbulu putih

Daun                           : Berwarna hijau muda, berbulu putih

Warna bunga               : Kuning

Warna ginofora           : Ungu/ keunguan

Konstruksi polong      : Sedikit dengkeng (wenningingesnoerd), berurat agak kasar, dan pelatuk kurang jelas

Warna kulit biji           : Merah jambu/ros

Ketahanan                   :Tahan terhadap penyakit layu (Pseudomonas solanacearum)

Umur berbunga           : ± 30 hari

Umur panen                : 100-110 hari

Bobot 1000 biji           : 537 g

% polong kering          : 60-70 %

Potensi hasil                : 12-18 kw polong kering/ha

Kadar lemak                : 48 %

Kadar protein              : 29 %

Produksi Benih Kacang Tanah

Metode pelaksanaan yang dilakukan dalam kegiatan produksi benih kacang tanah adalah:

  • Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dilakukan dengan alat cangkul, luku atau traktor sedalam 20-30cm. Tujuan pengolahan tanah adalah untuk memperbaiki struktur dan aerasi tanah agar pertumbuhan akar dan pengisapan zat hara oleh tanaman dapat berlangsung dengan baik.

  • Penanaman

Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal sedalam 3 cm dengan 2 butir benih perlubang dan jarak tanam 40 cm x 10 cm. Kemudian lubang tanam ditutup tanah secara tipis.

  • Pemeliharaan

1.      Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea, SP36 dan KCI dengan dosis 60-90 kg Urea, 60-90 kg SP36 dan 50 kg KCI. Per hektar. Pemupukan dilakukan dengan memasukkan pupuk kedalam lubang tugal disisi kiri kanan lubang tanam atau disebar merata kedalam larikan.

2.      Penyulaman

Penyulaman dilakukan apabila ada benih yang tidak tumbuh. Penyulaman dilakukan dengan membuat lubang tanam baru pada bekas lubang tanam terdahulu. Tujuan dari penyulaman ini adalah untuk mempertahankan populasi.

3.      Penyiangan dan pembumbunan

Penyiangan dilakukan 2 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam dan penyiangan kedua dilakukan pada umur 40 bari setelah tanam. Pada penyiangan kedua ini juga dilakukan pembumbunan yaitu tanah digemburkan kemudian ditimbun didekat pangkal batang tanaman. Pembumbunan bertujuan memudahkan bakal buah menembus permukaan tanah sehingga pertumbuhannya optimal.

4.      Roguing

Produsen benih bersertifikat disarankan me-roguing tanamannya pada fase vegetative (sekitar 15 HST) dan sebelum pemeriksaan kedua berakhir (20 hari sebelum panen), walaupun dengan system perbanyakan benih poligenerasi pemeriksaan penanaman hanya dilakukan pada fase pembungaan. Roguing pertama didasarkan pada warna hipokotil, sedangkan yang kedua berdasarkan pada tipe pertumbuhan. Selain itu tanaman simpang dapat dibedakan berdasarkan ukuran tanaman, warna helaian daun, warna bunga atau selainnya.

5.      Pengairan

Tanaman kacang tanah tidak menghendaki air yang menggenang. Fase kritis untuk tanaman Kacang Tanah adalah rase perkecambahan, rase pertumbUhan dan rase pengisian polong. Waktu pengairan yang baik adalah pagi atau sore hari dengan cara dileb hingga tanah cukup basah.

6.      Pengendalian hama dan penyakit tanaman

Pengendalian dilakukan dengan cara manual dan kimia. pengendalian secara manual digunakan apabila serangan tidak terlalu banyak, sedangakan pengendalian secara kimiawi dipakai jika serangan hama dan penyakit sudah menghawatirkan.

  • Pemanenan

Penentuan saat panen yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan produk Kacang Tanah. Pedoman umum yang digunakan sebagai kriteria penentuan saat panen Kacang Tanah adalah sebagai berikut :

- Sebagian besar daun menguning dan gugur ( rontok ).
- Tanaman berumur 85 -110 hari tergantung,Varietasnya. -Sebagian besar polongnya ( 80 % ) telah tua. “
- Kulit polong cukup keras dan berwarna cokelat kehitam-hitaman.
- Kulit biji tipis dan mengkilap.
- Rongga polong telah berisi penuh dengan biji.

Panen dilakukan dengan mencabut batang tanaman secara hati-hati agar polongnya tidak tertinggal dalam tanah.

  • Pengujian

Pengujian yang dilakukan dalam kegiatan produksi benih kacang tanah adalah pengujian kadar air benih dan pengujian daya berkecambah benih. Pengujian kadar air dilakukan secara langsung dengan menggunakan oven pada saat setelah panen dan sebelum dikemas. Pengujian daya berkecambah dilakukan dengan UKD-DP.

  • Pasca panen

Kegiatan pokok pasca panen Kacang Tanah adalah sebagai berikut :

a. Setelah dipanen brangkasan Kacang Tanah dipotong lebih kurang 10 cm kemudian dibersihkan.
b. Pemipilan
Pipil polong Kacang Tanah dari batangnya dengan tangan.
c. Pengeringan
Tebarkan polong Kacang Tanah di atas anyaman bambu atau tabir sambil dijemur dibawah terik matahari sampai kering (Kadar air 9% – 12%).
d. Penyimpanan.

1) Penyimpanan dalam bentuk polong kering.Masukkan polong kering kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat, lalu simpan digudang penyimpanan yang tempatnya kering.
2) Penyimpanan dalam bentuk biji kering.Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu masukkan ke dalam wadah tertutup untuk disimpan atau dijual.

Analisis Ekonomi Budidaya Tanaman

Analisis Usaha Budidaya

Tabel 1 Analisis Produksi Benih Kacang Tanah
No Uraian Kebutuhan Satuan Harga/Satuan Jumlah
(Rp) (Rp)
A Biaya
1 Sewa Lahan 1 Musim Tanam 1 ha 1000000 1000000
2 Benih 50 Kg 15000 750000
3 Pupuk dan Kapur
Urea 50 Kg 1600 80000
SP-36 100 Kg 1600 160000
KCl 100 Kg 2250 225000
Kapur 500 Kg 300 150000
4 Pestisida
Pestisida cair 2 Liter 60000 120000
Insektisida butiran 10 Kg 10000 100000
5 Tenaga Kerja
Pengolahan tanah 30 HOK 20000 600000
Penanaman 20 HOK 20000 400000
Pemeliharaan 30 HOK 20000 600000
Panen dan Pasca Panen 20 HOK 20000 400000
6 Penyusutan Alat 1 Paket 100000 100000
Total 4685000
B Pendapatan 2000 kg 3500 7000000
c Keuntungan 2315000
D R/C Rasio 1,49413

BAHAN DAN METODE

Waktu Pelaksanaan

Kegiatan produksi benih kacang tanah ini dimulai dari tanggal 5 September 2008 sampai dengan 28 November 2008 di Kebun Percobaan Leuwikoppo Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam proses produksi benih kacang tanah adalah: Lahan tanam, benih kacang tanah varietas gajah, furadan, pupuk organik dan anorganik, dan pestisida.

Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan produksi benih kacang tanah adalah: Cangkul, tugal, koret, karung, oven, dryer, aluminiumfoil, kertas kopi, dan lain-lain.

Metode Pelaksanaan

Kegiatan produksi benih kacang tanah yang dilakukan dimulai dari kegiatan pemeliharaan, bukan dimulai dari pengolahan tanah pada umumnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan produksi benih kacang tanah adalah:

  • Perencanaan

Perennaan dilakukan oleh semua anggota tim pratikan produksi benih yang dibimbing oleh Ibu Tatik sebagai dosen pembimbing kelompok pratikum produksi benih.

  • Penanaman

Pengolahan tanah tidak dilakukan oleh pratikan tetap dikerjakan oleh para pekerja.

  • Pemeliharaan

1.      Pemupukan

Pupuk yang diberikan ditujukan untuk pemupukan tanaman jarak, Sehingga tidak dilakukan pumupukan khusus untuk tanaman kacang tanah yang ditanam sebgai tanaman sela pada penanaman tanaman jarak.

2.      Penyulaman

Pratikann tidak melakukan kegiatan penyulaman.

3.      Penyiangan dan pembumbunan

Penyiangan dilakukan setiap minggu sampai saat panen panen tiba sedangkan pembubunan dilakukan setiap minggu sampai tanaamn tidak mengahasilkna bunga lagi.

4.      Roguing

Roguing dilakukan setiap minng bersama denga kegiatan penyiangan.

5.      Pengairan

Tidak diberikan pengairan yang rutin pada kegiatan pertanaman ini. pengairan hanya bertumpu pada air hujan.

6.      Pengendalian hama dan penyakit tanaman

Pengendalian dilakukan dengan cara manual dan kimia. pengendalian secara manual digunakan apabila serangan tidak terlalu banyak, sedangkan pengendalian secara kimiawi dipakai jika serangan hama dan penyakit sudah menghawatirkan.

  • Pemanenan

Penentuan saat panen yang tepat harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan produk Kacang Tanah. Pedoman umum yang digunakan sebagai kriteria penentuan saat panen Kacang Tanah adalah sebagai berikut :

- Sebagian besar daun menguning dan gugur ( rontok ).
- Tanaman berumur 85 -110 hari tergantung,Varietasnya. -Sebagian besar polongnya ( 80 % ) telah tua. “
- Kulit polong cukup keras dan berwarna cokelat kehitam-hitaman.
- Kulit biji tipis dan mengkilap.
- Rongga polong telah berisi penuh dengan biji.

Panen dilakukan dengan mencabut batang tanaman secara hati-hati agar polongnya tidak tertinggal dalam tanah.

  • Pengujian

Pengujian yang dilakukan dalam kegiatan produksi benih kacang tanah adalah pengujian kadar air benih dan pengujian daya berkecambah benih. Pengujian kadar air dilakukan secara langsung dengan menggunakan oven pada saat setelah panen dan sebelum dikemas. Pengujian daya berkecambah dilakukan dengan UKDdp.

  • Pasca panen

Kegiatan pokok pasca panen Kacang Tanah adalah sebagai berikut :

a. Setelah dipanen brangkasan Kacang Tanah dipotong lebih kurang 10 cm kemudian dibersihkan.
b. Pemipilan
Pipil polong Kacang Tanah dari batangnya dengan tangan.
c. Pengeringan
Tebarkan polong Kacang Tanah di atas anyaman bambu atau tabir sambil dijemur dibawah terik matahari sampai kering (Kadar air 9% – 12%).
d. Penyimpanan.

1) Penyimpanan dalam bentuk polong kering.Masukkan polong kering kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat, lalu simpan digudang penyimpanan yang tempatnya kering.
2) Penyimpanan dalam bentuk biji kering.Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu masukkan ke dalam wadah tertutup untuk disimpan atau dijual.
  • Penjualan

Penjualan dilakukan dalam bentuk kemasan 1 Kg yang masing-masing dijual sengan harga Rp 15.000/Kg. Penjulan benih kacang tanah dilakukan disekitar kampus dan Bogor.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Produksi Kacang Tanah

Pratikum praktek usaha pertanian produksi benih kacang tanah menghasilkan total berat benih sebesar 13 Kg. Benih-benih tersebut diperoleh dari hasil tiga kali panen. Panen pertama menghasilkan 25 Kg, panen kedua mengahsilkan 24 kg, dan panen ketiga menghasilkan 6.75 kg. Setelah dilakukan pengeringan, pengujian, dan sortasi dihasilkan total 13 kg benih kacang tanah siap jual. Data produksi benih kacang tanah dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 2 Produksi Benih Kacang Tanah per  640 m²
Total Berat Basah Benih Kacang Tanah
Panen 1 25 Kg 9 Kg
Panen 2 24 Kg 2 Kg
Panen 3 6.75 Kg 2 Kg

Produksi kacang tanah yang total sebesar 55.75 kg merupakan pencapaian produksi yang masih rendah dan masih dibawah standar yang ada. Faktor utama yang menyebabkan produksi kacang tanah menjadi rendah adalah tujuan awal penanaman tanaman kacang tanah yang akan dijadikan benih bukan untuk produksi benih, melainkan untuk tanaman konsumsi dan hanya ditanam sebagai tanaman sela pada tanaman jarak sehingga menyebabkan kegiatan budidaya tanaman kacang tanah menjadi tidak maksimal.

Penanaman kacang tanah sebagai tanaman sela pada tanaman jarak ini menyebakan beberapa hal, yaitu pertama, pada produksi benih kacang tanah  tidak dilakukan pemupukan secara khusus untuk tanaman kacang tanah. Dosis pupuk yng diberikan terbatas untuk tanaman jarak. Sehingga pemupukan yang diberikan hanya secara khusus bertujuan untuk menyediakan hara bagi tanaman jarak bukan untuk tanaman kacang tanah. Tanaman kacang tanah hanya sebatas mengambil hara-hara sisa dari unsur yang ditujukan untuk tanaman jarak. Kekurangan hara pada akhirnya menyebabkan produksi kacang tanah menjadi tidak maksimal. Kedua, tidak dilakukan pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hanya dilakukan pada tanaman jarak sebagai tanaman utama. Keadaan lahan yang kurang baik menjadikan semakin bertambah parahnya serangan penyakit terhadap tanaman kacang tanah. Hal yang paling nyata terlihat adalah sebagian tanaman kacang tanah pertumbuhannya menjadi kerdil seperti pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Menjadi Kerdil Akibat Serangan Hama dan Penyakit

Faktor lain menyebabkan rendahnya produksi kacang tanah adalah tidak dilakukannya kegiatan penyiangan dan pembumbunan dengan baik. Kegiatan penyiangan yang tidak baik menyebabkan terjadinya kompetisi hara antara tanaman optimum, dan ditambah lagi pemupukan yang dilakukan ditujukan untuk tanaman jarak menyebabkan tanaman kacang tanah mengalami defisiensi hara. Selain itu, keberadaan gulma yang tidak terkendali menyebabkan tanaman kacang tanah tidak terlihat sehingga tanaman kacang tanah menjadi sulit panen pada saat pemanenan seperti yang terdapat pada gambar 2.

Gambar 2. Tanaman Kacang Tanah yang Tidak Jelas Terlihat Akibat Tidak Terkendalinya Gulma

Pembumbunan yang tidak baik menyebabkan bunga tanaman kacang tanah menjadi tidak tertimbun tanah sehingga akhirnya tidak dapat menjadi polong yang berisi. Gambar 3 memperlihatkan tanaman kacang tanah yang mengahasilkan polong yang tidak maksimal akibat tidak dikukannya penyiangan dan pembumbunan yang baik.

Gambar 3 Tanaman Kacang Tanah Tidak Menghasilkan Polong Kacang Tanah Yang Tidak Maksimal

Produksi Benih Kacang Tanah

Produksi benih kacang tanah sebesar 13 kg sangat tidak optimal. Dari data pada tabel 1 diperoleh bahwa rendemen benih kacang tanah sebesar 23 %. Angka ini masih jauh dibawah standar yang ada yaitu 40 %. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya produksi benih kacang tanah.

Faktor pertama adalah rendahnya produksi kacang tanah sebagai calon benih kacang tanah. Produksi kacang tanah yang hanya sebesar 55.75 kg atau sebesar 871 kg/ha masih dibawah standar yang ada yaitu 1.5-2.5 ton/ha. Faktor-faktor penyebab rendahnya produksi kacang tanah telah dijelaskan sebelumnya.

Faktor kedua adalah tidak dilakukannya kegiatan roguging dengan maksimal. Sehingga banyak calon benih kacang tanah yang tidak sesuai dengan kriteria varietas tanaman kacang tanah yang ditanam. Pada akhirnya calon benih kacang tanah yang tidak sesuai kriteria harus dibuang yang menyebabkan rendahnya produksi benih kacang tanah.

Faktor ketiga adalah kegiatan pasca panen yang kurang baik, diantaranya pengeringan yang kurang optimal. Kegiatan pengeringan tidak dilakukan secara intensive setelah panen sehingga calon benih harus disimpan masih dalam kadar air yang tinggi. Penyimpanan clon benih kacang tanah dalam keadaan kadar air yang masih tinggi menyebabkan calon benih banyak yang terserang cendawan sehingga calon benih yang terserang cendawan harus segera dipisahkan. Kegiatan pengeringan yang terlalu sering dan lama pun dapat menyebabkan terlalu rendahnya kadar air (KA) benih, sehingga bobot total benih menjadi semakin berkurang seperti yang terlihat pada tabel 2, 3, dan 4.

Tabel 3. KA Panen kering 1 (8/11/2008)

Ulangan W1(g) W1+B1 (g) BB (g) W2(g) W2+B2 (g) BK (g) KA (%)
1 0.6 3.6 3.0 0.6 3.5 2.9 3.3
2 0.7 4.1 3.4 0.6 3.8 3.2 5.8
3 1.9 4.7 2.8 2.0 4.7 2.7 3.6
Total 4.2

Tabel 4. KA Panen kering 2 (20/11/2008)

Ulangan W1(g) W1+B1 (g) BB (g) W2(g) W2+B2 (g) BK (g) KA (%)
1 0.8 3.6 2.8 0.8 3.5 2.7 3.6
2 0.8 3.6 2.8 0.8 3.4 2.6 7.1
3 0.6 2.8 2.2 0.6 2.7 2.1 4.5
Total 5.1

Tabel 5. KA Panen kering 3 (20/11/2008)

Ulangan W1(g) W1+B1 (g) BB (g) W2(g) W2+B2 (g) BK (g) KA (%)
1 1.5 4.8 3.3 1.5 4.7 3.2 3.0
2 1.1 3.6 2.5 1.1 3.6 2.5 0.0
3 0.9 3.2 2.3 0.8 3.0 2.2 4.3
Total 3.6

Keterangan :

W1 = Berat wadah sebelum dioven

B1 = Berat benih sebelum dioven

W2 = Berat wadah setelah dioven

B2 = Berat benih setelah dioven

Rata-rata KA benih kacang tanah yang diproduksi adalah 4.3 %. KA benih kacang tanah ini jauh dibawah KA kacang tanah yang baik, yaitu berkisar antara 9% – 12%.  Hal-hal tersebut menyebabkan produksi benih kacang tanah menjadi smakin sedikit.

Penyimpanan calon kacang tanah dilakukan di pada awalnya dilakukan di depan Laboratorium Processing Benih. Penyimpanan di tempat tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya produksi benih kacang tanah yang dihasilkan. Hal ini karena calon benih kacang tanah masih dapat terkena cipratan air hujan sehingga karung tampat penyimpanan calon benih kacang tanah menjadi lembab dan menyebabkan calon benih kacang tanah mudah terkena serangan cendawan.

Selain pengeringan dan penyimpanan, penyortiran merupakan salah satu kegiatan pasca panen yang menyebabkan sedikitnya produksi benih kacang tanah. Para penyortir masih kurang berpengalaman dalam kegiatan penyortiran, sehingga banyak calon benih yang menjadi terbuang saat penyortiran

Pemasaran

Pemasaran benih kacang tanah tidak dapat terlaksana dengan baik. Hal ini karena masih rendahnya kualitas benih yang dihasilkan. Hal ini terlihat dari daya berkecambah (DB) benih yang diproduksi. DB benih yang diproduksi tidak seragam, benih hasil panen pertama mempunyai DB lebih dari 90 %, namun benih hasil panen kedua tidak sampai 75 % seperti yang terlihat pada tabel 5.

Tabel 6. Hasil Pengujian Daya Berkecambah Benih Kacang Tanah

Ulangan Panen 1 Panen 2
3 HST 5 HST 3 HST 5 HST
1 22 22 18 19
2 24 24 21 16
3 23 23 18 19
4 22 22 21 21
5 22 23 15 15
DB (%) 90.4 91.2 74.4 72
DB rata-rata (%) 90.8 73.2

Keterangan :

Setiap ulangan terdiri atas 25 benih kacang tanah

Faktor utama yang menyebabkan hal ini adalah keterlambatan panen dan ditambah parah lagi dengan penanaman tanaman yang pada awalnya bukan untuk produksi benih kacang tanah. Kejelasan megenai varietas sangat menetukan kualitas atau mutu benih yang dihasilkan. Pada awal penanaman yang bertujuan untuk konsumsi ini menyebabkan menjadi tidak jelasnya varietas benih yang ditanam, walaupun diketahui bahwa yang ditanam adalah varietas gajah. Selain itu, kegiatan roguing yang tidak maksimal menyebakan hasil panen menjadi tidak seragam. Salah satu contoh adalah jumlah biji pada polong yang masih banyak yang hanya 1 dan 4 biji per polong. Hal ini tidak sesuai dengan kriteria benih varietas gajah yang dua biji per polong.

Survei pasar yang kurang baik pun menyebabkan kurang berhasilnya pemasaran benih kacang tanah. Mengetahui pasar dan mengetahui harga penjualan benih sebelum memproduksi benih dilakuakan dengan baik sehingga mengalami kesulitan dalam kegiatan pemasaran benih yang dihasilkan

Analisis Usaha Tani Produksi Benih Kacang Tanah

Secara keseluruhan produksi kacang tanah mengalami kerugian. Faktor utama yang menyebabkan kerugian tersebut adalah rendahnya produksi benih kacang tanah yang dihasilkan. Selain itu, mahalnya biaya dan tidak efisiennya penggunaan tenaga kerja juga menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya kerugian dalam produksi benih kacang tanah.

Berdasarkan studi pustaka yang dilakukan diketahui bahwa kacang tanah pada luasan satu hektar mampu menghasilkan produksi sebesar 2 ton polong basah. Bila kacang tanah tersebut dijual sebagai kacang konsumsi dengan harga Rp. 4,000,- per kilogram, maka pendapatan yang diperoleh adalah 8 juta. Ketika kacang tanah dipersiapkan menjadi benih, maka akan terjadi penyusutan sebesar 40% dari total produksi menjadi 800 kg. Pendapatan yang diperoleh ketika kacang tanah dijual sebagai benih dengan harga jual Rp. 15,000,- per kilogram, diperoleh pendapatan sebesar 12 juta. Namun, kegiatan budidaya dan pasca panen yang tidak baik menyebabkan rendahnya jumlah benih kacang tanah yang dihasilkan. Keuntungan yang seharusnya diperoleh akhirnya menjadi tidak dapat dirasakan.

No Uraian Satuan Volume Harga/satuan Jumlah
1. Sewa lahan M2 640 75.000/300 m2 165,000
2. Benih Kacang Kg 7 17,500 122,500
3. Furadan Kg 1,5 10,000 15,000
4. Plastik pack 1 9,500 9,500
5. Pengolahan Tanah HOK 9 25,000 225,000
6. Upah Tanam HOK 2 20,000 40,000
TOTAL 577,000
7. Produksi kg 13 15,000 195,000
Benefit -382,000
R/C 0,34

Tabel 7. Analisis Usaha Tani Produksi Benih Kacang Tanah

Tabel 8. Perbandingan  pendapatan produksi normal dengan Praktik Usaha Pertanian (PUP)

Produksi Harga Jual (Rp) Pendapatan (640 m2) Pendapatan 1 ha
640 m2 1 ha
Produksi Normal Konsumsi 128 kg 2,000 kg 4,000 512,000 8,000,000
Benih(Penyusutan 40%) 51,2 kg 800 kg 15,000 768,000 12,000,000
Produksi PUP Konsumsi 57 kg 891 kg 4,000 288,000 3,564,000
Benih 13 kg 203 kg 15,000 195,000 3,045,000
Bila (Penyusutan 40%) 23 kg 356 kg 345,000 5,340,000


KESIMPULAN DAN SARAN

Usaha produksi kacang tanah mempunyai mprospek yang sangat baik untuk diusahakan dimasa mendatang. Banyak faktor yang sangat menentukan dan mempengaruhi keberhasilan produksi benih kacang tanah. Kegiatan budidaya yang baik, penanganan pasca panen yang tepat, kualitas benih yang dihasilkan, dan pemasaran yang baik merupakan faktor kunci keberhasilan produksi benih kacang tanah.

Produksi Benih komoditi selain kacang tanah sebaiknya dicoba untuk dipratikumkan kepada mahasiswa, sehingga dapat menambah pengalaman mahasiswa dalam kegiatan produksi benih.

DEGREENING DAN CHILLING INJURING PADA CABAI DANJERUK NIPIS

Download pdf lengkap chilling injuring dan degreening klik disini..!!

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Masalah penanganan produk hortikultura setelah dipanen (pasca panen) sampai saat ini masih mejadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius baik dikalangan petani, pedagang, maupun dikalangan konsumen sekalipun. Walau hasil yang diperoleh petani mencapai hasil yang maksimal tetapi apabila penanganan setelah dipanen tidak mendapat perhatian maka hasil tersebut segera akan mengalami penurunan mutu atau kualitasnya. Seperti diketahui bahwa produk hortikultura relatif tidak tahan disimpan lama dibandingkan dengan produk pertanian yang lain.

Hal tersebutlah yang menjadi perhatian kita semua, bagaimana agar produk hortikultura yang telah dengan susah payah diupayakan agar hasil yang dapat panen mencapai jumlah yang setinggi-tingginya dengan kualitas yang sebaik-baiknya dapat dipertahankan kesegarannya atau kualitasnya selama mungkin. Sehubungan dengan hal tersebut maka sangatlah perlu diketahui terlebih dahulu tentang macam-macam penyebab kerusakan pada produk hortikultura tersebut, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap penyebab kerusakannya. Selanjutnya perlu pula diketahui bagaimana atau upaya-upaya apa saja yang mungkin dapat dilakukan untuk mengurangi atau meniadakan terjadinya kerusakan tersebut sehingga kalaupun tejadi kerusakan terjadinya sekecil mungkin.

Pengaturan suhu dan penggunaan zat pengatur tumbuh yang tepat dapat mengurangi atau meniadakan terjadinya kerusakan pada komoditi hortikultura. Namun, jika pelaksaan keduanya tidak tepat malah akan menyebabkan kerusakan dan penurunan kualitas produk seperti chilling injury dan degreening. Sehingga pengetahuan akan pemanfaatan teknologi tersebut menjadi penting untuk dipelajari.

Tujuan

Kegiatan pratikum kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan pemberian gas etilen kepada beberapa jenis buah-buahan.

TINJAUAN PUSTAKA

Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia, Swingle.)

Tanaman ini termasuk ke dalam famili Rutaceae. Jeruk nipis merupakan salah satu jenis citrus Geruk. Tanaman ini berupa perdu dengan tinggi ± 3,5 m. Batang tanaman jeruk nipis berkayu, bulat, berduri, putih kehijauan. Daunnya majemuk, elips alau bulat telur, pangkal membulat, ujung turnpul, tepi beringgit, panjang 2,5-9 cm, lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, tangkai 5-25 mm, bersayap, hijau. Tanaman ini memiliki bunga majemuk atau tunggal, di ketiak daun atau di ujung batang, diameter 1,5-2,5 cm, kelopak bentuk mangkok, berbagi empat sampai lima, diameter 0,4-0,7 cm, putih kekuningan, benang sari 0,5-0,9 cm, tangkai sari 0,35-0,40 cm, kuning, bakal buah bulat, hijau kekuningan, tangkai putik silindris, putik kekuningan, kepala putik bulat, tebal, kuning, daun mahkota empat sampai lima, bulat telur atau lanset, panjang 0,7-1,25 cm, lebar 0,25-0,50 cm, putih. Buahnya berupa buni dengan diameter 3,5-5 cm, masih muda hijau setelah tua kuning. Bijinya berbentuk bulat telur, pipih, putih kehijauan. Akar tanaman ini berupa akar tunggang, bulat, dan berwarna putih kekuningan. Tanaman jeruk nipis pada umur 2 1/2 tahun sudah mulai berbuah. Tanaman jeruk umumnya menyukai tempat-tempat yang dapat memperoleh sinar matahari langsung.

Jeruk nipis mengandung unsur-unsur senyawa kimia yang bemanfaat. Misalnya: limonen, linalin asetat, geranil asetat, fellandren dan sitral. Di samping itu jeruk nipis mengandung asam sitrat. 100 gram buah jeruk nipis mengandung vitamin C 27 mg, kalsium 40 mg, fosfor 22 mg, hidrat arang 12,4 g, vitamin B 1 0,04 mg, zat besi 0,6 mg, lemak 0,1 g, kalori 37 g, protein 0,8 g dan air 86 g.

Cabai Merah

Cabai atau cabai merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan.

Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur).

Tanaman cabai cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak tergenang air ; pH tanah yang ideal sekitar 5 – 6. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret – April). Untuk memperoleh harga cabai yang tinggi, bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun ada resiko kegagalan. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit . Buah cabai yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil bijinya: Untuk areal satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabai (300-500 gr biji).

Nutrisi cabai merah cukup banyak, khususnya kandungan vitamin A dan C di dalamnya. Dalam 100 g cabai merah terdapat vitamin C atau asam askorbat 190 mg. Sedangkan kandungan vitamin A adalah 5700 IU. Sedangkan kandungan mineral cabai merah antara lain kalsium, besi, magnesium, phospor, potassium, seng, dan lain-lain.

Chilling Injury

Chilling injury merupakan kerusakan akibat lingkungan pada suhu lingkungan rendah.  Disamping itu akan menyebabkan buah berkurang kekerasannya, aroma, dan umur simpan. Buah akan menjadi lunak sehingga aroma buah akan berubah menjadi agak busuk dan umur simpan menjadi pendek serta dapat mendatangkan mikroba dan akhirnya buah akan busuk. Setelah buah mengalami perubahan fisik / kerusakan maka nilai jual di pasaran akan turun bahkan tidak dapat dijual karena tidak bisa lagi dikonsumsi sebagaimana layaknya.

Degreening

Proses degreening yaitu proses perombakan warna hijau pada kulit jeruk diikuti dengan proses pembentukan warna kuning jingga.

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti halnya lingkungan, tetapi juga oleh hormon yang ada didalam tanaman. Sejauh ini, peran hormon dalam tanaman belum mendapat perhatian khusus dari para petani kita. Padahal justru adanya hormon inilah yang bisa mempengaruhi tingkat produktifitas maupun kualitasnya.

Berkaitan dengan adanya hormon pada tanaman, seringkali kita mendengar istilah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Perbedaan keduanya terletak pada terminologi yang digunakan. Dimana hormon merupakan zat yang dihasilkan di dalam tanaman secara alamiah sedangkan ZPT merupakan zat yang disentesis secara buatan oleh manusia sehingga dapat dikatakan bahwa hormon pasti ZPT namun ZPT belum tentu hormon. ZPT disintesis secara buatan dengan harapan agar tanaman memacu pembentukkan hormon yang sudah ada di dalam tubuhnya atau dengan kata lain dia menggantikan fungsi dan peran hormon bila tanaman tersebut gagal atau kurang dapat memproduksinya secara baik.

Hormon tanaman itu sendiri terbagi dalam beberapa kelompok diantaranya auxin, giberalin, sitokinin, ethylen dan inhibitor (growth retardant). Ethylen merupakan hormon yang berupa gas yang dalam kehidupan tanaman aktif dalam proses pematangan buah. Berkaitan dengan hormon tanaman, maka jenis ZPT yang beredar di pasaran pun beragam. Contoh ZPT diantaranya IBA, NAA, 2,4-D yang termasuk golongan hormon auksin, GA3 yang masuk hormon perangsang pertumbuhan golongan gas, Kinetin masuk golongan hormon sitokinin. Etephon (Protephon) termasuk golongan ethylen serta asicid acid yang termasuk golongan inhibitor.
Untuk tanaman yang menghasilkan buah seperti melon, semangka, timun, cabe, tomat dan lain sebagainya, peran hormon ethylen untuk merangsang cepatnya proses pematangan buah sangat dibutuhkan, apalagi saat petani dituntut untuk segera memenuhi kebutuhan produk tersebut sebagai akibat permintaan pasar yang besar. Meskipun pada prinsipnya setiap tanaman sudah memiliki hormon tersebut namun karena kondisi yang kurang kondusif baik yang dipengaruhi oleh internal maupun eksternal tanaman membuat zat-zat perangsang pertumbuhan seperti ethylen tanpa bantuan dari luar tentu tidak akan berjalan secara lancar.

Ethylen seperti yang disinggung sebelumnya merupakan hormon yang berbeda dengan hormon lain karena dalam keadaan normal, ethylen berbentuk gas (C2H4) dengan struktur kimia yang sangat sederhana. Ethylen ini sendiri dihasilkan dari proses respirasi buah, daun dan jaringan lainnya didalam tanaman. Apabila ZPT ini digunakan dalam jumlah yang cukup besar, maka hormon ini dapat digunakan untuk mempercepat pemasakan buah. Dengan adanya ZPT yang mengandung ethephon, maka kinerja sintetis ethylen berjalan optimal sehingga tujuan agar buah cepat masak bisa tercapai.

Dengan semakin pentingnya zat pengatur tumbuh dalam upaya merangsang hormon dalam tanaman, kini banyak beredar jenis- ZPT dengan fungsi dan kelebihan masing-masing. Untuk mempercapat pemasakan buah maka penggunaan ZPT berbahan aktif etephon merupakan langkah yang tepat.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Praktikum

Kegiatan pratikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 28 Oktober 2008 di Laboratorium Hortikultura Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Sedangkan pengamatannya dilaksanakan dalam waktu satu minggu.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada percobaan Degreening adalah jeruk nipis dan ETP 40 ppm. Pada percobaan Chilling Injury bahan yang digunakan adalah cabe merah besar dan kertas koran. Alat pendingin digunakan sebagai tempat menyimpan bahan.

Metode Pratikum

Degreening

1.      Siapkan jeruk nipis, usahakan ukuran dan warnanya seragam (hijau tua)

2.      Siapkan larutan ETP 40 ppm encerkan dalam air 1 liter

3.      Masukkan jeruk nipis pada larutan ETP yang telah diencerkan, diamkan beberapa saat

4.      Setelah itu diangkat dan ditiriskan, simpan pada suhu ruangan

5.      Amati perubahan warna, kelunakan, dan aroma.

Chilling Injury

1.      Siapkan cabe merah besar yang masih keras (bagus, tidak cacat)

2.      Bungkus dengan koran, tipis saja

3.      Simpan dalam lemari pendingin dengan suhu 3 derajat

4.      Amati perubahan warna, kelunakan, dan aroma.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Grafik 1. Pola Hubungan Penggunaan Dosis Etephon terhadap Perubahan Warna Jeruk Nipis

Grafik 2. Pola Hubungan Penggunaan Dosis Etephon terhadap Perubahan Warna Jambu biji

Grafik 3. Pola Hubungan Penggunaan Dosis Etephon terhadap Perubahan Warna Pisang

Chilling Injury

Pada praktikum ini perlakuan chilling injury pada tanaman hortikultura ( buah-buahan), seperti: mentimun, cabe besar, wortel, tomat, papaya, mangga dan jambu biji. Telah kita ketahui bahwa sifat dari tanaman hortikultura adalah produk masih hidup sehingga masih melakukan kegiatan respirasi dan metabolisme. Bila lingkungan dalam penyimpanan atau bisa dikatakan perlakuan pasca panen tidak sesuai/ lingkungan yang tidak sesuai maka akan menyebabkan kerusakan pada komoditas hortikultura tersebut. Sehingga untuk mempertahankan kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen antara lain: penyimpanan suhu rendah dapat menurunkan laju respirasi, mengurangi efek etilen yang menyebabkan kematangan dengan cepat. Lingkungan yang tidak mendukung dapat mneyebabkan kerusakan yang produk. Misalnya saja Chiling injury merupakan kerusakan produk yang diakibatkan oleh suhu lingkungan yang terlalu rendah sehingga dapat menurunkan kualitas nilai produk untuk dipasarkan. Akibat yang ditimbulkan chilling injury, misalnya bintik-bimtik pada produk, perubahan warna,  pencoklatan, pematangan yang tidak normal, bahkan kebusukan pada produk.

Suhu penrilyimpanan untuk setiap komoditas berbeda-beda, sehingga pada saat satu produk tersebut sudah mengalami kerusakan fisik maka belum tentu produk yang lain juga mengalami kerusakan. Karena produk yang mnegalami kerusakan suhu penyimpanannya sudah melewati batas sedangkan produk lain masih bisa mentolerin.  Pada setiap kelompok berbeda-beda komoditasnya dan suhu penyimpanannya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hampir seluruh komoditas pada suhu 3oC  buah tetap pada kondisi pada awalnya, sedangkan pada suhu 6OC buah sudah mengalami kerusakan fisik. Pada cabe besar ketika buah matang, tekstur permukaan luar licin dan mengkilat. Proses pematangan hingga warna merah dibaregi oleh akumulasi gula sederhana di dalam kulit buah. Dimana warna merah itu sendiri dipengaruhi oleh pigmen karotenoid. Kadang waktu pemanenan etepon digunakan untuk mempercepat pembentukan warna buah. Pada suhu penyimpanan 3OC mengalami agak keriput pada kulit buah dan adanya bintik hitam seperti antraknosa namun masih segar.kemudian untuk komoditas lain bagian dalam buahnya juga mengalami kerusakan seperti kelunakan buah. Sehingga dapat dikatakan bahwa buah akan mengalami perubahan warna menjadi kuning, kulit agak keriput, lunak.

Chilling injury merupakan kerusakan akibat lingkungan pada suhu lingkungan rendah.  Disamping itu akan menyebabkan buah berkurang kekerasannya, aroma, dan umur simpan. Buah akan menjadi lunak sehingga aroma buah akan berubah menjadi agak busuk dan umur simpan menjadi pendek serta dapat mendatangkan mikroba dan akhirnya buah akan busuk. Setelah buah mengalami perubahan fisik / kerusakan maka nilai jual di pasaran akan turun bahkan tidak dapat dijual karena tidak bisa lagi dikonsumsi sebagaimana layaknya. Oleh karena itu, perlu adanya pencegahan kerusakan akibat chilling injury, antara lain: peningkatan kelembaban ruang simpan, pemanasan ringan, penerapan penggunaan suhu penyimpanan bertahap, dan penggunaan kalsium. Dengan demikian, produk hortikultura dapat dijual di pasar dan tidak menurunkan kualitas produk bila disimpan pada suhu rendah.

Degreening.

Degreening pada buah jeruk nipis dengan pemberian etephon dengan dosis 10 ppm dan 20 ppm memberikan hasil warna yang tidak berbeda jauh. Sedangkan pada perlakuan etephon 10 ppm lebih cepat melunakkan kulit buah jeruk nipis. Pada buah jambu biji etephon dengan dosis 20 ppm lebih cepat membuat warna buah jambu biji berubah dari hijau menjadi kuning. Sedangkan pada pemberian etephon 10 ppm lebih cepat melunakkan buah jambu biji jika dibandingkan dengan perlakuan etephon 20 ppm. Pada buah pisang dengan etephon 10 ppm membuat warna buah menjadi kuning kecoklatan. Hal ini menunjukkan bahwa etephon mempercepat kematangan buah pisang dan menyebabkan aroma buah lebih tajam jika dibandingkan dengan kontrol (tanpa pemberian etephon).

Gas asetilen pada proses penguningan buah jeruk akan merangsang pembentukan gas etilen dalam sel. Gas etilen merombak klorofil pada kulit jeruk dan mensintesis pigmen karotenoid. Aktivitas perombakan tersebut hanya terjadi pada lapisan subepidermal kulit buah. Hasilnya kulit buah yang semula hijau berubah jadi jingga tanpa mengubah rasa buah. Hal itu dibuktikan oleh Dr Mohamad Soedibyo dan Ir Wisnu Broto, MS, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian di Bogor. Dalam penelitiannya pada 1992 Soedibyo menunjukkan degreening dengan menggunakan gas asetilen tidak mengubah nilai gizi jeruk. Sementara hasil penelitian Wisnu pada 1988, gas asetilen tidak mempengaruhi kadar gula total, kadar asam total, dan kadar vitamin C.

Degreening bisa diterapkan pada semua jenis jeruk. Namun, lazimnya jenis jeruk keprok dan mandarin karena ketika didegreening warna cenderung jadi jingga. Beda dengan siem yang berubah jadi kuning. ‘Warna kuning umumnya tidak disukai konsumen karena buah dianggap sudah terlalu matang atau sudah lama dipanen,’ kata Roedhy Poerwanto yang meraih gelar doktor dari Ehime University, Shikoku, Jepang.

Proses penguningan kulit buah itu tidak mempengaruhi kematangan buah. Oleh karena itu jeruk yang akan dikuningkan harus memiliki kematangan yang cukup sehingga kualitas rasanya baik: manis. Warna kuning sekurang-kurangnya 70%. Dengan begitu warna yang dihasilkan akan lebih menarik, jingga mengkilap. Bila kurang dari itu biasanya kuningnya pucat sehingga tak menarik, kata Wisnu.

Sementara menurut Ir Retno Pangestuti, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, jeruk yang masih berwarna hijau pun bisa didegreening dengan syarat sudah matang. Namun, biasanya semburat warna hijau yang digunakan 10 -20%. Kalau kurang dari itu kekuningan buah dalam degreening tidak seragam, kecuali ada pemilihan buah sebelumnya.

Secara teoritis dari segi fisiologi tumbuhan disebutkan bahwa mekanisme kerja ethephon dalam proses pemasakan buah sebagai berikut:

1.      Pada tingkat molekular C2H4 (ethephon) dalam proses klimaterik , buah terikat pada ion logam dan enzim yang berfungsi untuk mempercepat proses respirasi untuk merubah karbohidrat menjadi gula sehingga proses pemasakan menjadi lebih cepat. Hal ini akan berpengaruh pada aroma, warna dan rasa buah yang diberi perlakuan ethephon.

2.      Adanya ethephon menyebabkan enzim lebih mudah mencapai substrat karena akan mempercepat proses respirasi di dalam buah dan mempercepat pula proses perubahan karbohidrat menjadi gula sehingga proses pemasakan menjadi lebih cepat. Hal ini akan berpengaruh pada aroma, warna dan rasa buah yang telah diberi perlakuan etephon.

3.      Ethephon menyebabkan enzim lebih mencapai substrat , karena akan mempercepat pula proses respirasi di dalam buah dan mempercepat pula proses perubahan karbohidrat menjadi gula pada proses klimaterik dan penuaan buah.

4.      Prothephon pada tingkat sel akan menyebabkan melokeul C2H4 lebih mudah masuk dalam kedalam membran karena C2H4 mampu menambah permeabilitas membran sel maupun membran-membran bagian sub seluler sehingga membran substrat akan lebih mudah dicapai oleh enzim respirasi karena C2H4 mudah larut dalam air dan lemak.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Jeruk nipis. www.IPTEKnet.com. [20 November 2008].

Anonim. 2008. Citrusa urantium.http://www.smecda.com. [20 November 2008].

Anonim. 2008. Cabai. www.wikipedia.com. [20 November 2008].

Anonim. 2008. Cabai merah. http://www.cabai merah\dapur mlandhing » Cabai     Merah.htm. [20 November 2008].

Apriyanti, R. N. 2008. Pergi hijau berkat karbit. http://www.trubus-online.co.id.    [24 November 2008].

Beveridge, T. H. J. (2003).Maturity and Quality Grades for Fruits and Vegetables”. In Handbook of Postharvest Technology, cereals, fuits, vegetables, tea and spices. Ed. A. Chakraverty, .. Mujumdar, G.S.V. Raghavan and H. S. Ramaswamy. Marcel Dekker, Inc. New York.

Pantastico, E.B. 1975. Postharvest Phyisiology, Handling and Utilization of Tropical and Subtropical Fruits and Vegetables. The Avi Publishing Company, Inc. Westport, Conecticut

Rubatzky,E  Vincent and Mas Ymaguchi. 1999. Sayuran Dunia 3. Prinsip, Produksi dan Gizi. ITB Bandung.320 hal.

Tjionger, Menas. 2008. Prothephon 480 SL biar melon cepat masak dan        berkualitas. www.etephon\hal1001.htm. [20 November 2008].

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE