Posts Tagged ‘sorghum’

PENGARUH INDUKSI MUTASI IRADIASI SINAR GAMMA PADA PADI, CABAI, SORGUM, DAN KEDELAI

download lengkap pdf Pengaruh Iradiasi klik disini….!!!

PENGARUH INDUKSI MUTASI IRADIASI SINAR GAMMA PADAPADI, CABAI, SORGUM, DAN KEDELAI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Padi, sorgum, kedelai, dan cabe merupakan termasuk komoditi penting di Indonesia. Luas pertanaman padi di Indonesia diperkirakan mencapai 11–12 juta ha, yang tersebar di berbagai tipologi lahan seperti sawah (5,10 juta ha), lahan tadah hujan (2,10 juta ha), ladang (1,20 juta ha), dan lahan pasang surut (Susanto, et al., 2003). Sorgum merupakan merupakan salah satu komoditi unggulan untuk meningkatkan produksi bahan pangan dan energi, karena keduanya dapat diintegrasikan proses budidayanya dalam satu dimensi waktu dan ruang (Sungkono, et al., 2009). Kebutuhan   kedelai secara nasional per tahun 2004 sebanyak 2.955.000 ton sedangkan produksi dalam negeri hanya 1.878.898 ton (PDIN BATAN). Pada  saat  tertentu,  kebutuhan  cabai  sangat tinggi  sehingga  produksi  nasional  tidak  mampu memenuhi  permintaan  yang  selalu  bertambah  dari  tahun ke tahun (Suharsono, et al., 2009).

Pengembangan varietas unggul pada tanaman padi, sorgum, kedelai, dan cabai perlu terus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam pengembangan varietas unggul adalah dengan melakukan induksi mutasi dengan iradiasi sinar gamma. Induksi mutasi dengan iradiasi sinar gama dapat digunakan dalam pengembangan varietas unggul tanaman anyelir (Aisyah, et al., 2009), dan sorgum.

Mutasi adalah perubahan materi genetik, yang merupakan sumber pokok dari semua keragaman genetik dan merupakan bagian dari fenomena alam (Aisyah, 2006). Mutasi dapat terjadi secara spontan di alam, namun peluang kejadiannya sangat kecil, yaitu sekitar 10-6 (Aisyah, 2009). Induksi mutasi dapat dilakukan dengan menggunakan mutagen kimia seperti EMS (ethylene methane sulfonate), NMU (nitrosomethyl urea), NTG (nitrosoguanidine), dan lain-lain) atau mutagen  fisik  (seperti  sinar gamma,  sinar X, sinar neutron dan lain-lain). Akan tetapi mutasi dengan iradiasi pada bagian vegetatif  tanaman memperlihatkan hasil  yang  lebih  baik  dibandingkan  perlakuan  dengan mutagen  kimia (Aisyah, 2009).

Dosis iradiasi yang digunakan untuk menginduksi keragaman sangat menentukan keberhasilan terbentuknya tanaman mutan. Broertjes  dan  Van  Harten  (1988)  melaporkan kisaran  dosis  radiasi  sinar  gamma  pada  berbagai  jenis tanaman hias,  dan  untuk  tanaman  anyelir  kisaran  yang telah  dicobakan  berada  pada  selang yang masih  cukup lebar, yaitu  antara 25-120 gray. Jika iradiasi dilakukan pada benih, pada umumnya kisaran dosis yang  efektif lebih tinggi dibandingkan jika dilakukan pada bagian tanaman lainnya. Semakin banyak kadar oksigen dan molekul air (H2O) dalam materi yang diiradiasi, maka akan semakin banyak pula radikal bebas yang terbentuk sehingga tanaman menjadi lebih sensitif (Herison, et al., 2008). Untuk  itu maka perlu dicari  dosis  optimum  yang  dapat  efektif menghasilkan tanaman mutan  yang pada  umumnya  terjadi  pada  atau  sedikit  dibawah  nilai LD50  (Lethal  Dose  50).  LD50  adalah  dosis  yang menyebabkan  50%  kematian  dari  populasi  yang diradiasi.

Tujuan

Tujuan dari dilakukannya pratikum ini adalah:

1.      Mengetahui pengaruh berbagai dosis iradiasi sinar gamma terhadap pertumbuhan benih tanaman padi, kedelai, sorgum, dan cabai

2.      Mengetahui tingkat radiosensitivitas benih tanaman padi, kedelai, sorgum, dan cabai

3.      Mengetahui LD50 benih tanaman padi, kedelai, sorgum, dan cabai

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Padi

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman ini berasal daru dua benua, yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Luas pertanaman padi di Indonesia diperkirakan mencapai 11–12 juta ha, yang tersebar di berbagai tipologi lahan seperti sawah (5,10 juta ha), lahan tadah hujan (2,10 juta ha), ladang (1,20 juta ha), dan lahan pasang surut (Susanto, et al., 2003). Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia.

Terdapat 25 spesies Oryza. Jenis yang paling terkenal adalah O. sativa dengan dua subspesies. Pertama, adalaj Japonica (padi bulu) yang ditanam di daerah subtropis. Kedua, indica (padi cere) yang ditanam di daerah tropis. Adaptasi Japonica yang berkembang di beberapa daerah di Indonesia disebut sebagai subspesies javanica.

Kegiatan penelitian tanaman padi sawah dengan teknik mutasi telah banyak dilakukan, institusi BATAN sendiri telah berhasil menciptakan varietas baru melalui pemuliaan dengan teknik mutasi ini. Contoh keberhasilan tersebut adalah dilepaskannya beberapa varietas padi diantaranya adalah; Atomita 1, Atomita 2, Atomita 3, Atomita 4, Situgintung, Cilosari, Woyla, Meraoke, Kahayan, Winongo, Diah Suci, Yuwono dan Mayang. Beberapa varietas unggul tersebut telah dimanfaatkan dalam program persilangan padi.

Tanaman Kedelai

Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar (Glycine ururiencis) merupakan kedelai yang menurunkan berbagai kedelai yang ada pada saat ini, yaitu (Glycine max (L) Merril). Kedelai  merupakan   komoditas   pertanian   yang   sangat   penting.  Kedelai dapat dikonsumsi langsung dan dapat juga digunakan sebagai bahan baku agroindustri  seperti   tempe, tahu, tauco, kecap,susu kedelai  dan untuk keperluan industri pakan ternak. Kebutuhan kedelai nasional Indonesia meningkat tiap tahunnya. Saat ini kebutuhan perkapita  mencapai   13,41 kg.   Kebutuhan   kedelai   secara   nasional   per   tahun   2004 sebanyak 2.955.000 ton sedangkan produksi dalam negeri hanya 1.878.898 ton (PDIN BATAN).

Jumlah ketersediaan varietas unggul kedelai di Indonesia hingga sekarang masih terbatas. Karena itu BATAN dalam peran sertanya memperbanyak varietas unggul   terus melaksanakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah nasional tersebut. pemuliaan mutasi  kedelai  dimulai  pada  tahun 1977.  Sampai  dengan  tahun 1998 dengan memanfaatkan teknik mutasi radiasi  telah dihasilkan 3 vareietas unggul  kedelai yaitu Muria dan Tengger, yang dirilis pada tahun 1987 dan varietas Meratus yang dirilis pada tahun 1998. Hasil dari kegiatan litbangyasa di bidang kekacangan ini agak lambat karena penelitian  lebih difokuskan pada varietas padi  yang merupakan bahan pangan utama dan lebih memerlukan perhatian untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional.

Pada tahun 2004 yang lalu BATAN kembali merilis varietas unggul baru kedelai setelah  beberapa tahun tidak merilis varietas sejak tahun 1998. Varietas baru ini merupakan   hasil   persilangan   dari   galur  mutan   No.214 dengan  Galur  Mutan 23-D (dihasilkan dari iradiasi   sinar Y terhadap varietas Guntur). Varietas  ini  diberi  nama Rajabasa dan dilepas sebagai varietas unggul melalui SK Menteri Pertanian No. 171/KPTS/LB 240/3/2004.

Tanaman Sorgum

Sorgum (Sorghum bicolor L.) adalah tanaman serealia yang potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah marginal dan kering di Indonesia. Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain. Selain itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, sehingga sangat baik digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif. Terkait dengan energi, di beberapa negara seperti Amerika, India dan Cina, sorgum telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar etanol (bioetanol). Sorgum merupakan merupakan salah satu komoditi unggulan untuk meningkatkan produksi bahan pangan dan energi, karena keduanya dapat diintegrasikan proses budidayanya dalam satu dimensi waktu dan ruang (Sungkono, et al., 2009).

Sejumlah galur mutan tanaman sorgum dengan sifat-sifat agronomi unggul  seperti tahan rebah, genjah, produksi tinggi, kualitas biji baik, dan lebih tahan terhadap kekeringan telah dihasilkan dan dikoleksi sebagai plasma nutfah di PATIR-BATAN. Bekerjasama dengan Departemen Pertanian, penelitian dilanjutkan untuk pengujian secara multi lokasi dan multi musim, sebelum akhirnya galur-galur mutan diusulkan untuk dilepas menjadi varietas sorgum baru. Pengujian dilakukan di beberapa Propinsi termasuk Jabar, Jateng, DIY, Jatim, NTB, NTT, Sultra, Sulut, and Gorontalo.

Tanaman Cabai

Cabai (Capsicum spp.) berasal dari dunia baru, spesies C. annum berasal dari meksiko, C. frutescens, C, baccatum, C. chinense, dan C. pubescens berasal dari Amerika Selatan. Lebih dari 100 spesies Capsicum telah diidentifikasi. Klasifikasi speies – speies tersebut berdasarkan pada karakter morfologi (utama bunga), dan dapa tidaknya dilakukan persilangan antar spesies, serta biji hibrida yang fertil. Pemuliaan cabai pertama dilakukan di Amerika tropis untuk kultivar cabai manis, sedangkan untuk cabai pedas, pemuliaannya baru berkembang akhir – akhir ini (Sanjaya, et al., 2002) .

Cabai merah (Capsicum annum) merupakan salah satu jenis  sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di  daerah tropika seperti di Indonesia. Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor dalam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya. Pada  saat  tertentu,  kebutuhan  cabai  sangat tinggi  sehingga  produksi  nasional  tidak  mampu memenuhi  permintaan  yang  selalu  bertambah  dari  tahun ke tahun (Suharsono, et al., 2009).

Induksi Mutasi Fisik dalam Pemuliaan Tanaman

Pemuliaan tanaman merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk memperbaiki sifat tanaman, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pemuliaan tanaman bertujuan untuk menghasilkan varietas tanaman dengan sifat-sifat (morfologi, fisiologi, biokimia, dan agronomi) yang sesuai dengan sistem budidaya yang ada dan tujuan ekonomi yang diinginkan. Pemuliaan tanaman akan berhasil jika di dalam populasi tersebut terdapat banyak variasi genetik. Variasi genetik dapat diperoleh dengan beberapa cara, yaitu koleksi, introduksi, hibridisasi, dan induksi mutasi (Crowder, 1986). Pemuliaan tanaman secara konvensional dilakukan dengan hibridisasi, sedangkan pemuliaan secara mutasi dapat diinduksi dengan mutagen fisik atau mutagen kimia.  Pada umumnya mutagen fisik dapat menyebabkan mutasi pada tahap kromosom, sedangkan mutagen kimia umumnya menyebabkan mutasi pada tahapan gen atau basa nitrogen (Aisyah, 2006)

Mutasi adalah suatu proses dimana suatu gen mengalami perubahan struktur (Crowder, 1986), sedangkan menurut Poehlman and Sleper (1995) mutasi adalah suatu proses perubahan yang mendadak pada materi genetik dari suatu sel, yang mencakup perubahan pada tingkat gen, molekuler, atau kromosom. Induksi mutasi merupakan salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan keragaman tanaman (Wulan, 2007). Mutasi gen terjadi sebagai akibat perubahan dalam gen dan timbul secara spontan. Gen yang berubah karena mutasi disebut mutan.

Mutasi  memiliki arti penting bagi pemuliaan tanaman, yaitu (1) Iradiasi memungkinkan untuk meningkatkan hanya satu karakter yang diinginkan saja, tanpa mengubah karakter yang lainnya. (2) Tanaman yang secara umum diperbanyak  secara vegetatif pada umumnya bersifat heterozigot yang dapat menimbulkan keragaman yang tinggi setelah dilakukannya iradiasi. (3) Iradiasi merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keragaman pada tanaman yang steril dan apomiksis (Melina, 2008). Mutasi juga dapat menghasilkan karagaman yang lebih cepat dibandingkan pemuliaan secara konvensional. Selain itu, mutasi juga dapat menghasilkan keragaman yang tidak dapat diprediksi dan diduga. Hal ini sangat baik dalam perkembangan tanaman hias. Pemuliaan dengan mutasi, selain mempunyai beberapa keunggulan juga memiliki beberapa kelemahan, dimana sifat yang diperoleh tidak dapat diprediksi dan ketidakstabilan sifat-sifat genetik yang muncul pada generasi berikutnya (Syukur, 2000).

Aplikasi induksi mutasi dengan mutagen fisik dapat dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu (a) iradiasi tunggal (acute iradiation), (b) chronic irradiation, (c) iradiasi terbagi (frationated irradiation), dan (d) iradiasi berulang (Misniar, 2008). Iradiasi tunggal adalah iradiasi yang dilakukan hanya dengan satu kali penembakan sekaligus. Chronic irradiation adalah iradiasi dengan penembakan dosis rendah, namun dilakukan secara terus-menerus selama beberapa bulan. Iradiasi terbagi adalah radiasi dengan penembakan yang seharusnya dilakukan hanya satu kali, namun dilakukan dua kali penembakan dengan dosis setengahnya sedangkan radiasi berulang adalah radiasi dengan memberikan penembakan secara berulang dalam jarak dan waktu yang tidak terlalu lama.

Dosis iradiasi yang digunakan untuk menginduksi keragaman sangat menentukan keberhasilan terbentuknya tanaman mutan. Broertjes  dan  Van  Harten  (1988)  melaporkan kisaran  dosis  radiasi  sinar  gamma  pada  berbagai  jenis tanaman hias,  dan  untuk  tanaman  anyelir  kisaran  yang telah  dicobakan  berada  pada  selang yang masih  cukup lebar, yaitu  antara 25-120 gray. Jika iradiasi dilakukan pada beni, pada umumnya kisaran dosis yang  efektif lebih tinggi dibandingkan jika dilakukan pada bagian tanaman lainnya. Semakin banyak kadar oksigen dan molekul air (H2O) dalam materi yang diiradiasi, maka akan semakin banyak pula radikal bebas yang terbentuk sehingga tanaman menjadi lebih sensitif (Herison, et al., 2008). Untuk  itu maka perlu dicari  dosis  optimum  yang  dapat  efektif menghasilkan tanaman mutan  yang pada  umumnya  terjadi  pada  atau  sedikit  dibawah  nilai LD50  (Lethal  Dose  50).  LD50  adalah  dosis  yang menyebabkan  50%  kematian  dari  populasi  yang diradiasi.

Radiasi Sinar Gamma

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel, atau gelombang elektromagnetik (foton) dari suatu sumber energi (BATAN, 2008). Radiasi energi tinggi adalah bentuk-bentuk energi yang melepaskan tenaga dalam jumlah yang besar dan kadang-kadang disebut juga radiasi ionisasi (BATAN, 2008) karena ion-ion dihasilkan dalam bahan yang dapat ditembus oleh energi tersebut (Crowder, 1986). Radiasi dapat menginduksi terjadinya mutasi karena sel yang teradiasi akan dibebani oleh tenaga kinetik yang tinggi, sehingga dapat mempengaruhi atau mengubah reaksi kimia sel tanaman yang  pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya perubahan susunan kromosom tanaman (Poespodarsono, 1988).

Radiasi memiliki beberapa tipe, yaitu radiasi sinar X, radiasi sinar gamma, dan radiasi sinar ultra violet (Crowder, 1986). Radiasi sinar gamma dipancarkan dari isotop radio aktif, panjang gelombangnya lebih pendek dari sinar X, dan daya tembusnya adalah yang paling kuat. Hidayat, (2004) mengatakan bahwa sinar gamma merupakan bentuk sinar yang paling kuat dari bentuk radiasi yang diketahui, kekuatannya hampir 1 miliar kali lebih berenergi dibandingkan radiasi sinar X.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Penanaman benih hasil iradiasi berbagai konsentrasi ditanam pada hari Selasa, 13 Desember 2010 di Lab Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, FAPERTA, IPB.

Bahan dan Alat

Bahan – bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

1.      Benih cabai

2.      Benih padi

3.      Benih sorgum

4.      Benih kedelai

5.      Media tanam jadi

Alat – alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

1.      Tray perkecambahan

2.      Label

3.      Alat tulis

4.      Alat ukur

5.      Gamma chamber 4000A

Metode Pelaksanaan

1.      Masukkan benih padi, cabai, sorgum, dan kedelai ke dalam plastik

2.      Radiasi benih – benih tersebut ke dalam gamma chamber 4000A dengan sumber radiasi Co60

3.      Kecambahkan benih dalam tray perkecambahan

4.      Amati daya tumbuh dan tinggi tanaman

5.      Bandingkan antar perlakuan

6.      Buat kurva respon LD50

HASIL DAN PEMBAHASAN

LD50 pada Benih Padi, Kedelai, Sorgum, dan Cabai

Nilai LD50 dapat diperoleh dengan mengetahui pola respon daya tumbuh tanaman terhadap berbagai dosis iradiasi. Gambar 24 memperlihatkan berbagai respon daya tumbuh benih tanaman padi, kedelai sorgum, dan cabai.

(a)                                                                    (b)

(c)                                                                      (d)

Gambar 24. Kurva Respon Daya Tumbuh Brnih (a) Padi, (b) Kedelai, (c) Sorgum, dan (d) Cabai.

Gambar 24 memperlihatkan bahwa semakin tingi dosis iradiasi, dapat menurunkan daya tumbuh tanaman. Menurunnya daya hidup tanaman disebatkan karena adanya efek deterministik akibat iradiasi sinar gamma. Efek deterministik adalah efek yang disebabkan karena kematian sel akibat paparan radiasi (PPIN BATAN, 2008) (gambar 25). Efek deterministik timbul bila dosis yang diterima tanaman di atas dosis ambang (threshold dose) dan umumnya timbul beberapa saat setelah iradiasi. Tingkat keparahan efek deterministik akan meningkat bila dosis yang diterima lebih besar dari dosis ambang.

Gambar 25. Tanaman Cabai yang Gagal Tumbuh Akibat Iradiasi Sinar Gamma

Gambar 24 juga memperlihatkan respon daya tumbuh benih sorgum dan cabai sama – sama menghasilkan respon linear, sedangkan benih padi dan kedelai menghasil respon daya tumbuh kuadratik dan modified power. Persamaan masing – masing respon daya tumbuh, dan LD 50 nya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. LD50 pada Pada Benih Tanaman Padi, Kedelai, Sorgum, dan Cabai

Tanaman Persamaan Kurva Respon Kurva LD50 (Gy)
Padi y = 87.200424 – 0.026250303x- 0.00012054545 (x2) Quadratic Fit 515.298
Kedelai y = 70.751567 (0.99771429x) Modified Power 260.284
Sorgum y = 87.6975 – 0.10383333x Linear Fit 422.397
Cabai y = 102.13376 – 0.126588x Linear Fit 457.285

Tabel 3 memperlihatkan bahwa benih padi menghasilkan LD50 yang paling besar diantara yang benih lainnya yaitu 515.296 Gy. LD50 terkecil dihasilkan oleh benih kedelai, yaitu 260.284 Gy. Benih padi varietas Super Basmati memiliki LD50 sebesar 223 Gy (Cheema and Atta, 2003). Karthika and Lakshmi (2006) menjelaskan dalam laporannya bahwa benih kedelai CO1 dan CO2 memiliki LD50 sebesar 620 dan 583 Gy. Human and Sihono (2010) melaporkan bahwa benih sorgum memiliki LD50 sebesar 504 Gy.

LD50 pada benih di atas pada umunya tinggi, hal ini mengindikasikan bahwa baenih – benih tersebut memiliki radiosensitivitas yang rendah. Hal ini diduga karena kandungan air pada benih – benih tersebut sudah sangat rendah. Semakin banyak kadar oksigen dan molekul air (H2O) dalam materi yang diiradiasi, maka akan semakin banyak pula radikal bebas yang terbentuk sehingga tanaman menjadi lebih sensitif (Herison, et al., 2008). Rendahnya LD50 pada benih kedelai diantara benih lainnya diduga karena benih kedelai lebih cepat mengalami kerusakan. Hal ini karena benih kedelai memiliki kandungan protein yang tinggi dibandingkan benih – benih lainnya.

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman padi, kedelai, sorgum, dan cabai pada 14 MST dapat dilihat pada gambar 26. Gambar 26 memperlihatkan bahwa pada semua tanaman, semakin tinggi dosis iradiasi dapat menurunkan tinggi tanaman. Wuryan (2009) mengemukakan bahwa iradiasi sinar gamma berpengaruh nyata menurunkan rata-rata tinggi planlet beberapa genotipe krisan. Aisyah (2006) juga menjelaskan bahwa menurunnya tinggi kecambah adalah indikator yang paling umum digunakan untuk melihat efek mutagen, baik fisik maupun kimia.

Gambar 26. Grafik Tinggi Benih Padi, Kedelai, Sorgum, dan Cabai pada Berbagai Dosis Iradiasi.

Penurunan tinggi tanaman tersebut dapat terjadi karena iradiasi dapat menyebabkan rusaknya kromosom tanaman, sehingga mengakibatkan terganggunya tanaman tersebut. Ionisasi akibat iradiasi dapat menyebabkan pengelompokan molekul – molekul sepanjang jalur ion yang tertinggal karena iradiasi yang dapat menyebabkan mutasi gen atau kerukan kromosom (Aisyah, 2006).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Iradiasi sinar gamma dapat menurunkan daya hidup padi, kedelai, sorgum, dan cabai. Terdapat 3 pola respon daya hidup yang dihasilkan dalam percobaan ini, yaitu: linear pada benih sorgum (y = 87.6975 – 0.10383333x ) dan cabai (y = 102.13376 – 0.126588x), kuadratik pada benih padi (y = 87.200424 – 0.026250303x – 0.00012054545 (x2)), dan modified power pada benih kedelai (y = 70.751567 (0.99771429x)).

Benih padi menghasilkan LD50 yang tertinggi yaitu 515.298, sedangkan LD50 terendah dihasilkan oleh benih kedelai, yaitu 260.284. Benih sorgum dan cabai menghasil LD50 yang hampir sama, yaitu 422.397 dan  457.285 Gy. Iradiasi sinar gamma juga dapat menurunkan tinggi kecambah benih padi, kedelai, sorgum, dan cabai.

Saran

Perlu dilakukan pengamatan sitologis terhadapa kecambah benih – benih yang diiradiasi, agar dapat terlihat jika terdapat mutasi baik pada tingkat gen atau tingkat kromosom.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, S. I. 2006. Mutasi induksi, hal. 159 – 178. Dalam S. Sastrosumarjo (Ed.) Sitogenetika Tanaman. IPB Press. Bogor.

Aisyah, S. I., H. Aswidinoor, A. Saefuddin, B. MArwoto, dan S. Sastrosumarjo. 2009. Induksi mutasi pada stek pucuk anyelir (Dianthus caryophyllus Linn.) nelalui iradiasi sinar gamma. J. Agron. Indonesia. 37 (1) : 62 – 70.

BATAN. 2008. Radiasi. http://www.batan.go.id/organisasi/kerjasama.php. 19 Desember 2008.

Cheema, A. A. and B. M. Atta. 2003. Radiosensitivity studies in Basmati rice. Pak. J. Bot. 35 (2) : 197 – 207.

Crowder, L. V. 1986. Mutagenesis. Hal 322 – 356. Dalam Soetarso (Ed). Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Herison, C., Rustikawati, Sujono H. S., Syarifah I. A. 2008. Induksi mutasi melalui sinar gamma terhadap benih untuk meningkatkan keragaman populasi dasar jagung (Zea mays L.). Akta Agrosia 11(1):57-62.

Hidayat, D. 2004. Terungkapnya Asal-Usul Sinar Kosmis. Tempo. 5 November 2004.

Human, S. and Sihono. 2010 Sorghum breeding for improved drought tolerance using induced mutation wiyh gamma irradiation. J. Agron. Indonesia. 38 (2) : 95 – 99

Karhika, R. and B. S. Lakshmi. 2006. Effect of gamma rays and EMS on two varieties of soybean. Asian Journal of Plant Sciences. 5 (4) : 721 – 724.

PDIN BATAN. Kedelai Varietas Unggul Baru Hasil Pemuliaan Mutasi Radiasi. http://www.warintek.ristek.go.id/nuklir/kedelai.pdf. [9 Januari 2011].

Poehlman, J. M., and D. A. Sleper. 1995. Breeding Field Crops. Iowa State University Press. Ames. 432 p.

Poespodarsono, S. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU IPB dan LSI-IPB. Bogor. 168 hal.

PPIN BATAN. 2008. Radiasi. http://www.batan.go.id/FAQ/faq_radiasi.php. [31 Oktober 2009]

Sanjaya, L., G. A. Wattimena, E. Guharja, M. Yusuf, H. Aswidinnoor, dan P. Stam. 2002. Keragaman ketahanan aksesi Capsicum terhadap antraknose (Colletotrichum capsici) berdasarkan penanda RAPD. Jurnal Bioteknologi Pertanian. 7 (2) : 37 – 42.Susanto, U., A. A. Daradjat, dan B. Suprihatno. 2003. Perkembangan pemuliaan padi sawah di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian. 22(3):125-131

Soedjono, S. 2003. Aplikasi mutasi induksi dan variasi somaklonal dalam pemuliaan tanaman. Jurnal Litbang Pertanian. 22(2) : 70-78.

Suharsono, M. Alwi, A. Purwito. 2009. Pembentukkan tanaman cabai haploid melalui induksi ginogenesis dengan menggunakan serbuk sari yang diiradiasi sinar gamma. J. Agron. Indonesia. 37 (2) : 123 – 129.

Sungkono, Trikoesoemaningtyas, D. Wirnas, D. Sopandie. S. Human. M. A. Yudiarto. 2009. Pendugaan parameter genetik dan seleksi galur mutan sorgum (Sorhum bicolor (L.) Moench) di Tanah Masam. J. Agron. Indonesia. 37 (3) : 220 – 225.

Syukur, S. 2000. Efek Iradiasi Gamma pada Pembentukan Variasi Klon dari Catharantus roseus [L.] Don. Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi. Biochemistry Biotechnology Lab. Andalas University Padang. Padang. 33-37.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE